
"Lihat tuh kelakuan si Ghina dan si Chiko, baru saja bercerai sudah terlihat jalan bareng. Terang-terangan pula, dasar gak tahu malu," ujar ibu Onih yang sedang berada di warung Bu Nining.
"Iya ya, mereka urat malunya sudah putus. Chiko juga mudah sekali tergoda oleh Ghina. Kasihan Azzura dan Azzam yang dikhianati sampai segitunya," sambung Bu Nining.
"Mereka memang pasangan gila. Cocok tuh, sama-sama tukang selingkuh."
Ghina yang sedang berada di dekat mobil Chiko mendengar perkataan ibu-ibu.
"Hei ibu-ibu rempong! Kalian pikir saya tidak dengar apa ayng kalian katakan? Saya dengar tahu. Emangnya kenapa kalau saya dekat dengan Chiko? Dia itu sudah tidak memiliki istri dan sedang menunggu persidangan, lalu apa gunanya kalian banyak bicara? Toh pembicaraan kalian tidak ada faedahnya." Ghina bertolak pinggang menatap sinis pada ibu-ibu yang sedang membeli sayuran itu.
"Ck, sombong banget sekarang mah. Mentang-mentang dekat dengan orang kaya seenaknya saja bicara begitu kepada kita. Memang tidak ada faedahnya membicarakan kamu dan perselingkuhan kamu dengan Chiko, tapi apa yang kamu bicarakan ini sebuah fakta yang nyata di depan mata. Bahwa kelakuan kamu dan Chiko sudah keterlaluan. Tidak punya hati!" ujar Bu Onih.
"Terserah saya dong, ini kehidupan saya dan kalian tidak berhak ikut campur. Lebih baik kalian urus saja kehidupan kalian sendiri dan jangan pernah mengurus kehidupan orang lain. Punya mulut kok rempong banget dasar kepo," balas Ghina sewot tidak terima ibu-ibu itu selalu memojokkannya.
"Daripada kamu tukang selingkuh dan tukang perebut suami orang. Semoga Allah memberi azab kepada kamu atas apa yang telah kalian lakukan."
"Saya tidak takut! Saya tunggu azab itu. Paling juga kalian yang akan kena azab julid," ujar Ghina suara tinggi seakan menantang hukuman dari Tuhan.
"Astaghfirullah! Itu mulut tidak memakan bangku sekolah ya? Ingat, Allah bisa murka sama kamu."
"Bodi amat, aku tidak peduli!" sentak Ghina semakin kesal. Dan pekikan Ghina terdengar ke dalam rumah sampai menyebabkan Chiko keluar.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba ribut di depan rumah ku?" Chiko keluar menanyakan permasalahan yang terjadi.
"Itu, tuh. Ibu-ibu di depan sana terus menyumpahkan kita terkena azab Tuhan. Aku 'kan kesal." Ghina mengadu pada Chiko.
"Kalian pantas mendapatkan hukuman karena kalian sudah berlaku jahat kepada orang-orang baik."
"Diam! Tidak ada yang boleh bicara lagi. Kalian urus saja urusan kalian dan jangan peduli kepada kami."
Perdebatan mereka dengan tetangga terus terjadi membuat Ghina merasa pusing saat mendengarnya. "Kok pusing sekali? Rasanya mau muntah."
Karena tidak bisa nahan mualnya, Ghina berlari ke arah ketan dan ia muntah-muntah.
"Si Ghina kenapa tuh muntah-muntah? Aneh banget," bisik Bu Onih.
"Iya, aneh. Apa mungkin di bunting?" celetuk tetangga lain.
"Apa? Ah yang bener?"
"Kita tidak tahu pasti, cuman tanda-tandanya seperti wanita yang sedang hamil. Dari pipinya, dadanya, dan bentuk tubuhnya menunjukkan layaknya orang hamil pada umumnya."
Chiko mendekati Ghina. "Kau kenapa? Tumben muntah-muntah begini?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini sering merasakan pusing dan juga mual. Aku tidak tahu penyebabnya apa. Cuman kali ini rasanya enek banget, mau muntah. Khwueekk ... khwueekk." Ghina kembali muntah. Wajahnya terlihat pucat sekali.
"Periksa saja, siapa tahu dia bunting," celetuk Bu Nining membuat Ghina dan Chiko terdiam.
"Bunting? Maksudnya aku hamil?" gumam Ghina terkejut dan mengingat terakhir kali dia datang bulan.
"Ck, dasar pezina. kamu yakin kalau kalian sudah melakukan tindakan asusila di luar pernikahan. Dasar tidak tahu malu, tidak takut kepada Allah, kalian malah berbuat seperti itu. Buktinya Ghina muntah-muntah dan bisa dipastikan Jika dia sedang hamil."
Ghina menatap Chiko. "Chiko, kalau aku hamil bagaimana?" tanya Ghina khawatir. Chiko diam dan pikirannya kacau.
"Tidak mungkin Ghina hamil! Jika Azzura tahu bagaimana? Pasti Azzura semakin membenciku. Tidak, ini tidak boleh terjadi."
"Yakin kau hamil?"
"Aku tidak tahu, tapi aku hanya melakukannya dengan mu," bisik Ghina takut terdengar para tetangga.
"Gugurkan kandungan itu!" ujar Chiko terdengar lantang membuat mereka tercengang.
"Apa?! Gugurkan!"
"Ghina hamil! Astaghfirullah mereka melakukan zina!"
__ADS_1