PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 50


__ADS_3

Fatimah terus saja memperhatikan Azzura yang sedang bermain bola dengan cucunya. Dia sempat kaget sudah bilang kalau dia seorang janda. Fatimah pikir Azzura yang ia tahu sebagai Zahra ia sangka gadis, ternyata sudah pernah bersuami.


Tadi mereka ingin bicara banyak hal, namun semuanya tidak jadi karena Umi Qulsum segera meminta menyantap makanan yang telah di siapkan. Dan sekarang Fatimah masih berada di sana setelah selesai berbincang-bincang mengenai donatur yang ia berikan.


Setelahnya, Fatimah dan Umi Qulsum memperhatikan Azzura dan beberapa santri wanita uang sedang mengajak Azriel main.


"Zahra memang seorang janda, janda di khianati oleh suaminya. Sedikit cerita, Zahra di khianati karena suaminya berpaling pada perempuan lain. Di satu sisi, Zahra tidak sanggup bertahan dengan pernikahan itu kala ada hal yang membuatnya tidak bisa terima. Zahra itu sebelumnya seorang non muslim, setelah tunggal di sini dia memutuskan hijrah dan memutuskan mengenakan cadar. Hatinya terlalu baik untuk semua orang. Meskipun banyak yang tidak menyukainya, meskipun banyak yang selalu sinis padanya, Zahra selalu diam tidak membalasnya. Kini, dia sedang belajar menjadi insan manusia yang sedang berjuang di jalan-NYA. Aku kagum pada Zahra yang begitu pandai belajar. Baru satu bulan tinggal di sini sudah bisa banyak hal." Umi Qulsum tersenyum kagum sekaligus senang pada Azzura. Dia menatap Azzura dengan binar mata bahagia.


"Dia seorang mualaf?"


"Iya, nama aslinya bukan Zahra, tapi Azzura Fatharani. Sejak memutuskan pindah, kami menyematkan nama Az-Zahra di belakangnya. Jadi namanya Azzura Fatharani Az-Zahra."


"Azzura?" lirih Fatimah berasa tidak asing dengan nama wanita itu. "Azzura? Namanya seperti tidak asing lagi di telingaku. Azzura? Azzura?" Fatimah mengingat-ingat nama itu hingga ia terbelalak menyadari sesuatu. "Azzura! Itu kan nama wanita yang pernah bertemu dengan Azzam. Wanita berpenampilan terbuka dan seorang wanita beda agama. Apa itu Azzura yang itu? Tapi tidak mungkin."


"Kapan kamu bertemu dengannya?" Fatimah ingin memastikan lagi mengenai Azzura.


"Hari Kamis pagi hari di kota B daerah xxx. Dia bilang ke kota B pas malam hari."


"Pakaian yang di kenakannya?" Fatimah masih kurang puas mendengar jawaban dari Umi Qulsum. Dia ingat betul bagaimana penampilan Azzura pada saat itu.


"Tengtop crop warna putih yang hanya menutupi dadanya dan celana jeans pendek sepaha dengan tindik di udelnya. Rambutnya di gelung asal dan mengenakan sepatu warna outih."


Deg..


"Itu penampilan Azzura."


"Oh iya, nanti sore kami mau ke kota J buat menghadiri peresmian rumah singgah Harapan indah milik Zahra. Kalau kamu pulang kita barengan saja, mampir juga ke sana boleh. Dari sini ada beberapa perwakilan yang ingin menyaksikan peresmian itu."


"Zahra memiliki rumah singgah?"


"Betul, rumah miliknya yang ia gunakan untuk menampung anak yatim piatu yang kurang beruntung. Zahra bilang, ruang itu terlalu besar dan sayang kalau tidak di tinggali. Daripada mubazir, Zahra memilih menjadikannya sebagai rumah singgah sebagai bentuk perhatian Zahra pada anak-anak kurang beruntung."


"Masyallah, sebaik itu dia." Tidak pernah menyangka dan tidak di sangka-sangka kalau Azzura yang ia hina pada saat itu menjelma menjadi wanita tertutup dengan segala kebaikannya.


Fatimah terus memperhatikan Azzura Nyang sedang membagikan bingkisan terhadap anak-anak kecil di sekitar sana. "Berbeda dari yang kemarin. Aku menyesal telah soudzon padanya dan telah menghinanya. Ternyata dia jauh lebih baik dari yang aku kira."


"Hahahaha mamma mam." celoteh Azriel nampak bahagia berada di dekat Azzura.

__ADS_1


"Azriel mau mamam?" tanya Azzura.


"Mamamm," balas Azriel ntah kenapa bayi sembilan bulan itu begitu pandai dan pintar bicara.


"Uuuhh gemesin banget sih. Tinggu sebentar ya," kata Azzura seraya mengambil kue yang ada di meja.


"Aaaa ini mamamnya." Azzura menyuapi Azriel dan balita itu bertepuk tangan seraya tersenyum riang gembira.


*****


Lain tempat.


"Loh, ini bakalan ada acara apa ya kok rumahnya dipasang spanduk rumah singgah harapan indah?" ucap Bu Ani memperhatikan rumah azura sudah dihias di luar dan terlihat gerbangnya memakai pita.


"Apa rumah ini dijadikan panti asuhan seperti namanya rumah singgah?" kata Bu Nining.


"Wah, bisa jadi itu. Mungkin ini Neng Acura yang mengusulkan."


"Kalau benar, sungguh mulia sekali hatinya."


"Permisi Bu," sapa Sheila.


Sheila tersenyum ramah. "Maaf mengganggu, saya perwakilan dari pemilik rumah mau mengundang ibu-ibu yang ada di tempat ini untuk hadir di peresmian rumah singgah yang akan di gelar besok sore. Mohon infokan kepada yang lainnya, ya Bu. Ini juga amanah undangan dari pemilik rumah kepada kalian semua."


"Masyallah, jadi ini beneran Azzura pemiliknya."


"Betul Bu. Mohon datang ya." kata Sheila terdengar ramah.


"Insyaallah kami akan datang, iya kan ibu-ibu."


"Pastinya kami datang. Kami juga rindu pada neng Azzura."


"Terima kasih atas kemurahan hatinya. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Ya silahkan silahkan." Sheila kembali ke rumah itu dan kembali berbicara dengan orang-orang yang bekerja mendekorasi rumahnya.


"Tidak menyangka kalau Azzura yang akan mendirikannya. Dia sungguh mulia sekali."

__ADS_1


"Betul itu, hatinya sangatlah baik. Semoga Allah memberikan Azzura kebahagiaan dan pasangan yang baik."


"Aamiin."


"Jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya besok."


"Sama, pasti dia baik-baik saja." Dan masih banyak lagi pembicaraan yang mereka bicarakan di warung Bu Nining seraya memperhatikan orang-orang bekerja di rumah Azzura.


*****


Lain halnya dengan Azzam yang penasaran dengan kinerja orang-orang kantor. Sudah hampir lima tahun dia tidak ke kantor dan menyamar menjadi orang biasa demi mendapatkan cinta yang tulus, kini Azzam kembali menyambangi kantornya dan menyamar menjadi orang biasa sebagai pekerja OB.


Azzam berkeliling tempat dan penampilannya berubah. Rambut gondrong pakai Wig, di pipi tempeli tompel, dan berkacamata sehingga tidak akan yang curiga jika dia pemilik kantor ADIGUNA CORPORINDO.


Azzam melangkah masuk memperhatikan para karyawan. Dan saat melewati ruangan OB, dia dipanggil seseorang.


"Hei OB baru ya?" tanya Ghina, Azzam menoleh dan ia langsung menunduk takut Ghina mengenalinya.


"Iya mbak."


"Berikan ini ke pak Gunawan! Saya lelah karena saya sedang hamil anaknya manager Chiko. Jadi kau antarkan minuman ini, ok!"


Azzam tertegun, "Hamil? Ghina hamil anaknya Chiko? Astaghfirullah ya Allah!"


"Buruan!" ujar Ghina kasar.


"Baik, Mbak." Namun, pas Ghina menyerahkan nampannya dan Azzam belum menerima, nampan itu sudah terjatuh.


Prank!


"Hei! Kau kerja tidak becus sekali. Dasar bodoh! Aku bisa dimarahi ini mah."


"Ada apa ini?" ujar Chiko mendengar keributan.


"Ini pak, OB ini tidak becus kerja."


"Ck, baru saja pertama kerja sudah berbuat keributan. Bersihkan!" Chiko mendorong bahu Azzam.

__ADS_1


"Ternyata begini kerja mereka!"


__ADS_2