
Alden mengantar Aqila pulang setelah makan malam romantis mereka. Mama Kinanti sengaja menunggu kehadirannya. Melihat putrinya yang pulang dengan senyum semringah, wanita yang telah melahirkan Aqila itu merasa sangat bahagia.
Aqila langsung memeluk mamanya. Dia terus saja tersenyum mengingat makan malam tadi. Setelah memasangkan cincin ke jari manisnya, Alden mengajak Aqila berdansa diiringi musik. Wanita itu tidak mengira jika Alden begitu romantis dan mempersiapkan makan malam serta lamaran yang begitu indah.
"Sepertinya anak mama sangat bahagia," ucap Mama dengan tersenyum.
"Alden itu ternyata sangat romantis. Banyak sisi lain Al yang baru aku ketahui, Ma. Di kantor dia begitu dingin dan hanya bicara seperlunya. Dia sangat pemarah jika ada karyawan yang melakukan kesalahan. Denganku begitu lembut dan jika aku salah dia hanya menasihati dengan baik," ucap Aqila dengan tersenyum semringah.
Mama memeluk tubuh gadis itu. Mengusap rambut panjangnya. Dia berharap semua sikap pria itu selamanya tidak akan berubah. Bukan hanya saat pacaran saja.
"Al, selalu banyak omong dan gombal denganku. Sangat berbeda dengan wanita lain. Ma, aku begitu mencintai Alden. Tapi aku tidak pernah mau memperlihatkan dan menunjukkan semua itu. Nanti dia merasa besar kepala karena tahu aku begitu mencintainya."
Mama mengusap pipi anak gadisnya. Tersenyum sambil menatap wajah Aqila. Merasa bahagia karena Aqila mendapatkan pria yang dicintai. Mereka berdua saling mencintai.
"Tapi menurut Mama, sesekali kamu juga harus tunjukkan jika kamu juga sangat mencintai Alden. Biar pria itu juga merasa bahagia karena cintanya terbalas," ucap Mama Kinanti.
__ADS_1
"Begitu ya, Ma. Aku akan tunjukkan mulai besok pagi. Aku akan buatkan setiap hari makan siangnya Alden. Dia sangat suka dengan masakanku."
Mama menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan cara anak gadisnya. Menunjukkan cinta dengan makanan itu juga sangat baik.
Dari kamarnya, Joan mendengarkan obrolan kedua wanita itu. Rasa penyesalan makin dia rasakan.
"Jika saja aku tidak melakukan kesalahan, pasti saat ini Aqila juga akan membagikan kebahagiaannya denganku," ucap Joan dalam hatinya.
Mama Kinanti tidak mengusir pria itu lagi, karena permintaan Aqila. Setelah Papa Joan menjadi wali nikahnya, Aqila baru mengizinkan papanya pindah.
Wajah mama makin berseri melihat itu. Berarti anak gadisnya telah dilamar dan siap berumah tangga.
"Sayang, akhirnya mama akan melepaskan kamu. Mama bahagia dan juga sedih. Bahagia karena kamu akan menjadi pengantin, sedihnya ... sejak hari itu kamu sudah menjadi tanggung jawab Alden. Kamu harus patuh dan mengikuti apa kata suamimu. Sejak hari itu, Alden lah duniamu dan kamu harus menomorsatukan Alden."
"Ma, aku sudah katakan pada Alden jika setelah menikah aku dan Alden akan tinggal di sini. Bersama Mama."
__ADS_1
"Sayang, jika Alden keberatan jangan dipaksa. Dia juga pasti ingin berdua denganmu tanpa gangguan dari siapapun. Mama tak apa tinggal di sini bersama Bibi."
"Ma, setiap weekend aku bisa ke hotel atau apartemen Alden jika ingin berdua saja," ucap Aqila dengan wajah merah karena malu mengatakan itu. Mama mengusap rambut anak gadisnya itu.
"Rasanya baru kemarin mama melahirkan kamu, sebentar lagi mama harus melepaskan kamu untuk dijaga pria lain," ucap Mama dan memeluk Aqila.
Merasa ada yang memperhatikan dirinya, Aqila mendongak kepalanya. Pandangannya beradu dengan Papa Joan. Aqila tersenyum dengan Papanya.
Jika ada yang mengatakan Aqila bodoh karena masih mau baik dengan Papanya, itu semua karena dia tidak bisa melupakan semua kasih sayang Papanya.
Walau Papa Joan sempat memisahkan dia dan Alden, tapi Aqila tidak bisa melupakan jika kasih sayang pria itu sangat besar padanya.
Bagi anak perempuan, Papa adalah cinta pertamanya. Begitu juga Aqila. Sebagai suami dia mungkin telah sangat gagal. Tapi sebagai ayah, kasih sayangnya pada Aqila tidak bisa diragukan. Hanya satu kesalahan Joan pada Aqila, berusaha memisahkan dia dan Alden.
...****************...
__ADS_1