PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 84. Ke Perusahaan


__ADS_3

Usai mengurus semua kiriman bunga dari Alden, Aqila segera bersiap-siap untuk berkunjung ke perusahaan kekasihnya tanpa mengabari lebih dulu. Dia ingin menyampaikan kabar bahagia dengan Alden secara langsung.


Senyumam Aqila mengembang setelah melihat penampilannya di depan cermin. Rapi dan tentu saja terlihat sangat cantik.


Dia melangkahkan kakinya keluar kamar dan menghampiri Kinanti yang ternyata berada di dapur.


"Mama, Qila pergi dulu ya. Bentar aja kok."


"Hati-hati Sayang," sahut Kinanti mengecup pipi putrinya.


Aqila mengangguk dan segera meninggalkan dapur. Hari ini gadis cantik itu akan mengendarai mobil sendirian dan sedikit melanggar larangan Alden. Dimana dia tidak diperbolehkan berkendara sendirian mau itu tujuannya dekat atau jauh.


Langkah Aqila berhenti saat berpapasan dengan papanya di ambang pintu.


"Kamu mau kemana Nak?" tanya Joan.


"Ketemu Al, Pa. Qila pergi dulu," sahut Aqila dan berlalu pergi. Tidak ada lagi pelukan kasih sayang maupun cium pipi yang sering kali Aqila berikan jika berpamitan pada ayahnya.


Joan kini benar-benar telah kehilangan dua perempuan dalam hidunya karena kebodohannya sendiri.

__ADS_1


"Meski aku tidak dianggap dirumah ini, setidaknya dengan tinggal, aku masih bisa melihat mereka setiap hari. Entah dalam waktu lama atau sebentar," batin Joan memandangi punggung Aqila yang menghilang dibalik pintu mobil.


Mobil hitam tersebut melaju secara perlahan meninggalkan pekarangan rumah, membelah padatnya jalan raya yang mulai padat padahal baru jam 9 pagi.


Aqila menghentikan mobilnya setelah sampai di sekitar lingkungan perusahaan Alden. Berjalan memasuki kantor dan menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang memang mengenalnya.


Terlebih ini pertama kalinya Aqila berkunjug setelah berpisah cukup lama. Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di depan meja resepsionis.


"Tuan Al-nya ada?" tanya Aqila.


"Ada Nona, saya akan menghubunginya untuk memberitahukan kedatangan anda."


"Tidak perlu kak, saya akan langsung berkunjung bisa tidak?"


"Masuklah Nona ...."


"Ah kebetulan kita bertemu di sini. Sepertinya Tuanmu sangat galak sampai tidak ada seorangpun yang berani padanya." Aqila mengikuti langkah Randi menuju lift. Sesekali gadis itu tertawa memikirkan bagaimana jika seorang Alden galak pada seseorang.


"Lain kali tidak perlu izin pada siapapun kalau Nona ingin bertemu Tuan."

__ADS_1


"Bukankah privasi itu perlu Randi? Meski aku adalah kekasihnya, bukan berarti aku punya hak melanggar aturan yang dia buat terlebih di perusahaan."


Diam-diam Randi tersenyum mendengar penuturan Aqila yang jauh berbeda dengan Viona. Apa mungkin karena Aqila terlahir dari keluarga kaya? Atau didikan orang tualah yang membuat gadis di belakangnya begitu mengerti tentang tatakrama,


"Bahkan untun dibandikan, Vioan tidak pantas sakin rendahnya," batin Randi.


Pria itu langsung membuka pintu ruangan Alden dan mempersilahkan Aqila masuk, tapi Aqila malah bergeming di ambang pintu tanpa ada keinginan sama sekali melangkah.


"Kenapa Nona?" tanya Randi.


"Al tidak ada."


"Benarkah?" Randi langsung memeriksa ruangan dan benar saja tidak menemukan Alden di manapun.


Pria itu melirik arloji di pengelangan tangannya dan baru sadar akan sesuatu.


"Maaf Nona, saya lupa kalau Tuan ada meeting bersama karyawan hari ini. Tapi sepertinya akan selesai sebentar lagi, akan saya panggilkan untuk ...."


"Biar saya yang mengunjunginya!" potong Aqila berjalan menuju ruang rapat yang sering kali dipakai Alden dulu.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2