
Azzam tidak menyangka kalau Ghina menghina fisiknya dan hanya karena materi berubah seratus persen.
"Ghina kamu!" Azzam sulit berkata-kata tatkala Ghina terus berkata pedas dan menghina keadaan fisiknya.
"Apa, Mas? Asal kamu tahu, selama ini aku berusaha bertahan dengan pria miskin seperti kamu, berusaha mengurus suami cacat seperti kamu hanya demi Azriel seorang. Namun, semakin hari aku semakin lelah dan capek terus-terusan bekerja banting tulang demi menghidupi keluarga kita. Aku memiliki batas sabar, aku muak harus mengurus suami yang hanya bisa duduk di kursi roda, aku tidak ingin lagi hidup seperti ini. Kamu menceraikan ku, aku terima dengan senang hati. Itu artinya aku bebas memilih siapa pria yang akan menjadi pendampingku kelak tanpa harus kamu atur-atur. Ghina kamu tidak boleh pakai pakaian ini, Ghina kamu jangan begini, Ghina kamu harus begitu, aku muak dengan itu semua!" pekik Ghina mengeluarkan segala macam kekesalannya dan segala sesuatu yang selama ini menjadi beban bagi dia sendiri. Ghina pikir menikah dengan Azzam akan menambah kebahagiaan dan hidup enak karena dulu Azzam terlihat tampan, gagah, berada, tapi sekarang setelah kecelakaan semuanya menjadi berubah.
"Jadi selama ini apa yang kamu lakukan itu terpaksa?" Azzam menatap pilu penuh kecewa mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
"Iya, aku terpaksa. Ok, berhubung kamu sudah memberiku talak! Maka besok kamu harus angkat kaki dari sini! Aku tidak mau lagi mengurusi pria cacat seperti mu!" ujar Ghina sambil berlalu meninggalkan Azzam yang tengah mematung dengan hati yang terluka.
"Baiklah, besok aku pergi dan Azriel akan ku bawa pergi. Aku tidak mau dia tumbuh dibawah asuhan seorang ibu seperti dirimu."
"Aku tidak peduli! Bawa saja anak itu pergi. Aku tidak mau repot mengurus bayi rewel itu!" balas Ghina sembari menutup kasar pintu kamarnya.
Azzam menghelakan nafasnya dan beristighfar. "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Ya Allah ya Tuhanku, maafkan atas segala sesuatu yang aku lakukan." Azzam menunduk dan meneteskan air mata penyesalan. Ia menyesal karena tidak mendengarkan orangtuanya yang bilang kalau Ghina bukan wanita yang pantas untuk menjadi istrinya karena Ghina hanya wanita berambisi menjadi kaya.
*****
__ADS_1
Kediaman Chiko.
Chiko berdiri di dekat pintu seraya melipatkan kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang baru pulang. Azzura terkejut ada Chiko di depan sana. Ia pikir mereka masih berada di hotel dan akan menginap sampai pagi.
Namun, Azzura berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya berdebar karena ia meyakini akan adanya pertengkaran. Ia bisa melihat mata Chiko memancarkan amarah. Chiko paling tidak suka melihat dirinya keluar rumah malam-malam.
"Habis darimana kamu?"
"Cari angin," jawab Azzura dingin melewati Chiko.
"Darimana dan dengan siapa? Kamu jangan pernah macam-macam di belakangku, Azzura!"
Azzura tersenyum sinis. "Macam-macam? Lalu apa kamu juga macam-macam di belakangku? Kamu menanyakan itu padaku tapi kamu sendiri sepertinya macam-macam." Azzura mendorong keras tubuh Chiko untuk menghindari pria itu. Ia benci di sentuh oleh pria yang sudah menyentuh wanita lain.
"Aku tidak pernah macam-macam! Tapi kamu, melihat kamu pulang malam itu artinya kamu mulai berubah dan mencari kesenangan di luaran sana!"
"Cukup! Tidak perlu kamu lanjutkan ucapan mu karena aku tidak ingin mendengar perkataan mu yang seakan menuduhku macam-macam. Aku bukan wanita seperti itu dan aku tidak akan pernah melakukan perbuatan hina itu. Seharusnya kamu pikir sendiri siapa yang bermacam-macam!" pekik Azzura seakan mengerti jika Chiko menuduhnya berselingkuh.
__ADS_1
Chiko terdiam mulai kepikiran yang tidak-tidak.
"Tapi kamu terlihat seperti seorang yang berselingkuh."
"Aku begini karena bosan berada di rumah terus. Kamu sibuk bekerja dan sibuk dengan segala urusanmu, kamu lupa pada ku, kamu lupa kebersamaan kita, bahkan kamu melupakan hari ulangtahun ku. Aku keluar karena aku ingin menghilangakan rasa bosan ku dan rasa kecewaku atas sikap yang kamu tunjukkan. Hanya itu saja." Azzura tidak akan memberitahukan kepada Chiko bahwa dia keluar mengikuti suaminya. Dia ingin terlihat bisa-bisa saja, tapi pas esok hari dia sudah tidak ada di rumah. Itulah rencananya.
"Sayang aku ..."
"Aku mau tidur di ruang tamu. Jangan ganggu aku dulu! Urus saja kerajaanmu jangan pedulikan aku!" Azzura melangkah masuk membiarkan Chiko berpikir.
Memang benar jika Chiko sedang berpikir dan menyadari kesalahannya yang telah melupakan hari jadi Azzura.
"Aku lupa hari ulangtahun Azzura. Pantas dia marah karena biasanya di hari itu kita menghabiskan waktu berdua dan jalan-jalan, tapi kini?" Chiko mengusap wajahnya secara kasar menyesal telah melupakan hari penting itu.
Sedangkan Azzura, dia menutup pintu kamar tamu dan mengunci pintunya. Dia menyenderkan punggungnya dan menangis diam. Tubuh Azzura merosot ke lantai seraya memeluk kedua lututnya. Ia menangis terisak kecil.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Chiko? Padahal aku percaya kalau kamu akan menjaga pernikahan kita, tapi nyatanya ..."
__ADS_1