
Aqila berjalan mendekati papanya duduk. Ketika gadis itu tepat berada dihadapkan Papanya, pria itu tampak sedikit kaget. Pria itu mengira Aqila tidak akan kembali, karena anak gadisnya masih sakit hati pada Viona.
"Kenapa Papa ada di sini, apakah papa tidak kerja?" tanya Aqila dengan dahi berkerut. Gadis itu masih belum mengerti, sejak kapan Papanya begitu dekat dengan keluarga Viona.
Bukan hanya Joan yang terkejut dengan kehadiran Aqila, tapi Ibu Marni juga. Wanita paruh baya itu berusaha memberikan senyum terbaiknya.
"Duduklah dulu, Qila."
Papa menunjuk ke kursi di sampingnya. Melihat Alden raut wajah Joan tampak berkerut. Dia tidak suka kehadiran pria itu.
Papa Aqila masih ingat awalnya mereka bertemu, saat ada kerjasama antara perusahaan Alden dan Joan. Tanpa di duga Alden menyukai Aqila sejak pertama mereka bertemu. Gadis itu datang sebagai sekretaris dari perusahaan yang dipimpin Joan.
Perusahaan dan harta kekayaan yang dimiliki kedua orang tua gadis itu sesungguhnya milik mama Aqila. Itu semua harta peninggalan dari kakeknya Aqila.
Joan sangat senang saat tahu anaknya dan Alden menjalin hubungan. Namun, semua berubah saat Alden memenangkan berbagai tender. Joan merasa iri, kenapa pria itu selalu dapat tender besar.
Aqila memilih duduk di samping Papa Joan. Alden mengikuti duduk di samping kekasihnya itu.
__ADS_1
"Sejak kapan Papa dan Ibu Marni akrab seperti saat ini?" tanya Aqila lagi.
"Kenapa kamu bertanya begitu, Qila? Bukankah kamu tahu jika ibu Marni, orang tuanya Viona sahabatmu. Tentu saja Papa mengenal semua keluarga Viona," jawab Papa Aqila.
"Aku lupa sejak kapan Papa dekat dengan keluaga Viona?" Kembali Aqila bertanya.
Joan tampak gugup. Mencari jawaban apa lagi yang tepat. Dia tidak ingin anaknya menjadi salah sangka.
"Sudahlah Aqila, kenapa hanya itu saja pertanyaanmu. Apa kamu tidak melihat bagaimana sedihnya Ibu Marni saat ini. Kamu malah bertanya hal yang tak penting. Papa rasa tidak ada yang salah jika Papa tampak akrab dengan Ibu Marni, karena dia ibunya sahabatmu!"
Aqila tidak menyangka Papanya menjawab seperti itu. Seolah menyalahkan dirinya. Apa salahnya dia bertanya begitu. Karena selama ini dia tidak pernah melihat ayahnya mengobrol dengan Ibu Marni. Berbeda dengan yang tadi dia lihat.
"Jadi Papa telah akrab dengan keluarga Viona? Pantas Papa sangat kuatir begini. Dari pagi mungkin telah datang menjaganya. Aneh sekali!" ucap Aqila dengan nada sumbang.
"Sudahlah, Qila. Papa tidak ingin mendengar omong kosongmu. Apanya yang aneh. Viona itu sahabat kamu. Sudah seperti anak bagi Papa. Apa salah jika papa ikut menjaganya? Kamu aja yang berpikir aneh."
Aqila tidak bisa terima dikatakan dia yang aneh. Tampak sekali perubahan di wajahnya. Saat Aqila ingin bicara, tampak seorang Dokter keluar dari ruangan Viona.
__ADS_1
Papa Aqila langsung berdiri. Membuat Aqila memandang dengan tatapan aneh. Sepertinya dia sangat ingin tahu keadaan Viona. Alden dan Aqila juga berdiri mengikuti langkah Papanya.
"Bagaimana keadaan Viona, Dok? tanya Joan.
"Maaf, Pak. Saya dan tim dokter telah berusaha, tapi semua kita serahkan pada Yang Diatas. Saat ini Viona telah sadar. Dia menyebut nama Aqila. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan."
Mendengar namanya disebut, Aqila maju. Berhenti tepat dihadapan Dokter.
"Saya yang bernama Aqila, Dok," ucap Aqila.
"Kamu bisa masuk, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan," ucap Dokter.
"Apa aku boleh masuk berdua dengan kekasih saya ini, Dok?" tanya Aqila.
"Silakan. Tapi tidak boleh lebih dari dua orang.
"Terima kasih, Dok," ucap Aqila.
__ADS_1
...****************...