PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 65. Mengejutkan


__ADS_3

Chiko mengerutkan keningnya kala pria muda yang mungkin seumuran dengannya turun dari mobil. Para petinggi perusahaan menunduk menyambut mereka.


Yang pertama Fatimah turun dari kursi bagian depan, Chiko masih biasa saja karena ia tahu itu adalah bos besarnya. Sebab, beberapa kali Chiko pernah bertemu dan berbicara langsung dengan atasannya itu.


Namun, tidak dengan Ghina yang tertegun melihat Fatimah. Ia merasa pernah melihat wanita paruh baya itu, dan Ghina mengingat-ingatnya. "Wanita itu? Aku pernah melihatnya, tapi di mana? Ah iya, dia hadir di acara panti itu. Iya, dia wanita itu."


Hingga turunlah seorang pria dan hal itu juga membuat Ghina maupun Chiko terbelalak penuh keterkejutan. Di tambah Azzam turun sambil memangku Azriel dan hal itu membuat mereka dilanda syok.


"Azzam!" ujar keduanya sampai mengundang perhatian orang-orang yang ada di sana.


"Dia, dia Azzam bukan?" batin Ghina dan Chiko bersamaan.


Dan tidak lama kemudian, turun juga seorang wanita bercadar dengan Azzam mengulurkan tangannya menyambut wanita itu. Perlakuan Azzam terlihat peduli serta romantis. Bahkan, pria itu tersenyum lebar terlihat bahagia.


"Tidak, itu tidak mungkin Mas Azzam! Tidak mungkin!" Ghina bergumam memperhatikan wajah pria itu. Dia juga memperhatikan wajah anak kecil yang ada di pangkuannya. "Itu, itu Azriel!" Ghina mengucek matanya untuk memastikan lagi apa penglihatannya benar atau tidak, tapi nyatanya itu semua benar dan tang ia lihat memang Azzam dan Azriel.


"Kamu pasti gugup, ada aku di sini." Azzam lebih fokus pada istrinya yang sedari tadi tegang. Azzura mendongak dan ia menganggukkan kepalanya.


"Selamat siang, Bu, Pak. Selamat datang di kantor," kata seorang pria bernama Harto, orang kepercayaan keluarga Adiguna.


"Selamat siang juga, pak Harto." sapa Fatimah membalas sapaan ramah dari Pak Harto.


"Azzam!" ucap Ghina dan Chiko yang penasaran apakah itu Azzam atau bukan. Lalu, Azzam, Azzura, Fatimah, dan yang lainnya menoleh.


Kedua orang itu semakin terkejut ternyata itu memang Azzam. Ghina semakin dibuat penasaran dan dia mendekatinya.


"Mas Azzam, kau kah ini? Ini Azriel anak kita bukan?" tanpa tahu malunya Ghina mendekati dan ia hendak menggapai Azriel. Namun, balita itu malah mengulurkan tangannya ke arah Azzura. Azzura langsung meraih Azriel.


Bisik-bisik para karyawan mulai memecah keheningan. Mereka merutuk kelancangan Ghina pada anak bos mereka.

__ADS_1


"Maaf, Ghina. Kau kembali ke barisan para OB!" pinta pak Harto geram pada kelakuan OB itu.


"Tidak, Pak. Saya ingin bicara sama Azzam dulu." Ghina terus menatap mantan suaminya. "Jadi kamu ini anak orang kaya? Tapi kenapa saat menikah denganku kamu malah bilang tidak punya apa-apa? Apa kamu menipuku?"


"Wah, apa Ghina sudah gila? Dia mengaku-ngaku jadi istrinya anak Bu bos."


"Dia sudah buat masalah di sini, bagaimana jadinya jika bos besar marah dan memecatnya?"


"Bukannya Ghina sudah menjadi istrinya Chiko? Kenapa dia bilang seperti itu?"


Dan kericuhan akibat bisikan orang-orang mulai terdengar ke gendang telinga Fatimah dan yang lainnya.


"Cukup! Saya tidak kenal kamu, lebih baik kau pergi dari sini!" kata Fatimah tidak mau Ghina berbuat kekacauan di saat penyambutan putranya sebagai direktur utama.


"Tunggu, apa Anda ini Bos besar? Apa Anda ini ibunya mas Azzam? Kok aku tidak tahu ya?" Ghina semakin berani.


"Tidak perlu, Pak. Dia bertanya apa saya ini Azzam atau bukan? Maka saya akan menjawabnya, saya memang Azzam al-fauzi, mantan suaminya dia, hanya Mantan!" Azzam menjawabnya secara jujur dan dia mengakuinya dan mempertegas bahwa dia adalah mantan.


Ghina terperangah tidak percaya aklau orang kaya yang ada di hadapannya adalah Azzam, mantan suaminya dulu.


"Kau lupa, kita sudah bercerai dan saat ini kau sudah menikah dengan pria bernama Chiko dan saya juga sudah menikah," kata Azzam mengingatkan lagi Ghina pada hal itu.


Deg.


"Menikah? Itu tidak mungkin, kamu itu begitu mencintaiku, Azzam. Kamu tidak mungkin secepat itu menikah dengan orang lain." Ghina begitu percaya diri hingga ia mempermalukan dirinya sendiri. Hal yang ia pikirkan juga hanya menikahnya Azzam, bukan dirinya.


Fatimah mengepalkan tangannya mencoba menahan amarah atas gangguan yang Ghina lakukan. Namun, ia berusaha tahan sebelum waktunya ia melambaikan kekesalannya.


"Hahaha, terlalu mencintaimu? Sayangnya tidak," balas Azzam meledek Ghina. Lalu, dia menoleh ke samping yang dimana Azzura ada di sampingnya sambil menunduk. "Sekarang aku lebih mencintai istriku, istri sah ku," sambung Azzam membuat Ghina terbelalak.

__ADS_1


Chiko yang sedari tadi memperhatikan wanita bercadar itu membuatnya penasaran. Dari matanya ia sepertinya mengenali siapa dia.


"Mata itu seperti milik Azzura, apa mungkin? Tidak mungkin, Azzura kan seagama denganku," batin Chiko.


"Tidak, itu tidak mungkin. Kamu membohongiku dengan bilang anak orang miskin, tapi sekarang kamu malah bilang kalau dia istrimu. Seistimewa apa dia sampai kau mudah melupakanku?" Ghina tidak terima Azzam meniakh lagi. Apalagi setelah mengetahui Azzam anak orang kaya membuat Ghina lupa kalau dia punya suami dan juga memperhatikannya.


"Cukup! Lebih baik kau tidak perlu banyak bicara lagi. Pak Robi!" panggil Fatimah kepada staf HRD.


"I-iya, Bu." kepala HRD itu menghampiri dan menunduk.


"Pecat wanita ini! Pastikan dia tidak bekerja lagi di sini!" kata Fatimah menatap kesal penuh benci.


"Pecat? Boleh, tapi aku minta kita balikan lagi dan kita akan membesarkan anak kita bersama-sama!" Itu ucapan Ghina terdengar gila.


"Ghina, kau tidak malu bicara seperti itu? Kau yang meminta Putraku menceraikanmu dan berkhianat di belakangnya, sekarang kamu juga meminta balikan kepadanya? Tidak akan saya biarkan itu terjadi. Saya tidak merestui hubunganmu dan Azzam! Saya tidak sudi!" seru Fatimah kesal.


"Bu, dulu saya minta Azzam menceraikan saya karena dia telah menipu saya dengan alasan anak orang susah. Sekarang saya tahu kalau Azzam bohingin saya dan saya tidak rela kalau dia menikahi wanita ini." Ghina tidak mengenali Azzura.


"Kau!" Fatimah sudah menunjuk wajah Ghina, tapi Azzura langsung mengusap lembut punggung mertuanya agar tidak marah-marah. Namun, Azzura juga tidak rela suaminya kembali pada mantan istrinya. Dia maju satu langkah seraya menatap Ghina.


"Maaf, apa Anda tidak salah ucap, Nona? Anda bilang meminta balikan kepada suami saya di hadapan semua orang sedangkan keadaan anda sendiri tengah mengandung besar? Apa urat malu Anda sudah putus sehingga berani berkata seperti itu di hadapan semua orang bahkan suami Anda sendiri? Kalau saya jadi Anda malu harus mengemis minta balikan di saat punya suami. Apa Anda tidak punya iman, Nyonya Ghina CHIKO KEYTARO?" kata Azzura tajam dengan tatanan suara begitu lembut, namun juga tegas. Dia juga menyebutkan nama suaminya Ghina sekaligus mantan suaminya.


Namun, suara itu di kenali oleh Ghina dan Chiko. "Azzura!"


"Iya, saya Azzura, istri sah dari Azzam al-fauzi Adiguna!" balas Azzura lantang dan berkata tegas.


Deg..


"Tidak mungkin!" ucap keduanya bersamaan penuh keterkejutan.

__ADS_1


__ADS_2