PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 86. Randi


__ADS_3

Alden memeluk pundak kekasihnya itu. Tidak dapat Alden lukiskan kebahagiaannya saat ini. Yang dia nantikan akhirnya akan terkabul. Menikah dengan kekasih hati yang sangat dia cintai.


Alden mendekatkan wajahnya ke Aqila. Mengecup bibir gadis itu sekilas. Aqila menutup matanya menikmati bibir Alden yang menempel dibibirnya.


Melihat kekasihnya menikmati kecupanya Alden ingin sesuatu yang lebih. Dia meluumaat bibir gadis itu. Aqila tidak mau tinggal diam, dia membalasnya. Mereka akhirnya saling bermain lidah.


Cukup lama mereka melakukan itu. Menyadari Aqila yang mulai merasakan sesak, Alden melepaskan pagutannya. Dia menghapus bibir Aqila yang basah.


Gadis itu membuka matanya. Wajahnya tampak memerah. Melihat itu Alden mengecup bibir Aqila sekilas.


"Tuan ...."


Merasa ada orang yang memanggil, Alden dan Aqila serempak berpaling dan melihat Randi yang berdiri dihadapan mereka. Tampak wajah Alden yang memerah menyadari ada seseorang melihat apa yang dirinya lakukan pada Aqila.


"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Alden sedikit emosi karena malu.


"Sejak tadi, Tuan," jawab Randi dengan suara pelan karena takut melihat wajah Alden yang memerah.


"Sejak tadi? Berarti kamu melihat apa yang aku lakukan dengan Aqila?" tanya Alden lagi.

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Saya tadi menutup wajah saat Tuan mulai mencium nona Aqila," ucap Randi.


Alden menggerutu. Andai saja karyawan lain yang melakukan ini, pasti saat ini, detik ini juga, telah dia pecat. Ini Randi. Orang kepercayaannya. Dia percaya pada Randi seperti percaya pada dirinya sendiri.


Alden melempar segumpal tisu ke Randi. Ingin melakukan lebih, dia tidak bisa. Tanpa Randi semua pekerjaannya bisa keteteran. Apa lagi kantor cabang perusahaan makin berkembang dan itu dipegang sepenuhnya sama pria itu.


"Dasar edan, sudah tahu aku lagi gituan, kenapa kamu masuk!" teriak Alden.


Aqila yang duduk di samping Alden, menutup wajahnya dengan punggung pria itu. Dia malu karena apa yang mereka lakukan dipergoki Randi.


"Aku sudah terlanjur masuk, Tuan," ucap Randi.


"Udah terlanjur kepalang basah, Tuan," ujar Randi lagi.


Kembali Alden mengambil segumpal tisu ke tubuh Randi. Pria itu hanya tersenyum, membuat Alden emosi. Pria itu berdiri dan mendekati Randi, tinju langsung melayang ke lengan asistennya itu.


"Ada perlu apa kau? Jika ternyata tidak penting, aku potong gajimu tiga bulan!" ucap Alden masih emosi, apa lagi melihat Randi yang senyum-senyum.


Randi memberikan map yang dia pegang ke tangan Alden dan segera pergi tanpa pamit sebelum pria itu makin mengamuk. Alden membuka map yang ternyata isinya cuma laporan keuangan biasa.

__ADS_1


Alden mengomel sendiri melihat kelakuan asistennya Itu. Randi memang biasa keluar masuk ruangannya tanpa mengetuk karena biasanya tidak pernah ada orang selain Alden.


"Apa Randi melihat semua yang kita lakukan, Al?" tanya Aqila. Wajahnya masih tampak memerah karena malu.


"Tentu saja," ujar Alden. Pria itu kembali duduk di samping kekasihnya.


"Aku malu. Apa nanti yang Randi pikirkan?"


"Jangan pikirkan. Dia itu tidak akan berani mengatakan apapun pada orang lain. Jangankan bicara tentang apa yang kita lakukan tadi, bicara kalau di ruanganku ini ada nyamuk saja dia tidak mau. Aku percaya dengannya."


Alden kembali memeluk bahu gadis itu dan mengecup pucuk kepalanya. Dia ingin melamar gadis itu segera sebelum dia berubah pikiran.


"Sayang, besok kita pergi makan malam ya? Aku jemput kamu jam tujuh. Berdandanlah yang sangat cantik," ucap Alden.


"Kita mau kemana, Al?"


"Makan malam, Sayang."


Aqila menyetujuinya. Gadis itu menemani Alden hingga sore hari.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2