PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 58. Kekesalan Chiko


__ADS_3

Keesokan Harinya.


"Ghina, buruan siapkan sarapan untukku!" pekik Chiko menggelegar bagaikan petasan di siang bolong. "Kau itu jadi istri tidak becus banget sih, bikin sarapan saja tidak bisa! Bikin kesal saja."


Chiko menggerutu kesal karena mau makan pagi tidak makanan tersedia di atas meja. Entah apa yang dilakukan istrinya selama ini, padahal dia suka memberikan uang belanja buat beli makanan.


"Apaan sih teriak-teriak gitu? Ini rumah bukan hutan. Aku juga dengar tidak budeg." Ghina, wanita hamil enam bulan itu melangkah mendekati Chiko yang ada di dapur.


"Aku sudah bilang sama kamu untuk memasak sebelum berangkat kerja, tapi apa? Kau malah tidak melakukan itu. Setiap hari tidak ada makanan di atas meja. Mau itu nanti siang ataupun malam, tidak ada. Kerjamu apa sih selama ini? Uang aku kasih, kebutuhan kamu ku penuhi, tapi hanya untuk menyenangkan suami saya tidak bisa. Minimal masak tidak lebih."


"Chiko, kau kan tahu aku ini sedang hamil dan sekarang suka kelelahan. Biasanya juga kamu suka beli makanan di luar. Kamu punya uang, kamu kerja, tidak perlulah repot-repot memintaku untuk masak di rumah. Aku juga capek harus kerja juga buat nambahin biaya persalinan ku."


"Kalau kau capek berhenti dan urus semua keperluan rumah ini dan juga senangkan suaminya. Setiap hari kau hanya bisa berkutat dengan ponsel, dandan, dan tidak pernah mau berkecimpung di dapur. Tidak seperti Azzura yang selalu patuh dan selalu ada di rumah. Dia selalu bisa menyenangkan ku dan selalu saja nurut apa kata ku."


"Azzura, Azzura, Azzura lagi yang kau bahas. Aku muak dengan pembahasan tentang Azzura si wanita sialan itu. Aku dan dia beda jadi jangan kau samakan dengannya!"


"Ya, kalian memang beda. Sikap, sifat, tingkah laku, semuanya beda, Azzura lebih segalanya dibandingkan kamu!" pekik Chiko kesal sekaligus menyesal telah membuang wanita yang ternyata tidak ada duanya dibandingkan Ghina.


"Cukup!" pekik Ghina semakin marah terus di bandingkan dan semakin benci pada Azzura. "Aku muak pada ocehan kamu yang tidak pernah bisa mau mengerti perasaanku. Sehari saja kamu memikirkan aku apa pernah? Tidak. Sehari saja kau mau membuatku bahagia? Tidak. Setiap hari hanya ini yang kamu berikan, Chiko. Kalaupun aku begini juga demi anak yang ada di kandunganku ini. Kalau kamu mau makan ya tinggal beli! Gitu saja kok repot." Balas Ghina semakin di buat kesal oleh Chiko.


"Ini nih tidak suka darimu, kau egois. Aku menyesal telah termakan bujuk rayu mu. Aku menyesal telah menceraikan Azzura dan aku menyesal menikahimu!" sentak Chiko seraya melemparkan kursi ke sembarang arah.


Brak!


"Aakhh!" Ghina menjerit kaget melihat kemarahan cikung yang tidak seperti biasanya. Hampir setiap hari mereka bertengkar hanya dalam hal sepele, tapi Chiko masih bisa mengontrol dirinya untuk tidak menggunakan tangan menghancurkan barang. Namun, sepertinya kali ini Chiko begitu muak dan kesal pada Ghina.


"Aku muak sama kamu! Sampai anak ini lahir, kita akan berpisah!" pekiknya membuat keputusan kala marah dan Ghina terkejut.


"Chiko, Chiko jangan lakukan itu! Aku minta maaf, Chiko."


"Bulsyit dengan kata maaf mu. Aku tidak peduli lagi!" dan Chiko pun pergi dari sana untuk menenangkan dirinya dulu.


"Sialan, ini tidak bisa dibiarkan. Tidak boleh Chiko menceraikan ku. Kalau cerai bagaimana dengan nasibku?" selama ini Ghina cukup senang hidup banyak uang. Ya, Chiko menghidupinya dan uang yang di berikan selalu Ghina gunakan buat belanja. Dia tidak terlalu menyesal menikah dengan seorang manager meski setiap hari harus bertengkar. Setidaknya ada pemasukan uang masuk padanya.

__ADS_1


"Azzura juga selalu saja hadir di dalam rumahtangga ku. Kalau aku ketemu dia, akan ku beri dia pelajaran! Aakhhhh, brengsek!" Ghina membanting apa saja yang ada di sekitarnya.


*****


Azzura dan yang lainnya sedang berpamitan kepada para penghuni pesantren. Azzura terus memeluk umi Qulsum enggan meninggalkan wanita yang begitu baik padanya.


"Maafkan aku Umi, maaf kalau aku punya salah sama umi. Doakan aku agar rumahtangga ku sakinah, mawadah, warahmah."


"Tanpa kamu minta, umi akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu, Nak. Baktilah pada suami mu dan jalankanlah semua perintah suami selama itu berada di jalan yang Allah ridhoi.


"Insyaallah, Umi."


Dari perpisahan itu ada tatapan mata yang merasa tidak rela harus kehilangan Azzura. Mungkin dia tidak bisa memiliki nya, tapi kalau Azzura ada di sana mungkin bisa terus menatapnya.


"*Azzura, kenapa rasa ini tidak bisa ku hilangkan?"


"Pergi sana, pergi yang jauh! Kehadiranmu mengganggu ruamhtangga ku," batin Anisa*.


Dan setelah mereka berpamitan, Azzura pergi mengikuti suaminya. Untuk warung yang ia miliki, ia percayakan pada anak-anak santri untuk mengelolanya karena ia yakin kalau mereka mampu memegang amanah yang ia berikan.


Sepanjang perjalanan, Azzura diam melihat ke arah samping. Dia sedih harus berpisah dengan orang-orang yang ada di sana terutama umi Qulsum.


Azzam yang duduk di sampingnya menggenggam tangan Azzura. Wanita itu menoleh.


"Kamu keberatan ikut denganku?"


Azzura menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Aku hanya sedih saja harus berpisah dengan Umi, wanita baik yang begitu menyayangiku meski aku bukan anak kandungnya."


"Kalau kamu mau, kita bisa tinggal di sana."


"Tidak usah, Mas. Kita kesana bisa satu Minggu sekali atau satu bulan sekali saja. Itupun jika kamu mengizinkan."


"Tentu saja, aku akan mengizinkan asalkan bersamaku."

__ADS_1


"Mamama mamam," celoteh Azriel meminta mamam. Balita yang ada di pangkuannya Azzura itu menarik-narik kerudung ibunya.


"Kamu mau mamam? Tunggu ya." Azzura ingin mengambil cemilan yang ada di dalam tas, tapi Azzam lebih dulu mengambilnya.


"Makasih, Mas." ucapnya kala makanan itu Azzam berikan.


"Sama-sama," balasnya tersenyum.


*****


"Sialan, kemana lagi ku harus mencari Azzura? Sudah keliling kota J tak kunjung ketemu juga. Azzura, kamu dimana? Maafkan aku." Tiada hari bagi Chiko untuk tidak mencari Azzura. Dia sudah kesana-kemari menjari, tapi tak kunjung bertemu.


Karena tidak bisa menemukan Azzura, Chiko mampir ke warung remang-remang untuk menghilangkan stres yang ia rasakan. Dia memberhentikan mobilnya dulu dan setelahnya keluar beranjak masuk ke warung remang-remang yang ada di salah satu tempat di sana.


Chiko mencari tempat duduk dan ia memesan minuman anggur merah. Minuman yang ia sukai. Satu botol minuman ia habiskan hingga perlahan mulai mabuk.


"Azzura, kemana ku harus mencarimu sayang? Aku minta maaf telah mengkhianati mu. Tidak ada wanita sebaik kamu, Zura." Gumam Chiko sudah mabuk berat.


"Chiko," panggil seseorang.


Chiko mendongak, penglihatannya malah melihat orang itu seperti Azzura. Namun, dia bukanlah Azzura melainkan wanita malam yang sering menghabiskan waktunya dengan Chiko.


"Azzura, kamu disini?" Chiko berdiri dan ia memeluk erat tubuh wanita itu.


"Aku rindu kamu, kamu kemana saja Azzura? Kamu kemana saja?" pria itu begitu erat memeluk wanita yang di sangka Azzura.


"Aku ada, Chiko. Aku juga kangen kamu."


Chiko melepaskan pelukannya dan mema ngut dia penuh rindu hingga tak terasa hal itu pun kembali terjadi kala wanita itu menggiring tubuh Chiko ke salah satu kamar.


*****


__ADS_1


__ADS_2