PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 95. Menjemput Miho


__ADS_3

"Kenapa kamu juga bawa bekal buat Randi? Ada hubungan apa dengan Randi?" tanya Alden dengan wajah serius.


Aqila memandangi wajah calon suaminya itu dengan tatapan heran. Kenapa Alden menjadi marah, tanya Aqila dalam hatinya.


Gadis itu berpikir, jika selama ini Randi telah banyak membantu hubungannya dengan Alden. Pria itu yang selalu mencari bukti jika calon suaminya itu tidak pernah salah. Semua untuk membersihkan nama Alden.


"Aku tadi masaknya banyak. Memang sengaja dilebihkan buat Randi, karena aku mau minta antar ke bandara menjemput Miho. Aku lagi malas menyetir sendirian," ujar Dea menjelaskan.


"Aku yang pergi denganmu ke bandara menjemput Miho bukan Randi," ucap Alden tegas.


Randi yang masuk tanpa mengetuk pintu, menjadi heran karena namanya di sebut. Dipandangi wajah bosnya itu dengan wajah kaget.


Dulu Randi juga masuk ke ruang kerja Alden dengan mengetuk pintu. Namun, pria itu melarang dengan alasan Randi adalah asistennya yang berarti ruangan ini juga milik Randi.


"Maaf, Tuan. Apa berkas buat perusahaan X telah selesai ditanda tangani?" tanya Randi.


Alden langsung memegang dadanya, kaget mendengar suara Randi yang muncul secara tiba-tiba. Pria itu seperti ketangkap basah sedang membicarakan Randi. Dengan memasang wajah sangar Alden memandangi asistennya itu.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu? Seperti jelangkung saja. Datang tak dijemput. Pulang baru pamit," ujar Alden.


"Maaf, Tuan. Bukankah Tuan yang minta saya jangan mengetuk pintu saat masuk? Itu jelangkung, yang benarnya datang tak dijemput, pulang tak diantar Tuan."


"Suka-suka aku bicara. Aku yang punya mulut. Kamu mau dipecat, ya? Beraninya membantah saya!"


Aqila memandangi wajah Alden dengan serius. Gadis itu pikir calon suaminya itu benar-benar marah. Randi yang melihat wajah Aqila menjadi tersenyum.


"Tuan, non Aqila takut lihat Tuan marah. Nanti dia bisa batalkan pernikahannya karena sering melihat Tuan Marah," ucap Randi.


Alden langsung memalingkan wajahnya ke Aqila. Dia melihat wajah gadis itu yang memang sedikit pucat. Alden langsung mengusap pipinya.


"Nggak apa-apa. Randi ini ada lontong buat kamu. Setelah itu, aku minta tolong antarkan ke bandara," ucap Aqila.


Gadis itu menyodorkan satu rantang ke arah Randi. Saat pria itu akan meraihnya, Alden langsung mengambilnya.


"Ingat, jangan sering-sering kau menerima pemberian Aqila. Nanti kau jadi doyan pula masakannya!" ucap Alden dengan nada mengancam.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Tapi bagaimana kalau nona Aqila yang inginkan aku makan masakan dia?" tanya Randi.


"Apa kau ingin mati. Sudah aku katakan, jangan terima!"


"Baik Tuan. Jangan marah-marah Tuan, nanti cepat tua. Tidak ganteng saat menikah."


Alden mengambil segumpal tisu dan melemparnya ke arah Randi. Bukannya takut, pria itu bahkan tersenyum. Dia tahu, bosnya itu tidak benar-benar marah.


"Mulai besok, masuk ke ruang ini kau harus ketuk pintu dulu. Karena takut ada Aqila di sini. Ingat!"


"Baik, Tuan!"


"Selesaikan tugasmu segera. Kita akan ke bandara menjemput teman Aqila!"


"Jadi Tuan juga akan ikut juga?" tanya Randi.


"Tentu saja. Apa kamu pikir saya akan membiarkan calon istri saya pergi berdua dengan pria lain?"

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Alden memandangi wajah Aqila dan tersenyum dengan gadis itu. Randi segera pamit dengan membawa lontong medan pemberian Aqila. Dia tidak ingin melihat adegan bucinnya si bos lagi.


...****************...


__ADS_2