PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 56


__ADS_3

"Azzura kamu?!" Azzam tidak pernah menyangka bahwa wanita yang ada di pangkuannya mirip banget dengan Azzura.


Mata mereka saling berpandangan lekat dan Azzura nampak mengerutkan keningnya. "Iya, ini aku, kenapa?" Azzura belum menyadari keadaan mereka yang dimana saat ini dirinya sedang duduk di pangkuannya Azzam seraya tangannya memeluk leher Azzam.


"Kok bisa kamu di sini? Lalu penampilan kamu?" Azzam kebingungan dan ia memperhatikan pakaian yang Azzura kenakan.


"Lah, aku kira kamu sudah tahu tentang aku. Tadi aku juga kaget pas tahu pria yang menikahi ku itu kamu."


"Tunggu, tunggu. Menikahimu?" Azzam belum menyadarinya dan ia pun berpikir keras. "Azzura Fatharani Az-Zahra itu nama lengkap kamu?"


Azzura mengangguk dan tersenyum


"Lalu kamu?"


"Aku memutuskan hijrah dan ini pilihanku."


Sekarang Azzam mengerti, tapi ia tidak mengerti kenapa mamanya menyembunyikan hal ini padanya. Bukannya dulu mamanya tidak ingin Azzam berdekatan dengan Azzura dan tidak menyukai Azzura? Tapi sekarang malah di dukung.


"Emangnya kamu tidak tahu wanita yang di jodohkan denganmu?"


"Tidak, mama hanya bilang aku harus menikahi wanita pilihan mama dan aku kira itu buan kamu. Aku pikir orang lain, tapi aku sempat berpikir nama kamu sama dengan Azzura yang aku kenal, eh ternyata memang sama. Mata mu juga mengingatkan ku pada seseorang, dan sekarang aku tahu kalau seseorang itu adalah kamu."


"Oh gitu, aku juga baru tahu tadi pria yang jadi suamiku itu kamu. Aku hanya mengikuti petunjuk yang Allah berikan saja. Mungkin ini pilihan terbaik, jadi aku mau menerima meski ku tahu belum ada cinta diantara kita."


Azzam terkekeh, "lucu ya, dulu kita saling bertetangga, beda juga, dan sekarang malah dipersatukan. Kita memang tidak pernah tahu rencana Tuhan itu seperti apa."


"Iya, juga ya. Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, eh ternyata malah bertemu dalam ikatan suci. Tapi ...." Azzura menggantung ucapannya, dia menunduk dengan wajah murung.


"Tapi apa?"


"Tapi aku takut kegagalan kembali terjadi."


"Insyaallah tidak akan. Ya, meskipun masih belum ada cinta diantara kita, aku pastikan tidak akan pernah membiarkan kegagalan kembali datang. Cuman, aku minta sama kamu..." Azzam menjeda sejenak ucapannya dan menatap lekat mata Azzura yang begitu indah.

__ADS_1


"Apa?"


"Buka hatimu untukku dan aku pun akan berusaha membuka hatiku untukmu. Kita disatukan oleh takdir dan mungkin ini memang takdir untuk kita. Selama takdir ini menghampiri, kita manfaatkan kan sebaik mungkin. Mungkin sekarang tidak ada kata cinta diantara kita berdua, tapi ada Allah yang akan terus bersama kita. Aku akan meminta padanya untuk membuat hatimu bisa menerimaku dan bisa mencintaiku. Mungkin ini terkesan terburu-buru dan gombal, cuman aku bukan orang yang suka berbasa-basi. Sekarang tujuanku itu."


"Baiklah, aku akan berusaha membuka hatiku untukmu karena sekarang kamulah imam ku. Insyaallah aku akan mengabdi padamu dan insyaallah aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mu serta ibu yang baik untuk Azriel."


Azzam tersenyum dan matanya terus memandangi Azzura. "Matanya, pipinya, hidungnya, bibirnya, terlihat sangat indah. Aku baru menyadari kalau Azzura begitu sangat cantik. Apalagi setelah mengenakan hijab, bertambah pula kecantikannya."


"Hei, kok bengong?" Azzura menjentikkan jarinya ke hadapan Azzam dan pria itu tersadar dari lamunannya.


"Hah! tidak. Hanya saja aku merasakan berat." Azzam mengalihkan pandangan dan juga mengalihkan perhatian Azzura.


"Eh! Astaghfirullah! Aku lupa!" Azzura langsung turun dari pangkuan Azzam dan ia merasa bersalah karena sudah menyakiti Azzam.


"Maaf, aku tidak sengaja" Azzura merasa bersalah dan ia berjongkok memijat kakinya Azzam. "Sekali lagi maafkan aku, aku tidak sengaja. Pasti sakit ya."


Azzam menunduk memperhatikan bagaimana Azzura memijat kakinya yang baik-baik saja. Bukan pegal, tapi ada yang mulai tegak tapi bukan keadilan.


"Tidak apa-apa, aku udah baikan kok. Kamu tidak perlu memijat kakiku." Azzam meminta Azzura bangun dari jongkoknya.


"Udah, aku tidak apa-apa. Mending kita istirahat saja. Pasti kamu lelah kan? Aku mau ke kamar mandi dulu." Azzam menyuruh Azzura berdiri.


"Ya sudah, biar aku siapkan ya." Azzura berdiri dan dia menarik kursi rodanya ke dekat kasur.


"Mas mau mandi? Aku siapkan air hangat dulu, ya." Azzura beranjak ke luar, tapi terhenti ketika Azzam berkata.


"Tidak usah, aku mandi air dingin saja."


"Tidak apa-apa, aku memasak air dulu. Tidak baik buat kesehatan kamu." Azzura tersenyum dan ia keluar kamar. Berhubung di rumah hanya ada mertuanya, jadi Azzura tidak mengenakan cadarnya.


Azzam memperhatikan Azzura. "Dia semakin lebih cantik." Azzam tersenyum menundukkan kepalanya. Entah kenapa ada rasa tak biasa saat melihat Azzura dengan penampilan berbedanya.


Dia pun berdiri dan memperhatikan kamar itu. Ia juga memandang foto Azzura yang sedang duduk mengenakan baju serta kerudung bercadar warna hitam. Azzam mengambil foto itu dan memandangnya.

__ADS_1



"Masyallah, cantik sekali. Auranya terlihat adem dan juga manis." Dia tersenyum sendiri.


*****


Fatimah mau mengambil air minum ke dapur. Dia melihat Azzura berkutat dengan panci. "Loh, kamu sedang apa?"


"Eh, Mah. Aku sedang memasak air buat mandi mas Azzam." Azzura tersenyum dan untuk pertama kalinya juga Fatimah melihat wajahnya Azzura setelah berhijab. Dulu belum berhijab, dan sekarang ke dua kalinya sesudah berhijab.


"Oh, buat Azzam. Tapi Azzam kan tidak bisa berjalan, pasti membutuhkan bantuan."


"Insyaallah aku yang akan menjadi kakinya mas Azzam. Mah, aku masuk dulu, ya. Airnya udah mendidih." Azzura mematikan dulu kompornya, lalu ia menuangkan air kedalam ember dan ia pun membawanya ke kamar.


Fatimah tersenyum. "Semoga kamu memang pilihan terbaik."


*****


Saat masuk, Azzura melihat Azzam tengah duduk seraya memainkan ponselnya. Dia ke kamar mandi dan mencampur air panasnya dengan air dingin.


"Mas airnya sudah aku siapkan," kata Azzura seraya beranjak keluar. Namun, ia langsung beristighfar kala Azzam sudah bertelanjang dada.


"Astaghfirullah!" Azzura langsung membalikkan badannya menutup matanya.


Azzam mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa?" dia heran.


"Itu, kenapa mAs tidak pakai baju?"


Pria itu tersenyum menggelengkan kepalanya. "Emangnya kenapa? Kita kan sudah menikah, tidak ada hal yang perlu ku sembunyikan dari kamu 'kan?" Azzam mendekati Azzura dan ia sudah berada di belakangnya. "Toh, tidak ada yang salah dalam hal ini. Kalau ke luar rumah baru tidak boleh."


"Eh, iya, ya." Azzura mendadak bodoh dan anehnya merasa malu harus kembali melihat seorang lelaki bertelanjang dada di depannya. Azzura membalikkan badannya hendak melangkah, tapi ia malah tersandung kaki kursi roda dan tubuhnya jatuh ke depan dengan tangan memegang pundak Azzam dan matanya terbelalak kala bibirnya tak sengaja mengecup pipi Azzam.


Cupp...

__ADS_1


Deg.. deg.. deg..


__ADS_2