
Aqila dan ibunya sedang di taman, membersihkan bunga-bunga. Mereka berdua memang memiliki hobi yang sama. Kegemaran mereka adalah melihat bunga yang bermekaran.
Papa hanya melihat dari balik pintu. Dia masih bertahan di rumah hingga putusan pengadilan keluar. Aqila memandang ke arah pintu. Tampak Papanya yang sedang menyeka air mata.
Rasa kasihan terselip di hati anak itu. Dia ingin memeluk papanya seperti yang biasa dia lakukan. Namun, entah mengapa tubuhnya terasa kaku. Setiap mengingat apa yang Papa Joan lakukan padanya dan Alden.
Aqila tahu, sebagai anak perempuan, dia tetap membutuhkan Papa saat pernikahan nanti sebagai wali. Jika saja papa tidak melakukan kesalahan pastilah dia orang yang paling bahagia saat pernikahan nanti.
Papa Joan tersenyum, sebagai anak yang selalu disayangi dan dimanja kedua orang tuanya, Aqila tidak bisa dendam. Kecewa dan marah tentu saja. Aqila membalas senyum papanya.
Mama yang memperhatikan Aqila dari tadi, melihat ada yang aneh pada anaknya. Lalu mama mengikuti pandangan Aqila. Tampak Joan yang berdiri memperhatikan. Mama langsung buang muka dan menutupi pandangan Aqila.
"Kinan, aku sangat menyesal. Aku menjebak Alden, karena takut ini terjadi. Aku takut kehilangan Aqila. Aku sangat menyayangi putri kita. Kenapa Alden yang aku jebak, selain karena sakit hatiku padanya juga karena aku tidak memiliki pria lain untuk dijadikan kambing hitam. Aku tidak pernah berpikir jika perselingkuhan aku akan membuahkan bayi dalam kandungan Viona. Padahal dia telah memasang kontrasepsi."
Joan bicara sendiri dalam hati. Membayangkan sebentar lagi harus pergi dari rumah ini, membuat Joan sedih.
Dari awal melakukan hubungan dengan Viona, Joan telah meminta pada wanita itu untuk memasang alat kontrasepsi agar tidak terjadi pembuahan. Namun, mungkin Tuhan ingin mengingatkan dia dengan kehamilan Viona. Joan benar-benar menyesal kali ini.
__ADS_1
Bibi datang membawa dua gelas jus jeruk dan sepiring kue bolu untuk Kinanti dan Aqila. Keduanya langsung mencuci tangan dan beristirahat sambil meneguk jus jeruk.
Tidak berapa lama, bibi kembali datang. Tampak dia berjalan dengan tergesa.
"Non, ada kiriman bunga buat Non Aqila," ucap Bibi.
"Dari siapa, Bi? Bibi ambilkan saja," ucap Aqila.
"Bibi tak berani, Non. Ada banyak bunganya. Penuh teras," ucap Bibi lagi.
Aqila menjadi penasaran. Siapa yang kurang kerjaan mengirim dirinya bunga sebanyak itu. Dia berjalan menuju teras. Saat masuk tadi, Aqila sudah tidak melihat Papanya. Mungkin telah masuk ke ruang kerja.
Aqila menandatangani surat yang diberikan pengirim. Tertulis nama Alden sebagai pengirim. Gadis itu tampak tersenyum mengingat kelakuan kekasihnya itu.
"Dari siapa, Nak? Alden?" tanya Mama Kinanti. Aqila hanya mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Mamanya.
__ADS_1
Aqila langsung menghubungi kekasihnya itu. Merasa tindakan kekasihnya ini konyol.
"Ada apa, Sayang," jawab Alden di seberang sana.
"Kenapa kirim bunga sebanyak ini? Kamu pikir aku mau buka toko bunga dan jualan bunga?"
"Agar kamu tersenyum indah seperti bunga-bunga itu," ucap Alden lagi.
"Lain kali jangan kirim bunga sebanyak ini. Buang-buang uang," ucap Aqila lagi.
"Tidak ada kata buang-buang uang untuk gadis yang paling aku sayangi. Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu tersenyum."
"Gombal. Udah dulu, jangan lupa sarapan!" ucap Aqila mengakhiri sambungan ponselnya.
Mama tersenyum dan mendekati putrinya. Dia yakin Alden pria yang pantas buat Aqila.
"Apa lagi yang kamu pikirkan, Sayang? Jangan tunda lagi pernikahanmu. Nanti keburu Alden diambil orang," ucap Mama.
__ADS_1
...****************...