PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 61.


__ADS_3

Kasak kusuk terdengar pembicaraan para orang-orang kantor yang membicarakan pemilik perusahaan. Ghina yang masih bekerja sebagai ob meski tengah hamil enam bulan, terus mencoba bertahan meski dalam keadaan hamil. Dia yang akan mengantarkan minuman ke karyawan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kalian tahu tidak, katanya anak dari pemilik perusahaan ini akan turun tangan lagi menangani perusahaan ADIGUNA. Setelah lama menyembunyikan wajahnya, kini dia akan memimpin."


"Benarkah? Itu sih kabar baik dan kita bisa tahu wajahnya seperti apa."


"Permisi, ini minum kopinya." Ghina menyimpan nampan berisi minuman ke atas meja.


"Makasih, Ghina."


"Sama-sama," balas Ghina tersenyum ramah.


"Iya, aku juga ingin tahu anaknya Bu bos seperti apa. Karena sebelumnya tidak ada kabar mengenai anaknya, dan Bu bos sendiri selalu memerintahkan pak Harto yang menangani semuanya. Sekarang Bu bos bakalan datang bareng putra tunggalnya."


"Emangnya putra Bu bos tidak pernah ke sini?" tanya Ghina penasaran.


"Pernah sekali, dan itu waktu beberapa tahun yang lalu. Ada yang bilang putranya tidak suka di soroti dan lebih memilih hidup di balik layar."


"Ngomong-ngomong sudah menikah atau belum? Aku baru dengar putranya Bu bos. Bos saja aku tidak tahu," kata Ghina.


"Bu Bos Fatimah memang jarang banget ke sini, paling kalau ada acara-acara besar dan penting baru datang ke kantor. Semuanya yang handle Pak Harto, tangan kanan sekaligus kepercayaan keluarga Adiguna."

__ADS_1


"Dan untuk putrinya, dengar-dengar sudah menikah dan juga sudah memiliki anak."


"Oh, baru tahu aku. Jadi penasaran pada sosok Bu bos Fatimah dan putranya itu." Ghina tertarik dengan hal ini dan ia ingin tahu seperti apa wajahnya.


"Eh, Ghina, kau tidak melihat Chiko? hari ini dia tidak masuk kerja 'kan?" tiba-tiba salah satu karyawan bertanya Chiko kepada Ghina. Wanita hamil itu seketika terdiam dengan perasaan yang tidak karuan.


"Eh, iya juga, ya. Dia tidak kelihatan di kantor, ke mana Chiko pergi? tidak biasanya dia keluyuran dan tidak pulang-pulang sampai tidak bekerja?" Ghina juga tidak tahu mengenai Chiko ke mana dan sedang apa, dengan siapa saat ini? Pertengkaran tadi pagi membuat dia serta suaminya renggang dan tidak peduli ke mana Chiko pergi.


"Aku juga tidak tahu, paling juga lagi istirahat. Diakan manager, pasti banyak pekerjaan yang harus dia urus sampai membuatnya kelelahan."


"Iya juga sih."


"Hei! kalian malam ngerumpi, cepat kerja kerja!" seru salah satu pekerja. "Kita harus menyelesaikan semua kerjaan karena besok lusa Bos akan datang ke sini. Cepetan!"


*****


Azzura tengah mendengarkan cerita suami dan mertuanya.


"Sebenarnya Azzam ini salah satu pewaris tunggal perusahaan ADIGUNA CORPORINDO. Karena dia ingin hidup bersama wanita yang dia cintai, Azzam sampai rela memutuskan hubungan dengan orang tuanya dan memilih bersama pilihannya. Dia juga sampai pura-pura miskin dengan alasan ingin tahu ketulusan sang wanita pujaan. Namun, apa yang terjadi setelahnya? Azzam dan Ghina bercerai." Fatimah sedikit menceritakan peristiwa itu yang dimana Azzam begitu kekeh dengan wanita pilihannya dan rela kehilangan semuanya demi wanita yang dicintai.


"Nah, saat Azzam kembali ke rumah, ia sudah dalam keadaan duduk di kursi roda Karena pada saat itu Azzam mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya mengalami cidera. Awalnya Mama juga tidak tahu kalau ternyata Azzam ini sudah sembuh, dia juga menyembunyikan hal ini dari mama. Hingga suatu hari, Mama melihat dia berdiri tegak dengan kaki yang menopang berat badannya, lebih tepatnya pas pulang dari pesantren."

__ADS_1


"Eh, sekarang malah menyembunyikannya juga darimu. Namun, asal kamu tahu, ini bukan salah Azzam, tapi hanya karena ingin mendapatkan sosok wanita yang mau menerima dia apa adanya dan juga mau menerima putranya. Maka dari itu Azzam menyembunyikan ini semua. Azzura, mama mohon sama kamu untuk memaafkan Azzam, ya. Pasti Azzam tidak bermaksud membohongimu." Fatimah yang sedang duduk di samping Azzura menggenggam kedua tangan menantunya dan menatap Salman rasa permintaan maaf sebagai ibu.


"Azzura, mohon maafkan aku, ya." Azzam kembali meminta maaf. Azriel yang sudah bangun ada di pangkuannya Azzam bermain mobil-mobilan.


"Awalnya aku memang sedikit kecewa karena mas Azzam menyembunyikan ini semua. Namun, setelah mendengar penjelasan kalian, aku jadi mengerti maksud dan tujuan kamu melakukan ini. Jadi, tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak ada yang perlu meminta maaf karena mungkin ini semua salah satu rencana Allah dan takdir Allah untuk kehidupanku ataupun kehidupan Mas Azzam. Tentunya aku memaafkan segala sesuatu yang dilakukan." Tidak ada yang harus disalahkan karena ia sadar, terkadang butuh kepura-puraan untuk mengetahui situasi sekitar. Dan terkadang berbohong di perlukan demi suatu tindakan baik ke depannya. Namun, jangan pernah terlalu sering berbohong karena itu suatu kecanduan yang mungkin suatu hari nanti sulit dihilangkan.


"Makasih, Zura." Azzam tersenyum istrinya tidak mempermasalahkan lagi.


"Oh iya, Zam. Mama sudah bicara dengan Pak Harto kalau lusa kamu akan memimpin perusahaan papamu. Mama dan kamu bakalan datang ke kantor sekalian bertatap muka dengan para karyawan untuk memperkenalkan kamu beserta istrimu."


"Mama seriusan? Ini terlalu cepat? Azzam merasa tidak siap harus memimpin perusahaan itu."


"Zam, itu peninggalan papa kamu, Hanya Kamu anak satu-satunya yang kita miliki dan hanya kamu yang berhak memimpin perusahaan itu. Kalau bukan kamu siapa lagi? cepat atau lambat, mau tidak mau, kamu harus terjun juga mengurus semuanya. Kita tidak mungkin selamanya ketergantungan kepada orang lain. Kamu pemiliknya dan kamu berhak memimpin semuanya. Demi keinginan papa kamu dan demi kesejahteraan karyawan serta demi tanggung jawabmu terhadap keluarga kecil mu, kamu harus berusaha berkutat dengan kerjaan. Hanya kamu harapan Mama, Zam." Fatimah hanya ingin anaknya bertanggung jawab atas apa yang ia miliki. Dia sudah tua dan merasa mungkin saja Allah kapan saja memanggilnya, kalau bukan Azzam siapa lagi. Sekarang dia cukup tenang karena sang putra mendapat istri yang menurutnya bisa bertanggung jawab dalam segala hal, dan bisa mengatur dalam semua hal dan tentunya mampu mendidik cucu-cucunya kelak.


Azzam melirik Azzura, Azzura pun balas menatapnya. Ada suatu keraguan dan ketakutan hadir dalam diri asura ketika suaminya terjun langsung ke perusahaan. Ia takut jika Cinta lama bersama mantan istrinya kembali terjalin dan malah pergi meninggalkannya lagi. Azzura menunduk menyembunyikan kerisauan hatinya.


"Azzura kenapa? Kok wajahnya murung gitu?" Azzam memperhatikan wajah sang istri, ia penasaran kenapa istrinya tiba-tiba menunduk murung.


"Nanti Azzam pikirkan dulu, Mah."


"Iya, mama tunggu dan mama harap kamu mau."

__ADS_1


"Insyaallah," balas Azzam terus menatap istrinya yang kebetulan duduk di hadapannya dia.


__ADS_2