
Ada Kecanggungan yang tercipta diantara keduanya. Bagaimana tidak, Azzura malu sampai wajahnya memerah kala ia tak sengaja mengecup pipi Azzam.
Bahkan, dia terus menyembunyikan wajahnya dan tidur menyamping enggan menatap Azzam lagi karena malu. Pun dengan Azzam yang merasakan perasaan berbeda dengan jantung terus berdebar kencang saat berada di dekat Azzura.
"Ada apa denganku? Kenapa perasaan ku seperti ini? Jantung oh jantung, jangan terus berdebar dong," gumam Azzam dalam hati.
Azzam sudah membersihkan diri dan hendak naik ke atas ranjang. Tidak ada sofa atau alas lainnya di sana dan mau tidak mau mereka harus berbagi ranjang.
Azzam perlahan naik ke atas ranjang, namun saking gugupnya dekat Azzura dan pandangan ke atas, dia malah terjatuh saat ingin mendudukkan bokongnya ke kasur.
Bruk!
"AW!" pekik Azzam membuat Azzura seketika menoleh.
"Ya Allah Mas Azzam!" Azzura segera beranjak mendekat dan ia membantu Azzam duduk ke kasur. "Kenapa kamu tidak minta tolong padaku? Bagaimana kalau kamu terluka?" Azzura merasa bersalah telah membiarkan Azzam bergerak seorang diri. Matanya pun berkaca-kaca merasa tidak bisa menjaga pria yang sudah menjadi suaminya.
"Hei! Aku tidak apa-apa. Jangan panik gitu."
"Bagaimana aku tidak panik, Mas? Kamu dari kursi pindah ke kasur malah jatuh gini. Aku yang sehat merasa tidak berguna membiarkan kamu kesusahan seorang diri. Maafkan aku, Mas." Azzura memang memiliki hati lembut, dulu ia pernah berada di posisi ini ketika waktu masih kecil. Dan ia tahu bagaimana rasanya bersusah payah melihat seseorang yang ada di sekitarnya. Waktu ayahnya Azzura juga seperti Azzam, duduk di kursi roda. Dia malah meneteskan air mata merasa tidak berguna.
Azzam tercengang istrinya menangis dan ia tidak tahu penyebabnya apa. "Hei! Kok kamu nangis?" Azzam menghapus air matanya Azzura dan Azzura yang sedang penaikan kakinya Azzam menoleh.
"Aku merasa bersalah sama kamu," ucapnya sambil duduk di hadapan Azzam.
Azzam tertegun mendengar perkataan Azzura. Untuk pertama kalinya dia di perhatikan saat keadaannya seperti ini. Dulu, saat bersama Ghina Azzam melakukan hal seorang diri tanpa mendapatkan bantuan dari mantan istrinya. Yang ada, Ghina selalu ngomel dan merasa tidak mau di susahkan. Tapi Azzura malah menangis gara-gara dia.
"Mas, sekarang aku istrimu. Jika kamu butuh sesuatu bilang padaku. Jangan mencoba berusaha sendiri. Aku ikhlas membantumu dan kalau perlu, aku akan menjadi kakimu agar kamu bisa kemana-mana."
"Dia begitu baik mau peduli padaku."
"Aku tidak apa-apa, selagi bisa pasti akan ku lakukan sendiri."
__ADS_1
"Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi selama aku ada di samping mu. Sebagai seorang istri dan pasangan, harus saling melengkapi dan menghargai. Mungkin dengan kamu berjodoh denganku aku menjadi pelengkap dalam hidupmu dan kamu juga pelengkap dalam hidupku. Maaf, bukan aku mau menghina mu, tapi dalam keadaan kamu yang seperti ini membutuhkan seseorang dan aku siap membantumu, Mas. Jadi jangan sungkan untuk meminta tolong padaku dalam hal apapun," kata Azzura terdengar serius dan tatapannya pun terlihat tulus.
Azzam semakin di buat tak berdaya dengan tatapan itu dan merasa di pedulikan. "Apapun?" namun, ia malah tersenyum tipis memikirkan sesuatu.
"Iya, apapun akan aku lakukan kalau kamu perlu bantuan." Azzura mengangguk yakin.
"Kalau begitu, lepaskanlah hijab mu. Kita sudah menikah dan tidak perlu ada yang di tutupi karena hanya ada aku di sini."
Giliran Azzura yang diam. "Apa yang dikatakan mas Azzam ada benarnya juga. Kita sudah sah dan itu artinya kita boleh melihat aurat masing-masing karena memang kita ini mahram."
"Kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Azzam menatap lekat bola mata Azzura.
"Tidak ada." Dan Azzura pun berdiri. "Tidak apalah berpenampilan seperti biasanya. Toh di hadapan suami saja."
"Kamu mau kemana?" tanya Azzam kala Azzura beranjak pergi.
"Ganti baju di kamar mandi," balasnya seraya menutup pintu.
Azzam menghela nafas panjang. "Kenapa aku jadi gugup gini? Mau dia berpenampilan apapun ya itu memang Azzura." Entahlah, Azzam seperti merasa bahwa ini malam pertama saja. Dia begitu penasaran dan juga gugup ingin melihat Azzura tanpa hijab. Dia membenarkan duduknya dan menyenderkan punggungnya ke ranjang dengan kaki selonjoran. Dia kembali memainkan ponselnya mengurus segala sesuatu mengenai pekerjaan.
Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Azzura yang sudah berganti pakaian. Azzam menoleh dan ia seketika terpana pada sosok Azzura yang selalu berpenampilan terbuka saat dulu kala. Namun, kali ini Azzam tidak bisa mengalihkan pandangannya ke wanita yang ada di sana.
Tangtop crop berwarna hitam yang hanya menutupi bagian dada saja, dengan perut ramping masih dengan tindik di perutnya, dan celana warna putih sebatas paha. Serta rambut di kepang satu dengan asal di ke depankan. Ini memang penampilan Azzura kalau mau tidur, dia jarang pakai baju, tapi terkadang sering tidur memakai gamis atau daster.
"Masyallah, aku baru tahu kalau Azzura begitu cantik mempesona. Oh jantung, jangan berdebat begini!"
Di tambah dia sebagai pria normal membuatnya tidak karuan. Apalagi Azzura sudah resmi menjadi istrinya menambah pikiran nakal di benaknya Azzam.
Azzura dengan santai naik ke atas ranjang dan ia duduk di sampingnya Azzam. "Mas, kau kenapa?"
"Hah! Ti-tidak, hanya saja aku terpana melihat kamu seperti ini, cantik dan ..." Azzam mendekatkan wajahnya dan berbisik, "sexy."
__ADS_1
Blush..
Azzura menunduk dengan wajah terlihat merah merona.
"Mesum!" Azzura hendak membaringkan tubuhnya, tapi Azzam menahan tangan Azzura.
"Mesum sama istri sendiri bolehkan? Daripada mesum sama wan ..."
BEP..
Azzura menutup mulut Azzam menggunakan telapak tangannya. Dia menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak boleh mesum sama wanita lain. Tidak boleh!" kali ini Azzura akan egois. Dia akan tegas dalam segala hal.
Azzam mengulum senyum. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku kali ini, tapi rasanya aku merasakan jatuh cinta yang kedua kalinya. Ya, mungkin ini terbilang cepat, tapi ini memang yang terjadi. Sekarang aku percaya jika cinta kadang datang tiba-tiba. Dan sepertinya aku mulai menyukai Azzura."
"Kalau mesum sama kamu boleh?" bisik Azzam tidak bisa mengontrol dirinya sebagai pria normal dan semakin mendekatkan dirinya.
"A-aku ..." Azzura gugup luar biasa dan ia memundurkan tubuhnya kebelakang. Azzam tak kalah terus semakin dekat.
Azzura hampir terjengkang, Azzam segera menarik tubuh istrinya sampai kini tidak ada jarak diantara mereka.
"Izinkan aku mencintaimu dengan segala kekuranganku dan izinkan aku untuk memilikimu. Azzura, bolehkah aku menyentuhmu?"
Deg ...
"Mas!" Namun, Azzura terdiam kala sentuhan hangat menerpa bibirnya. Dia menggenggam erat baju Azzam dengan mata perlahan mulai terpejam menikmatinya.
"Ya Allah, aku serahkan jiwa dan ragaku untuk suamiku," batin Azzura.
"Ya Allah, izinkan cinta ini ada untuknya," batin Azzam.
"Anna uhibbuka Fillah Zaujati. Kamu hebat," bisik Azzam. Azzura tersenyum malu dan menelusupkan wajahnya.
__ADS_1
"Kamu enak di bawah, aku capek."
"Maaf." Azzam memeluk Azzura, tidak ada keraguan untuk tidak menerima pernikahan ini. Hatinya menerima, anaknya menerima, dan mamanya juga menyetujui, itu artinya mulai sekarang Azzam dan Azzura dua pasangan yang Allah satukan dengan segala rencananya.