
Pagi-pagi sekali Ghina keluar dari rumah Chiko. Semalaman dia menginap di sana dan membujuk Chiko untuk tidak marah-marah lagi. Bagaimana mungkin Ghina melepaskan Chiko setelah mendengar Azzura pergi.
Semalam.
"Apa! Azzura pergi dari rumah setelah mengetahui kita? Tapi aku tidak percaya Azzura pergi begitu saja tanpa adanya penyebab lain. Setahuku dia itu mencintai kamu dan itu artinya dia tidak mungkin begitu saja pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari kamu."
"Maksud kamu bicara seperti itu apa? Maksud lain apa?" Chiko mulai penasaran dan yang dikatakan Ghina benar juga. Azzura pergi tanpa ingin tahu penjelasan darinya dan begitu saja meninggalkan surat cerai.
"Kamu ingat kejadian kita ke hotel?" tanya Ghina diangguki oleh Chiko. "Pada hari itu aku pulang lebih dulu dan aku melihat Azzura dengan mas Azzam jalan berduaan. Azzura mengantarkan Azzam ke rumah lalu pulang. Apa kamu tidak curiga pada saat itu Azzura pulang malam? Kamu bilang Azzura tidak suka keluar malam selain dengannya."
Chiko diam. "Malam itu Azzura pulang larut malam dengan alasan cari angin. Apa mungkin dia bohong padaku? Apa benar jika Azzura juga ada main di belakang ku?"
"Tapi Azzura bilang dia hanya cari angin saja."
"Astaga Chiko, kamu itu polos atau bodoh? Itu alasan klasik untuk menutupi kebohongannya. Kamu juga pastinya suka beralasan cari angin, ketemu klien, padahal kamu main denganku. Iya 'kan?"
"Kamu benar juga. Bisa saja bukan?"
"Nah, berhubung Azzura tidak ada di rumah. Mending kita tidur saja. Sambil nunggu dia kembali ke sini, biarkan saja dia pergi dulu. Aku yakin Azzura akan kembali lagi, 'kan dia tidak memiliki rumah selain rumah kamu." Ghina menarik tangan Chiko memaksanya masuk.
"Tapi ..."
"Ayo sayang, aku tahu kamu itu sebenarnya suka dengan ku. Kita itu sama-sama suka, jangan naif deh. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu itu suka jajan."
Chiko terbelalak. "Ngaco deh, jangan asal kalau bicara."
__ADS_1
"Chiko, Chiko, awal kamu datang kesini aku pernah lihat kamu jalan dengan seorang wanita ke hotel."
"Itulah sebabnya aku langsung saja mendekatimu karena aku yakin kamu mudah tergoda. Dan buktinya sekarang kita punya hubungan 'kan? Tapi, aku tidak akan membiarkan kamu tergoda oleh orang lain lain. Hanya aku yang berhak mendapatkan kamu."
"Kamu?" Chiko tidak percaya kalau Ghina tahu tentangnya yang suka jajan kala rasa lelah menghampiri.
"Dah ah, ayo masuk!" Ghina menarik Chiko.
Pagi hari.
Ghina mengendap-ngendap keluar dari rumah Chiko supaya tidak ketahuan oleh ibu-ibu atau bapak-bapak di sekitar sana. Namun, ia tidak bisa menghindar dari para bapak-bapak yang kebetulan pulang dari mesjid.
"Ghina kamu ngapain ngendap-ngendap seperti maling? Ngapain juga keluar dari rumahnya Chiko?"
"Eh, pak Samsul. Anu, aku tidak ngapa-ngapain, permisi." Ghina segera berlari dari sana karena malas di tanya mereka.
"Tapi bisa saja 'kan, Pak? Sedangkan neng Azzura sudah tidak tinggal lagi dengan Chiko, itu artinya perselingkuhan Ghina dan Chiko mulai terang-terangan."
"Wah, kalau begini ceritanya tidak bisa dibiarkan. Kita harus pantau mereka dan kalau ketahuan kita grebeg saja."
"Betul itu, ini tidak boleh di biarkan terlalu lama."
"Sudah-sudah, sekarang kita pantau saja dulu."
*****
__ADS_1
"Hmmm anak Ayah sudah sangat wangi sekali. Sekarang kita keluar buat sarapan pagi." Azzam memangku putranya dan berjalan ke arah kursi roda. Lalu, dia duduk dan menekan tombol yang ada di bagian kanan. Mamanya membelikan kursi roda yang canggih guna mempermudah Azzam berjalan. Jadi dia tidak lagi memutar rodanya, sekarang tinggal tekan tombol sudah bisa maju.
Azzam masih pura-pura todak bisa jalan dengan alasan ingin mencari wanita yang mau menerima dia dan putranya.
Di meja makan.
"Nah itu Azzam," ucap Fatimah melihat putranya keluar.
"Pagi, Mah."
"Pagi, Nak. Kamu memandikan putramu sendiri?" tanya Fatimah melihat sang cucu sudah rapi.
Sudah sebulan ini Azzam tinggal di rumah orangtuanya. Dia juga belum menunjukan jika ia bisa berjalan normal kepada mamanya maupun kepada Thania.
Thania sendiri menunjukkan keseriusannya dalam memperlakukan Azzam secara baik. Namun, Thania tidak bisa mendekati Azriel karena balita itu sulit di dekati dan selalu menolak saat Thania ingin menggendongnya.
"Iya, Mah. Azzam yang memandikannya."
"Kenapa tidak minta bantuan aku saja, Mas." Thania bersuara.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," balas Azzam berkata dingin.
"Zam!" Fatimah menegur.
"Oh iya, kalian sudah satu bulan saling mengenal, Thania juga terlihat baik dan memperlakukan kamu. Lalu, bagaimana, Zam? Kamu mau 'kan menikah dengan Thania?"
__ADS_1
"Menikah?"