PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 41. Penolakan Azzura


__ADS_3

Umi Qulsum, Anisa, dan kedua orang tua Anisa kaget atas penolakan Ahmad. Mereka semakin dibuat terkejut ketika Ahmad bilang menyukai Azzura. Pun dengan Azzura yang juga baru masuk ke sana dari membawa nampan berisi cemilan dan minuman, memekik kaget tidak mempercayai itu.


"Apa?!" pekik Azzura sampai mereka memperhatikan Azzura.


"Ahmad, apa yang kamu katakan? Tidak bisa begini, Nak. Abi mu dan pak haji sudah menjodohkan kamu dari kecil dan itu amanat sebelum Abi mu meninggal," kata Umi Qulsum terdengar lembut dan biasa saja.


Ahmad mendekati mereka dan duduk di samping uminya. Azzura juga mendekat lalu menyimpan nampan ke atas meja.


"Umi, Ahmad tahu ini adalah perjodohan yang dilakukan Abi bersama Pak haji, tapi jujur Ahmad tidak menyukai Anisa. Ahmad tahu ini salah, tapi Ahmad tidak bisa membohongi perasaan Ahmad sendiri, Umi. Ahmad tidak mau kalau nanti kita menikah malah membuat Anisa tersakiti dengan perasaan yang Ahmad miliki. Aku yakin Azzura juga pasti memiliki perasaan yang sama." Kejujuran Ahmad membuat Anisa kecewa dan terlihat sedih. Ahmad juga mengartikan jika kebaikan Azzura kepadanya, perhatiannya itu menunjukkan rasa suka seorang wanita kepada pria.


"Kenapa kamu begitu yakin dengan perasaan Azzura Sedangkan kamu belum tahu perasaan dia yang sebenarnya?" tanya Anisa.


"Perhatiannya kepada ku, kebaikannya kepadaku, kepedulian Azzura kepada Umi, itu semua menjurus pada perasaan suka."


"Maaf, Bang. Sebelumnya aku minta maaf Jika kehadiranku di sini malah membuat kacau keadaan. Jujur, aku berterima kasih karena Bang Ahmad sudah mau berkata jujur dan bilang menyukaiku, tapi maaf aku tidak bisa membiarkan itu terjadi sebelum kesalahpahaman ini semakin besar. Mungkin perhatian ku selama ini Abang salah artikan, tapi tidak ada sedikitpun niatan bagiku untuk mempermainkan Abang. Aku perhatian, aku peduli, dan aku memperhatikan Umi karena aku sudah menganggap Umi sebagai ibuku dan Bang Ahmad serta bang Ali, Abang ku."


"Jadi semua itu bukan perhatian suka?" tanya Ahmad kecewa.


"Bukan! Aku mohon sama Bang Ahmad untuk tidak menolak perjodohan ini. Mungkin perasaan yang Abang miliki hanyalah sebatas rasa kagum terhadap seseorang. Cinta yang Abang miliki bukanlah cinta melainkan kagum semata. Aku yakin cinta yang sesungguhnya adalah Anisa, bukan aku."

__ADS_1


"Untuk meyakinkan hatimu, untuk meyakinkan perasaanmu, lebih baik kamu istikharah dulu mencari petunjuk demi kebaikan kamu sendiri. Jika Allah sudah memberikan petunjuknya, maka itu adalah jawaban terbaik dari Allah," kata Umi Qulsum.


"Benar kata Umi mu, Ahmad. Kita tidak boleh terburu-buru menentukan pilihan. Maafkan kami terburu-buru menentukan keputusan. Ini hanya semata karena kami takut fitnah dunia," kata ibunya Anisa.


Ahmad menghela nafas panjang, ia tidak pernah merasa sekecewa ini sebelumnya. Anisa juga semakin di buat kecewa dan menatap Azzura dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kehadiran kamu membuat calon suamiku berpaling dariku, Azzura."


"Semoga tidak ada lagi kesalahpahaman disini. Kalau begitu, aku pamit dulu." Azzura pamit undur dari hadapan mereka.


Baru saja beberapa langkah, ponselnya Azzura berdering. Ia merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo, ada apa pengacara Sheila?" ujar Azzura seraya melangkah keluar rumah. Namun, Umi Qulsum sempat mendengar Azzura menyebut pengacara membuatnya penasaran.


"Azzura, aku mau mengabari kalau persidangan akan di gelar lusa. Apa kamu akan hadir?"


"Aku tidak bisa hadir, Sheila. Hatiku masih tidak kuat menyaksikan Chiko dan juga aku masih selalu terbayang perselingkuhan Chiko."


"Baiklah Azzura, tidak masalah. Aku akan membantumu semampuku. Oh iya, aku baru dapat kabar kalau Chiko hari ini menikah dengan wanita bernama Ghina."

__ADS_1


Deg.


"Menikah? Dengan Ghina?" Azzura seketika lemas mendengar berita mengejutkan ini. Baru saja mereka berpisah satu bulan setengah, Chiko sudah menikah lagi. Tubuh Azzura terhuyung ke belakang dan untungnya Umi Qulsum segera menangkap tubuh Azzura sehingga dia tidak jadi terjatuh.


Azzura memandang wajah wanita berhijab itu dan seketika air matanya mengalir membasahi pipi cantiknya.


"Kamu pasti tahu masalah ini. Chiko juga membawa istrinya tinggal di rumah yang dulu kalian tempati," kata Sheila.


"Ka-kamu dapat informasi ini dari mana?"


"Dari orang-orang kepercayaan ku. Mereka menikah karena Ghina hamil."


"Ha-hamil?" Azzura bertambah syok.


"Azzura, kamu kenapa?" tanya Umi Qulsum merasa khawatir. Azzura mendongak, "Sheila, terima kasih informasinya. Aku mohon sama kamu bantu aku untuk menjadikan rumah itu rumah singgah. Aku tidak rela Ghina dan Chiko tinggal di sana. Cari semua anak yatim-piatu yang tidak memiliki tempat tinggal dan bawa mereka ke sana. Kalau ada panti terbengkalai pindahkan saja kesana!"


"Baik Azzura, akan aku usahakan. Nanti aku hubungi lagi." Sheila pun mematikan sambungan teleponnya.


"Ada apa, Nak?" Umi Qulsum masih penasaran. Namun, Azzura malah memeluk wanita itu dan menangis tersedu-sedu. Dia masih merasakan sakit hati dan belum sepenuhnya ikhlas dalam masalah ini.

__ADS_1


"Umi, aku harus apa? Hiks hiks hiks. Tolong aku!"


__ADS_2