
"Zahra ada yang ketinggalan tidak?" tanya Umi Qulsum ketika mereka sudah siap berangkat ke kita J.
"Hmmm sebentar umi, Zahra cek dulu." Azzura mengecek kembali barang-barang bawaan mereka dan ia memastikan bahwa tidak ada barang yang ketinggalan.
"Tidak ada Umi, semuanya sudah lengkap." Karena akan menginap, baik Azzura ataupun Umi Qulsum mempersiapkan keperluan mereka selama di kota J. Dengan alasan agar tidak banyak yang di kerjakan di sana selain berkumpul dengan para penghuni baru.
"Ya sudah, kalau sudah selesai kita berangkat sekarang saja biar tidak terlalu malam. Nah, kan kalau sampai cepat kamu bisa banyak istirahat."
"Iya, Umi. Oh iya, Bu Fatimah akan ikut kita?" Zahra melihat Bu Fatimah masih ada di sana dan terlihat tengah berbincang dengan beberapa orang di sana.
"Iya, kita bakalan berangkat bareng. Beliau juga mau pulang sore ini."
"Oh gitu, ya." Dan terlihat Fatimah mendekati mereka.
"Zahra, kalau boleh kamu ikut bareng ibu, ya! Sepertinya Azriel nempel sama kamu." Fatimah bicara begitu karena melihat cucunya yang masih ada dalam gendongan Zahra terlihat anteng dan enggan beralih kepada orang lain.
Zahra dan Umi Qulsum memperhatikan Azriel.
"Kata Fatimah benar, kamu ikut dia saja, biar Umi sama yang lainnya."
"Tapi Umi tidak apa-apa 'kan?"
"Tidak apa-apa, sayang. Kamu sama Bu Fatimah saja, biar umi dengan yang lainnya."
Berhubung adanya kesepakatan dan permintaan Fatimah, Azzura pun berada di mobil Fatimah dan berangkat bersama.
*****
Tidak ada pembicaraan apapun di dalam mobil selain celotehan Azriel yang sedang belajar bicara.
"Bababa, mammamam."
"Mamam, Azriel mau mamam?" tanya Azzura pada balita sembilan bulan itu yang sedang berada di pangkuannya.
"Mamam."
Azzura mengambil makanan yang ada di dalam plastik dan ia memberikan kue ke Azriel. Semua yang dilakukan Azzura di perhatikan oleh Fatimah.
"Kamu sudah lama kenal dengan Azriel? Terlihat sekali cucuku sangat mengenalimu dan sepertinya dia nyaman berada di dekatmu?"
Azzura diam, "Apa aku harus bilang kalau aku Azzura? Tapi Bu Fatimah pasti sangat marah kalau tahu aku wanita itu."
"Hmmm sebelumnya belum kenal lama."
"Saya tahu kamu itu Azzura," ucap Fatimah membuat Azzura langsung diam membisu.
"Saya minta maaf atas perkataan saya waktu itu."
Barulah Azzura menoleh ke arah Fatimah. "Ibu tahu ini aku?" Wanita yang ada di sampingnya mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
"Saya tahu dari Umi Qulsum kalau kamu Azzura. Dan saya bisa mengenalimu dari cerita beliau yang menyebutkan pakai yang kamu kenakan pada hari itu. Sekali lagi saya minta maaf atas kata-kata yang pernah keluar dari mulut saya. Pada hari itu saya begitu merendahkan mu."
"Aku sudah memaafkannya sebelum ibu meminta maaf. Tidak ada yang sama perkataan ibu karena memang orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku mengerti itu."
"Iya, orangtua memang ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Namun, terkadang pilihan orangtua salah buat anaknya. Sekali lagi saya minta maaf sama kamu."
"Tidak apa-apa, lupakan semua yang terjadi dan fokus saja pada masa yang saat ini terjadi."
Mereka berdua saling bertukar cerita sehingga menciptakan kehangatan di dalam mobil sana dan mereka tertawa-tawa.
*****
Tepat malam hari, mereka sampai ke rumah Azzura yang akan di jadikan panti asuhan. Fatimah cukup kaget melihat rumah mewah itu dengan percuma dijadikan sebagai tempat penampungan para anak-anak yang kurang beruntung.
Sebelum pulang ke rumahnya, Fatimah mengantarkan dulu Azzura kesana dan barulah pulang ke rumahnya.
"Aku tidak menyangka kalau Azzura itu wanita yang berbeda. Dia begitu mulia mendirikan panti asuhan dan tidak terlihat seperti banyak perempuan lainnya yang hanya mementingkan diri sendiri." Sepanjang pulang menuju rumahnya, Fatimah begitu kagum pada Azzura. Perlahan, Fatimah mulai menyukai Azzura dan ia juga kagum pada wanita itu.
Sesampainya di depan rumah, Fatimah menekan bel rumah.
Di dalam, Azzam yang belum tidur mengerutkan keningnya. "Siapa yang bertamu malam-malam? Mungkin itu pak mamat"
Azzam pun membuka pintunya, "mama!" Azzam pikir mamanya tidak akan pulang malam ini dan ia terkejut mamanya yang pulang.
"Azzam kamu!" Fatimah yang sedang memangku Azriel terkejut melihat putranya berdiri tanpa bantuan kursi roda.
"Kaku bisa berdiri?"
Deg.
Azzam baru menyadari keadaannya. "Eh, Mah. Iya, Azzam sudah bisa jalan."
"Masyallah, Alhamdulillah." Fatimah langsung memeluk Azzam. "Mama bersyukur banget bisa melihat kamu jalan lagi. Mama bersyukur," ucap Fatimah terharu atas kabar baik yang ia lihat.
"Mah, masuk dulu."
"Ah iya, mama lupa saking senangnya kamu bisa jalan lagi. Tapi mama ingin tahu bagaimana kamu bisa jalan dan sejak kapan?"
"Nanti aku jelaskan di dalam, Mah. Kasihan Azriel kelelahan dan sedang tidur juga. Baringkan dulu baru kita bicara."
"Baiklah."
Mereka masuk ke dalam. Terlebih dulu Fatimah membaringkan Azriel ke kamarnya yang memang ada di kamar Azzam. Lalu, dia kembali ke ruangan tengah dan ingin tahu bagaimana Azzam bisa sembuh.
Fatimah duduk di hadapan Azzam, dia menatap putranya. "Bagaimana mungkin kamu bisa jalan secepat ini? Sedangkan mama tahu kalau kamu tidak mau berobat dan masih duduk di kursi roda."
Azzam menghela nafas dan ia menyimpan ponsel yang sedang ia pegang ke meja. "Sebenarnya pas Azzam pulang ke sini sudah bisa berjalan. Namun, ada hal yang ingin Azzam tutupi dari semua orang mengenai siapa aku dan kondisi ku. Aku hanya ingin mencari perempuan yang mau mencintaiku apa adanya dengan segala batas kekurangan ku."
"Jadi ini alasan kamu tidak memberitahukan kesembuhan kamu?"
__ADS_1
"Iya, Mah. Dan Azzam akan lakukan ini sampai menemukan orang yang pas buatku."
Fatimah mengerti, ia pun tidak lagi banyak bertanya dan dia tidak melarang Azzam melakukan hal itu. "Baiklah, mama akan dukung keputusan kamu dan mama tidak akan melarang kamu selama itu dalam hal kebaikan."
"Makasih Mah atas dukungannya."
*****
Kediaman Ghina.
"Ini hari Minggu, aku mau olahraga pagi."
"Bukannya kau sedang hamil? Tidak perlu lah membahayakan dirimu sendiri! Diam saja di rumah dan masak buatku!"
"Masak? Gak! Aku tidak akan masak, beli saja. Kau kan bekerja sebagai manajer, jadi uangmu tidak akan habis hanya karena beli makanan saja." Dan Ghina keluar rumah, tapi Chiko mengikuti.
"Kau belikan saya sarapan!"
"Aku? Tidak mau! Beli saja sendiri, aku mau joging dulu," ucap Ghina sedikit berlari meninggalkan Chiko.
"Sialan, dia suka sekali menentang ku dan sulit sekali ku perintah!" Karena kesal dan lapar, Chiko jalan serang diri mencari sarapan pagi di sekitarnya.
Azzura juga berkeliling rumah di temani umi Qulsum setelah menjalankan subuh. Jam setengah enam mereka berjalan kaki hendak olah raga.
"Di sini tempatnya enak sekali, adem dan juga sejuk."
"Orang-orangnya juga pada baik, Umi."
"Tapi kamu tidak merindukan dia?"
"Tidak, setelah perpisahan kami, aku tidak lagi memikirkan dia. Aku serahkan kepada Allah dan aku ikhlaskan dia"
"Semoga Allah memberikan pengganti yang Sholeh, Nak."
"Aamiin. Eh itu ada bubur, kita sarapan di sana saja."
"Boleh." Dan mereka berdua ke tukang bubur.
"Mang beli buburnya dua, di bungkus saj ay, mang." kata Azzura.
"Siap, Bu."
Azzura duduk dan ia memperhatikan para tetangga yang juga sudah mulai beraktivitas. Hingga suara seseorang membuat Azzura tertegun.
"Mang bubur satu."
"Siap."
Azzura menoleh, "Chiko!" lirihnya dan langsung menunduk.
__ADS_1