
Viona kembali membuka matanya setelah berhasil berdamai dengan rasa sakit yang kian tidak tertahankan setiap menitnya. Rasanya wanita itu tidak sanggup lagi jika harus bertahan lebih lama lagi, tapi dia harus melakukannya demi meluruskan sesuatu yang sejak awal berantakan.
"Bertahanlah Vi, aku janji tidak akan membencimu," pinta Aqila dengan mata memerah.
Viona memaksakan senyumnya, melirik Kinanti yang tampak terdiam. Mungkin sedang mencerna sesuatu yang baru saja keluar dari mulut Viona.
"Saat om Joan tahu aku hamil, dia memaksa aku untuk mengugurkan kandunganku, tapi aku menolaknya karena takut akan membayahakan diriku sendiri. Sampai akhirnya dia menawarkan aku untuk menikah dengan Alden, karena aku mencintainya, aku menyetujui keinginan Om Joan untuk menjebak Alden."
"Harusnya kamu jujur sejak awal Vi, harusnya kamu bicarakan ini padaku. Aku ... Viona!" teriak Aqila ketika Viona memejamkan matanya bertepatan dengan suara monitor mengeras berbarengan gambar kurva berubah menjadi lurus.
"Dokter, apa yang terjadi pada sahabatku? Dia pingsan." Aqila menatap dokter yang baru saja datang setelah mendengar alat EKG yang berfungsi mendeteksi aktivitas jantung seseorang berbunyi nyaring.
Jika garis kurva telah berubah menjadi lurus, artinya jantung telah berhenti berdetak.
Dokter mendekati Viona untuk memastikan sesuatu sebelum mengatakan hal buruk pada kedua perempuan yang masih ada di dalam ruangan.
Sebenarnya memang kondisi Viona tidak bisa bertahan lama, dilihat dari luka Viona yang cukup parah.
__ADS_1
"Hari kamis, tanggal 23-2023 tepat jam 11 pagi. Pasien atas nama Viona telah meninggal dunia."
***
Setelah Viona dinyatakan telah meninggal dunia, Aqila sempat terpukul karena harus kehilangan sahabatnya. Gadis itu bahkan mengantar Viona sampai ke peristirahatan terakhir sebelum pulang kerumahnya diantar oleh Alden.
"Jangan menangis lagi, wanita sepertinya tidak pantas untuk ditangisi." Alden mengusap pipi Aqila dimana ada bekas air mata di sana. "Karena dia, kamu dan mama kamu menderita sekarang."
"Aku tidak tega Al."
"Sudah Sayang, jangan terlalu dipikirkan." Alden memajukan tubuhnya dan mengecup kening Aqila cukup lama, setelahnya turun dari mobil untuk membukakan pintu.
"Tidak, aku ada urusan penting."
Alden menolak karena akan bertemu dengan Randi untuk memastikan kebenaran yang dikatakan Viona sebelum meninggal dunia dengan memeriksa ponsel Viona. Alden takut semua sandiwara wanita itu.
Aqila menganggukkan kepalanya, melambaikan tangan sebelum memasuki rumah. Langkah gadis itu berhenti tepat di ambang pintu mendapati rumah sangat berantakan layaknya kapal pecah.
__ADS_1
"Dasar pria brengsek, kau bukan saja menghancurkan rumah tangga kita, tapi kau juga menyakiti hati putri kita dengan memisahkannya dengan Alden!" bentak Kinanti penuh emosi.
Wanita paruh baya itu benar-benar meluapkan emosinya setelah sampai dirumah. Dada Kinanti terasa sangat sesak mengetahui kelakuan bejat suaminya yang diluar nalar akal sehat manusia.
"Seharusnya jika kau ingin selingkuh, maka selingkuhlah dengan orang lain, bukan sahabat putrimu!"
"Kinanti, maafkan aku. Aku khilaf melakukannya, aku menyesal telah mengkhianati cinta kita," mohon Joan hendak meraih tangan istrinya, tapi disentak begitu saja oleh Kinanti.
"Harusnya jika kau berani selingkuh maka harus berani bertanggung jawab, bukan malah melimpahkan kesalahan pada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Kau malah menjebak Alden agar dia dan Aqila berpisah!"
"Itu karena aku membecinya Kinanti! Awalnya aku senang Aqila pacaran dengan Alden, tapi tidak setelah dia merebut semuanya!"
Joan sebenarnya tidak ingin memisahkan Aqila dan Alden, hanya saja pria paruh baya itu terlalu geram dan merasa gengsi dikalahkan oleh Alden yang usianya jauh lebih muda.
Setiap kali ada tender besar, dia selalu kalah dari Alden, disana awal kebencian di hati Joan tertanam.
...****************...
__ADS_1