PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 31. Penilaian orang belum tentu benar


__ADS_3

Fatimah mendorong kursi roda putranya masuk. Mereka juga mengantarkan Thania pulang dulu yang memang rumahnya sebelum rumah keluarga Azzam.


"Kamu kenal wanita itu darimana, Azzam? Kamu tahu, dia terlihat seperti wanita murahan. Pakaiannya saja begitu terbuka, ketiak kelihatan, paha kemana-mana, udelnya kelihatan, di tindik pula. Mama tidak suka kamu bergaul dengan wanita seperti itu. Sekalipun dia berpakaian sedikit tertutup, mama tetap tidak suka karena kita beda agama. Lebih baik Thania daripada dia. Thania sudah sangat baik sama mama, Thania sudah sering membantu mama, sering menjaga nama di kala sakit, dan Thania juga seagama sama kamu." Pas sampai rumah, Azzam dimarahi habis-habisan oleh mamanya. Dulu waktu sama Ghina juga tidak menyetujui dengan alasan tidak mengenakan pakaian tertutup. Namun, dulu Azzam tidak memberitahukan Ghina jika Azzam seorang ahli waris. Azzam membawa mamanya ke restoran dan mempertemukan Ghina dan mamanya di sana.


Sekarang, tidak ada hubungan apa-apa saja dengan Azzura, mamanya begitu sewot dan sudah bilang tidak setuju. Azzam menghelakan nafas berat dan ia sudah paham betul sifat mamanya yang seringkali menilai orang dari penampilannya.


"Mah, Azzura tetangga aku dulu. Dia orangnya baik, hanya saja penampilannya memang seperti itu, tapi hatinya sangat baik, Mah. Tentu Azzura dan Thania berbeda, mereka bukan orang sama dan terlahir dari rahim yang beda juga. Pun dengan sikap, sifat, dan penampilannya memang beda, tapi kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja, Mah. Mereka sama-sama memiliki ciri khas masing-masing." Azzam membela Azzura kerena itulah kenyataannya.

__ADS_1


"Malahan Azzura dan Ghina jika di bandingkan jauh lebih baik Azzura."


"Nah, ini nih yang Mama tidak suka dari kamu. Kamu suka melawan mama, dari dulu. Kamu bilang Ghina wanita baik dan pastinya akan baik-baik saja. Nyatanya kalian pisah, sekarang kamu juga membela wanita itu. Siapa namanya? Azzura, wanita gak jelas bentukannya. Pasti juga dia bukan wanita baik. Mama tidak mau kamu terpengaruh sama orang seperti itu!"


"Mama juga tetap seperti dulu, suka menilai orang dari penampilannya saja. Azzam tidak mau debat sama Mama, Azzam pulang hanya ingin mencari ridho dan maaf dari Mama. Kalau Mama masih suka begitu, lebih baik Azzam pergi lagi saja." Azzam pun masuk kedalam enggan memperpanjang masalah dengan mamanya.


Azzam memberhentikan kursi rodanya. "Yang terbaik menurut Mama belum tentu terbaik buat Azzam dan Azriel, yang buruk menurut Mama belum tentu buruk juga buat Azzam dan Azriel. Terkadang, kita hanya bisa menilai sebelum mengetahui. Terkadang, prasangka dan penilaian kita terhadap seseorang melenceng dari kenyataan. Jika ingin yang terbaik untuk segalanya, lebih baik kita serahkan kepada Allah sang pemilik alam. Baik buruknya seseorang hanya Allah yang tahu. Jika kita belum dilihat kan perilaku keburukannya sekarang, pasti Allah akan tunjukkan dengan caranya. Jadi, bijaklah dalam menilai seseorang yang belum tentu benar seperti apa yang kita katakan."

__ADS_1


Lalu, Azzam melanjutkan tujuannya masuk ke dalam kamar Azriel guna istirahat. Fatimah diam seribu bahasa tidak bisa berkata ataupun menyahuti perkataan Azzam yang memang ada benarnya juga.


"Semoga kali ini pilihan mama tepat. Mama yakin Thania orang baik dan baik pula buat kamu dan Azriel."


*****


__ADS_1


__ADS_2