
"Ning Anisa," ucap Azzura melihat sosok wanita cantik bertubuh mungil dengan balutan gamis syar'i dan hijab menutupi dadanya.
"Boleh aku duduk?" tanya wanita itu.
"Tentu boleh, silahkan." Azzura mempersilahkan anak Hj Samsudin itu untuk duduk di kursi di depan rumahnya.
"Kamu juga duduk di sini, aku mau bicara sama kamu." Anisa menepuk-nepuk kursi yang sedang ia duduki untuk meminta Azzura duduk di sampingnya.
Azzura mengikutinya dan duduk di dekat Anisa.
"Aku tadi melihat Ustadz Ahmad datang kesini dan berkata ingin ketemu kamu. Apa kamu dan ustadz Ahmad punya hubungan?" tanya Anisa seraya menatap Azzura.
Azzura nampak mengerutkan keningnya. "Maaf, bukannya agama kalian melarang yang namanya menjalin hubungan sebelum halal? Dan itu artinya aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Bang Ahmad. Lagi pula aku sudah menganggap Bang Ahmad sebagai kakakku. Tidak ada niatan dalam hati memiliki perasaan padanya."
"Tapi aku melihat Ustadz Ahmad menyukaimu, Azzura." Anisa menghelakan nafas berat. "Terlihat sekali jika ustadz muda itu tertarik padamu. Aku tidak tahu tebakan ku ini benar atau salah, tapi aku meyakini hal itu. Meskipun kamu bilang tidak ada perasaan, aku tidak tahu kedepannya seperti apa."
"Aku tahu, tapi aku tidak mungkin menyukai pria yang sudah memiliki calon istri. Dan sekalipun aku menyukainya, aku dan dia tidak mungkin bersama."
Anisa diam dan berusaha mencerna, tapi dia kembali bersuara, "Azzura, aku dan ustadz sudah di jodohkan dari kecil. Dan kami juga sudah saling memiliki ikatan. Boleh aku minta sesuatu padamu?"
"Boleh, hal apa itu?" Azzura menyikapinya dengan santai, ia tidak terbawa emosi karena memang dia tidak merasakan kepada anak pemilik pesantren.
__ADS_1
"Aku mohon jauhi Ustadz Ahmad. Kami sudah mau menikah dan aku tidak ingin Ustadz Ahmad berpaling hati kepadamu. Sekalipun aku tahu kamu tidak akan menyukainya, tapi sampai kapanpun kalian tidak mungkin bersama karena ada benteng pertahanan Di Antara kalian. Sekalipun beliau suka kamu, tapi tidak mungkin bagi kalian bersama."
Azzura tersenyum tipis, tapi terlihat manis dan juga cantik.
Tidak ada komentar apapun selain senyuman manis yang Azzura perlihatkan. Hingga ia kembali berkata yang membuat Anisa diam seribu bahasa.
"Kalau kamu dan Ustadz Ahmad sudah saling memiliki ikatan, lebih baik kalian segera menikah agar tidak ada lagi kesalahpahaman terhadap aku. Sekalipun aku berusaha menjauh, jika Tuhan terus mendekatkan kami, aku tidak bisa apa-apa. Dan aku meyakini satu hal bahwa tidak akan ada persatuan diantara kita dan tidak akan ada perasaan tumbuh di hatiku untuknya. Kenapa? Karena aku menyukai orang lain."
"Aku pegang ucapan mu, Azzura. Aku minta maaf sudah bicara seperti ini. Aku hanya takut kehilangan calon suamiku, maaf."
"Assalamualaikum," ucap seseorang.
"Waalaikumsalam." Kedua wanita itu menoleh.
"Umi kesini? Bagaimana keadaan umi? Sudah baikan?" Azzura segera berdiri dan membantu wanita yang sering di sapa umi Qulsum itu untuk duduk di kursi.
Anisa kalah start dan ia hanya berdiri memperhatikan bagaimana Azzura begitu baik memperlakukan Umi Qulsum. Sudah satu minggu wanita yang sudah dianggap Azzura sebagai ibunya sakit.
"Alhamdulillah baik, hanya tinggal lemasnya saja. Umi bosan di rumah terus, istrinya Ali dan Ali sudah kembali pulang, Ahmad selalu sibuk dengan urusannya, di rumah Umi sendirian, makanya datang ke sini."
__ADS_1
"Seharusnya umi tidak udah dulu banyak gerak. Di rumah saja dulu banyakin istirahat, 'kan ada Anisa yang bisa temani umi di rumah," ujar Anisa.
"Iya, Umi. Sebentar lagi kan Anisa jadi istrinya Bang Ahmad, bisa setiap hari menemani Umi di rumah," timpal Azzura.
Umi Qulsum tersenyum, tapi hatinya sangatlah tahu bagaimana perasaan sang putra. Kalau bukan karena perjanjian perjodohan yang dilakukan suaminya sebelum meninggal dengan orang tuanya Anisa, umi Qulsum tidak akan memaksa sang putra untuk menerima perjodohan itu.
"Sebenarnya umi menyukai mu, Nak Azzura. Namun, Umi tidak bisa memaksa kamu."
Azzura mengambil minuman air hangat. Lalu memberikannya kepada Umi Qulsum. "Jangan dulu jalan-jalan, Mi. Azzura takut Umi sakit lagi."
"Insyaallah tidak sayang."
"Umi," panggil Anisa.
"Iya."
"Abi sudah menentukan pernikahan Anisa dan Ustadz Ahmad. Abi bilang satu Minggu lagi, Anisa kesini di suruh Abi buat memberitahukan Umi. Mungkin sebentar lagi Abi juga datang setelah selesai urusannya buat menjelaskan semuanya." Jarak rumah umi Qulsum dan rumah Anisa berdekatan.
"Insyaallah Umi mah setuju."
__ADS_1