PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 97. Pengorbanan Miho


__ADS_3

Sepeninggalan Aqila dan Alden, Randi mencoba menghampiri Miho yang berdiri tidak jauh darinya. Jika boleh jujur Randi sedikit gugup untuk berdekatan dengan seorang gadis.


Selama ini Randi pandai menasehati hubungan seseorang bukan berarti dia pengalaman, hanya saja penerawangan semata. Randi tidak pernah pacaran dengan siapapun karena terlalu sibuk mengurus Alden yang sedikit tidak beres tentang pekerjaan.


"Biar saya bantu bawa kopernya." Mengambil alih koper di tangan Miho, lalu berjalan beriringan keluar dari bandara menuju mobil yang terpakir rapi.


"Terimakasih kak Randi, bukan ya?"


"Benar, tapi sepertinya tidak perlu panggil kak. Terlalu formal untuk ukuran teman."


"Kita berteman?" Langkah Miho berhenti, tatapannya tertuju pada Randi.


"Kamu tidak suka?"


"Suka, baru kali ini aku bertemu teman sebaik Kak ...." Miho mengigit bibir bawahnya ketika Randi mendesis. "Randi, makasih sudah membantuku untuk pulang. Sebenarnya aku sangat merindukan seseorang di negara ini."


Miho terus saja berjalan, langsung masuk ke mobil setelah dibukakan pintu oleh Randi.


Sementara Randi diam-diam memperhatikan Miho yang langsung sibuk dengat ponselnya.

__ADS_1


"Apa harapanku harus pupus sebelum dimulai?" batin Randi. Pria itu mengira orang yang sangat Miho rindukan adalah kekasihnya. Mungkin mereka terpaksa berpisah karena urusan pekerjaan.


"Kenapa belum jalan? Apa ada yang ketinggalan?"


"Tidak ada," jawab Randi buru-buru mengalihkan perhatiannya dari Miho.


Pria itu melajukan mobil secara perlahan meninggalkan bandara. Berdehem sebentar sebelum mengeluarkan suara agar tidak merasa canggung.


"Ada tempat rekomendasi untuk makan siang?" tanya Randi.


"Ada apa kau mau mengantarku?"


Miho tertawa, merasa senang bisa mengenal pria sebaik Randi. "Aqila beruntung ya? Dikelilingi orang-orang yang dia sayangi. Punya kekasih sebaik Alden, punya orang tua yang menyayanginya juga menuruti semua keinginannya, dan teman sepertimu." Gadis itu mulai cerocos sendiri seperti yang sudah-sudah.


Miho gadis yang cepat akrab dan pandai menyesukai diri dengan lingkungan jadi cepat nyaman berada di sekitar seseorang asal baik padanya.


"Bisa sebutkan alamat rastorannya?"


"Restoran?" Miho mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Makan siang diresto mana?"


"Oh makan siang. Aku punya rekomendasi tempat tapi bukan restoran melainkan warung kecil, apa kamu bersedia? Kalau tidak turunkan saja aku disini, aku bukan turis yang bakal nyasar kok." Cengir Miho.


"Tidak perlu." Randi semakin mencap laju mobilnya, terlebih setelah Miho memberikan alamat warung makan yang dimaksud gadis itu.


Randi memelankan laju mobilnya setelah sampai di alamat yang ditujukan oleh Miho. Pergerakan tangan Randi yang hendak turun membukakan pintu berhenti melihat Miho begitu antusiasnya turun dari mobil lalu berlari menghampiri wanita paruh baya yang baru saja keluar dari warung makan.


"Ibu!"


"Miho? Benar Miho?"


"Iya ini Miho ibu." Miho lantas memeluk wanita yang selama ini dia rindukan. Tiga tahun berpisah tentu saja memendam kerinduan yang sangat dalam di hati kedua perempuan berbeda generasi tersebut.


Karena pengorbanan Miho menahan kerinduan untuk tidak pulang, akhirnya gadis itu berhasil membelikan rumah untuk ibunya yang tinggal sendirian. Bahkan memberi modal usaha kecil-kecilan seperti warung yang terlihat sangat ramai.


"Ibu tidak menyangka kamu akan datang Nak. Ibu senang. Setelah ini jangan pergi-pergi lagi ya. Tidak apa-apa kita hidup berkecukupan. Ibu tidak membutuhkan uangmu, tapi kehadirahmu di sisi ibu." Wanita paruh baya itu meneteskan air matanya karena telah lama memendam rasa rindu.


Miho ikut meneteskan air mata, sambil menganggukkan kepalanya meski masih ada karaguan dalam hatinya. Terlebih dia hanya mempunyai izin dua minggu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2