PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 99. Persiapan Foto Prewedding


__ADS_3

"Kenapa lagi Al," tanya Aqila setelah menjawab panggilan dari kekasihnya.


Aqila baru saja memutuskan sambungan telpon beberapa menit yang lalu, tapi kekasihnya kembali menelpon. Apa Alden tidak bosan membahas sesuatu berulang kali?


"Aku masih kangen Sayang. Lagipula ...."


"Besok kita akan bertemu Al, jangan banyak alasan gini deh!"


"Hm baiklah." Dengan wajah cemberutnya di seberang telpon, Alden memutuskan teleponnya begitu saja, membuat Aqila tersenyum.


Alden jika tidak dimarahi atau sekedar dilarang, maka akan terus menelpon tanpa henti meski hanya membicarakan nyamuk yang terdengar di telinganya.


Ya sebucin itulah Alden pada Aqila, sehingga dulu gadis itu cukup terpukul saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Alden tidur dengan wanita lain.


Aqila memperbaiki posisi tidurnya menjadi menghadap pintu, perlahan-lahan memejamkan mata untuk menyambut matahari secepat mungkin esok pagi.


***


Gadis dengan paras cantik dan baik itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah tidur semalaman dengan nyenyak. Aqila mengucek matanya sebentar sebelum memeriksa notifikasi di ponselnya.


Mata gadis itu membulat sempurna. "Hah memangnya Al tidak tidur? Kenapa begitu banyak panggilan dan ucapan selamat pagi? Sungguh dia semakin menjadi."

__ADS_1


Aqila mengelengkan kepalanya tidak percaya melihat tingkah ajaib calon suaminya. Karena jarum jam sudah menunjukkan angka delapan pagi, gadis itu langsung saja mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat bersama Miho, Alden juga Randi.


Langkah Aqila berhenti di ambang pintu ketika akan memasuki dapur. Mulutnya terganga melihat dua pria tampan di meja makan.


"Kenapa kalian cepat sekali? Bukannya perjanjian kita jam 10 pagi?" tanya Aqila langsung duduk di samping Alden yang menyantap sarapannya.


Sementara Kinanti hanya bisa tersenyum melihat respon putrinya yang terlihat sangat lucu.


"Sebenarnya begitu Nona, tapi Tuan Al tidak sabar ingin bertemu secepat mungkin."


"Randi!"


Usai sarapan bersama di meja makan, Alden, Aqila dan Randi akhirnya meninggalkan rumah dengan membawa beberapa baju di dalam koper lumayan besar.


Mereka berencana akan bermalam di Villa yang berada di puncak selama tiga hari tiga malam untuk melakukan foto preweding. Aqila mengajak Miho agar bisa menikmati waktu berdua juga sekalian liburan bersama-sama.


Tepat saat mobil berhenti di sebuah warung sederhana, Aqila langsung turun dan mengetuk pintu rumah seseorang.


"Miho!" panggil Aqila.


Yang di panggil langsung keluar, bukan membuka pintu yang diketuk Aqila, melainkan dari warung makan.

__ADS_1


"Qila aku di sini!"


"Kamu belum bersiap-siap?" Mata Aqila membulat sempurna melihat penampilan acak-acakan Miho. Persis seperti saat mereka tinggal bersama.


"Apa kau tidak malu pada Randi?"


"Kenapa aku harus malu padanya? Memangnya dia siapa?" tanya Miho acuh tanpa malu dengan penampilannya. Gadis itu menghampiri Aqila. "Katanya jam 10, ini baru jam 9 pagi Qila."


"Ck, jangan banyak protes, sebaiknya kau mandi aku akan menunggumu di warung!"


"Baiklah." Pasrah Miho.


Gadis itu buru-buru berlari masuk ke rumahnya tanpa menyadari tatapan Randi di balik kaca mobil. Pria itu sedikit terpaku akan penampilan acak-acakan Miho.


Baru kali ini Randi melihat seorang gadis benar-benar tidak memperhatikan penampilannya sama sekali.


"Seperti gembel tapi sayangnya sangat cantik dan menarik perhatian!" gumam Randi tanpa sadar Alden masih ada di dalam mobil dan tentu saja mendengarnya.


"Sesuatu yang dipendam itu tidak baik. Contohnya kentut, semakin dipendam semakin sakit perut. Apalagi cinta," celetuk Alden sambil memejamkan matanya di jok belakang. Pria itu masih mengantuk karena bangun terlalu pagi hanya untuk menyapa kekasihnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2