
"Pak tolong bantu saya keluar!" pinta Azzam pada pak Mamat.
"Zam, kamu aku ngapain? Siapa wanita itu? Mending kita pulang saja." Thania tidak ingin azan turun dan menemui pakaian seksi itu. Dia merasa memiliki saingan meski hanya lihat sebentar saja.
"Dia temanku, aku tidak mungkin membiarkan dia menangis seorang diri tanpa ada yang menemani." Setelah pak Mamat mengeluarkan kursi rodanya, Azzam turun di bantu pak Mamat.
"Tapi, Zam ..."
"Jangan ikut campur, Thania!" Azam memperingati membuat Thania terdiam.
"Sialan, siapa wanita itu? Berani sekali dia membuat Azzam peduli padanya. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus beritahu Tante Fatimah."
Azzura menghapus air matanya dan ia berdiri hendak pergi. Namun, Azzam segera meraih tangan Azzura dan menatapnya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Meskipun azzam berusaha untuk tidak peduli, tapi ia tidak tega melihat Azzura menangis seorang diri.
"Maaf, Mas. Aku harus pergi." Entah pergi kemana, Azzura tidak tahu. Namun, yang ingin ia lakukan pergi dari kota J.
"Kita bicara dulu di sana. Aku mohon." Azzam tahu jika Azzura sedang tidak baik-baik, saja. Dia ingin mendengar ceritanya.
"Mas," lirih wanita itu kembali menangis. Ia bingung harus apa? Ia bingung ingin bercerita karena tidak mampu menahan beban seorang diri.
"Ada apa?" tanya Azzam begitu lembut.
__ADS_1
*****
Setelah di bujuk, barulah Azzura mau duduk dan menceritakan tentang masalah yang sedang ia hadapi. Azzam diam menahan amarah pada orang-orang yang hendak berbuat jahat.
"Aku tidak tahu kenapa dia tega melakukan ini. Seandainya aku tidak bisa kabur pasti sudah ... hiks hiks hiks." Azzura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menangis terisak. Ia juga merasa sudah hilang harga dirinya disaat Erik melecehkannya.
Azzam terpejam, hatinya ikut sakit mendengar tangisan pilu dari Azzura. "Boleh aku memberi saran?"
Azzura mendongak seraya menoleh ke samping. Meski ia masih terisak, tapi Azzura mengangguk.
"Pakaian mu! Pakaian yang kamu kenakan bisa membuat laki-laki bernafsu dan hendak melakukan hal pelecehan. Mungkin setiap kali mereka melakukan tindakan itu, pasti yang di salahkan pria. Namun, tanpa mereka sadari jika perempuan juga memiliki kewajiban untuk menutupi aurat serta setiap lekukan tubuhnya. Setidaknya dengan mengenakan pakaian tertutup bisa melindungi wanita dari syahwat laki-laki. Aku tahu jika kamu ini non muslim, tapi setidaknya kamu mengenakan pakaian yang lebih sopan dari sekarang guna menjaga dari pandangan nakal mereka."
Azzura mendengarkan dan dia memperhatikan penampilannya yang memang sangat terlihat seksi. Azzura mengusap air matanya secara kasar dan kembali mendengarkan Azzam.
"Penampilan ku." Azzura mulai memperhatikan dirinya sendiri dan mulai mengingat-ingat jika banyak pria yang selalu menatapnya berbeda. "Apa ini alasan pria selalu menatapku nakal? Penampilan ku yang terlalu terbuka."
"Aku memang non muslim, tapi aku ..."
"Azzam, kamu ngapain di sini?" ujar seorang wanita membuat Azzam dan Azzura menoleh.
"Mama! Mama ngapain juga di sini?" Azzam kaget mamanya menyusul. Fatimah memperhatikan Azzura dan tatapannya begitu sinis.
Azzura melirik Azzam sempat kaget mendengar pria itu menyebutnya mama. Azzura pun berdiri dan hendak menyalami Fatimah. Namun, tangannya malah terus menggantung karena Fatimah tidak membalasnya.
__ADS_1
"Tante, maaf."
Thania memperhatikan dan ia menatap tidak suka pada Azzura.
"Saya ingatkan kepada kamu untuk tidak mengganggu putra saya! Emangnya siapa kamu berani sekali membuat Azzam memberhentikan mobilnya hanya untuk menemui wanita macam kamu?"
"Mah, Azzura tidak ..."
"Cukup Azzam! Mama pikir kamu keluar dengan Thania saja, tapi nyatanya kamu malah menemui wanita ini." Fatimah memperhatikan penampilan Azzura dari atas sampai bawah dan balik lagi dari bawah hingga atas. "Penampilannya saja menunjukan jika dia bukan wanita baik-baik, apalagi mama dengar dia beda agama sama kita. Dan kamu, lebih baik kamu pergi jauhi putraku!" pinta Fatimah pada Azzura.
Wanita itu menunduk mencoba untuk tidak melawan ataupun membela diri.
"Sekalipun Azzam menyukai mu, saya tidak akan setuju pada orang beda agama. Dan saya juga tidak ingin putra saya bergaul dengan orang-orang kotor seperti kamu!"
Tes.
Azzura meneteskan air mata mendengar akta Kotor. Ia menyadari jika dirinya sudah kotor dan tidak ada harga dirinya lagi di saat Erik sudah melecehkannya.
"Mah jangan bilang begitu. Azzura tidak seperti itu."
"Lebih baik kita pulang! Jangan coba-coba melawan mama, Azzam!" Fatimah mendorong kursi roda putranya.
"Mah, tapi Azzura sendirian, kasihan dia. Dia wanita." Azzam melirik ke belakang tidak tega, tapi ia juga tidak bisa membantu Azzura. Namun, saat sudah di dalam mobil, Azzam meminta seseorang untuk mengantarkan Azzura.
__ADS_1
Azzura mengerjapkan matanya, "aku kotor. Tante itu benar, aku kotor dan bukan wanita baik-baik."