PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 85. Sisi Lain Alden


__ADS_3

"Saya gaji kamu untuk bekerja! Bukan malah bersantai seperti ini. Satu desain saja tidak bisa kau kerjakan dalam waktu satu bulan, bagaimana yang lainnya?" Melempar hasil desain ke atas meja.


Alden sedang memeriksa langsung pekerjaan para karyawannya. Terlebih dibagian desainer, bagian perusahaan yang baru beberapa bulan ini dia kembangkan. Kepala Alden rasanya ingin pecah melihat sketsa tidak ada yang benar-benar memuaskan.


"Dalam satu minggu tidak ada peningkatan, kau akan saya ganti dengan ...." Kalimat Alden berhenti ketika suara keras terdengar. Pria itu berbalik dan mendapati Aqila tersungkur ke lantai.


"Sayang?" Alden lantas menghampiri kekasihnya dan membantu gadis itu berdiri. "Kenapa bisa jatuh? Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa hanya saja merindukanmu."


"Ck." Alden melirik Randi seakan memberi kode agar mengurus masalah hari ini, sementara dirinya mengamit pinggang Aqila meninggalkan ruangan rapat.


Alasan Aqila tadi terjatuh, itu karena dia tidak sengaja disenggol oleh desainer yang terlambat masuk. Tapi Aqila tidak mengatakan pada Alden karena semua itu ketidak sengajaan.


"Ternyata pacar aku kalau marah seram juga ya? Aku mengira seorang Alden tidak bisa marah pada siapapun."


"Marahku hanya untuk orang-orang bersalah, Sayang," sahut Alden mengelus rambut Aqila setelah mereka sampai di dalam ruangan Alden. Duduk di sofa berdua saja.

__ADS_1


"Lalu kalau aku salah dimarahin?" Mendongak menatap kekasihnya.


Alden lantas mengeleng dengan senyuman. "Disayang sambil beri tahu kalau yang kamu lakukan itu salah."


Pipi Aqila seketika merona mendengar jawaban Alden, sepertinya keputusan yang dia ambil sudah tepat. Keputusan yang membuat Aqila datang ke perusahaan tanpa diketahui Alden.


Gadis itu langsung memeluk lengan Alden dan dibalas kecupan dikening.


"Tambah cantik banget sih pacar aku."


"Aku mau nikah."


"Aku siap menunggu jadi jangan paksakan diri, Qila."


"Aku siap menikah dan menjadi istrimu Al, apa kau tidak mau?" Aqila memanyunkan bibirnya


"Hey kenapa cemberut seperti itu Sayang? Tentu saja aku mau menikah."

__ADS_1


"Kata mama mulai hari ini kita sudah harus mempersiapkan segalanya. Karena ini pernikahan kita dan hanya akan dilakukan satu kali seumur hidup, maka pestanya harus meriah.


Alden tertawa mendengar keantusiasan kekasihnya. Pria itu menjawil cuping hidung Aqila karena terlalu gemas.


"Semua dunia juga harus tahu kalau kamu milikku seorang," kata Alden.


"Aqila hanya milik Alden selamanya." Cengir Aqila menumpu dagunya di pundak sang kekasih. Tujuan Aqila ke kantor hanya untuk mengatakan ingin menikahi Alden tidak ada yang lain.


Tadi setelah mendapat kiriman banyak bunga dari Alden, gadis itu mendapat banyak nasehat dari mamanya. Entah tentang sebuah hubungan atau sebuah kepercayaan satu sama lain antar pasangan.


Meski tahu mamanya gagal dalam pernikahan sebab diselingkuhi oleh papanya, tidak membuat Aqila merendahkan semua nasehat yang Kinanti berikan. Bahkan Aqila mendengarkan dengan seksama dan melakukan perintah mamanya yang menurutnya baik.


"Kalau kita menikah nanti, tinggalnya dirumah tidak apa-apa? Aku anak tunggul dan mama sebentar lagi akan cerai dengan papa. Artinya cepat atau lambat mama akan sendiri." Aqila mendongak menatap Alden. Berharap pria itu setuju dengan permintaannya.


"Kenapa tidak, hm? Tinggal dimana saja asal bersamamu aku mau."


"Pohon?"

__ADS_1


"Sama kamu tidak apa-apa, serius," canda Alden.


...****************...


__ADS_2