PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 62. Tanda merah!!


__ADS_3

Dari pagi, siang, hingga sore, Chiko betah bersama wanita bernama Maria. Salah satu wanita yang seringkali menemani dia dikala ingin bersenang-senang. Pas bangun tidur, Chiko sempat kaget tempat di mana dia berada. Di tambah keadaan yang polos tanpa busana membuatnya semakin terkejut dan mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.


Dan ketika Maria masuk dia kebingungan karena pada saat itu dirinya bertemu Azzura. "Maria, kau disini? Apa yang terjadi kepadaku? di mana Azzura?" tanya Chiko pada hari itu.


Maria duduk di samping Chiko dengan gaya sensualnya. "Chiko sayang, ada aku di sini tidak perlu mencari wanita lain. Kita nikmati waktu bersama kita selagi hanya ada kita berdua."


"Aku tanya dimana Azzura? Semalam aku sedang bersama Azzura dan kita menikmati malam indah bersama. Tapi kenapa malah ada kami di sini?"


"Chiko, tidak ada Azzura di sini hanya ada aku, Maria. Semalam yang menghabiskan malam hangat itu bukan wanita bernama Azzura, tapi aku. Kau mabuk? Tidak ingat malam hangat kit?" Maria nampak kecewa ketika Chiko tidak mengingat malam indah itu. Padahal, malam-malam panas mereka selalu Maria rindukan dan berharap bisa memiliki pria yang ia cintai.


Keduanya di pertemukan di salah satu club malam pada saat Chiko diterima kerja sebagai manager. Sebelumnya, Chiko merayakan keberhasilan dia dalam naik jabatan bersama rekan-rekannya dan malah berakhir dengan salah satu wanita malam di sana. Sejak saat itu, ketika Chiko suntuk dengan kehidupan sehari-harinya, dia selalu lari ke tempat hiburan malam dan laki-laki bermain dengan Maria wanita yang sering ia sewa jasanya.


Namun, dari kejadian itu justru membuat Maria terpesona dan jatuh cinta pada sosok Chiko. Hal ini juga dijadikan ia kesempatan untuk mendekati Chiko.


"Kenapa bisa jadi kamu sih?" Chiko mengusap wajahnya secara kasar. Ia kira kalau permainan semalam itu bersama wanita yang ya cinta, tapi nyatanya semua hanya ilusi semata karena ternyata yang bermain dengannya adalah Maria.


"Lalu siapa? Azzura yang kau maksud? Siapa sih dia sampai kau sakit membayangkan kalau aku ini Azzura? Kau tidak tahu jika aku menginginkan kamu bukan hanya sekedar partner di ranjang saja, melainkan di dunia nyata juga."


"Maksudmu apa bicara seperti itu?" Chiko tidak mengerti, dia yang masih pusing akibat mabuk semalam belum bisa mencerna semua yang Maria ucapkan.


"Maksudnya, aku menyukaimu, Chiko. Semua yang kita lakukan selama ini membuat aku terus-terusan teringat padamu dan ini selalu berada di sampingmu. Aku jatuh cinta padamu, Chiko." Maria mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam kepada pria idamannya. Meskipun dia melayani banyak pria, hatinya memilih Chiko.


"Tapi sayangnya aku tidak, orang yang aku cintai itu hanya Azzura. Dan kau hanya pelampiasan hasrat ku saja," ucap Chiko menyakiti perasaan Marian. Dia menyibak selimut dan bangunan dari kasur tanpa sehelai benangpun.


Maria juga berdiri langsung memeluk Chiko dari belakang. "Aku tidak peduli dengan itu, terpenting bagiku bersamamu adalah hal yang paling ku inginkan dan membahagiakan. Selama bersama ku, kau milikku dan selama bersama dia, kau miliknya. Aku tidak peduli itu, Chiko." Maria terus memeluk tubuh Chiko dan tangannya mulai menyusuri setiap jengkal tubuh pria itu.

__ADS_1


"Jangan harap kau bisa membuatku cinta padamu. Kita hanya partner saja, tidak lebih dari itu."


"Aku tahu, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku tidak akan menuntut mu untuk menyukaiku atau menikahi ku, hanya bisa begini saja aku bahagia. Mari kita nikmati kebersamaan ini selagi kau bersama ku, aku janji itu, Chiko." Maria tidak mungkin memaksakan cintanya di balas oleh Chiko karena ia tahu kalau Chiko sudah menikah. Namun, ia tidak pernah tahu nama istrinya Chiko.


"Baiklah, kau memang tidak usah berharap padaku. Cintaku hanya untuk Azzura saja." Chiko membalikkan badannya dan ia mendorong tubuh Maria. "Sekarang kau tidurkan milikku yang sudah kau mainkan." Chiko menindih lagi Mari dan mereka kembali menikmati sentuhan nakal.


"Tidak apa-apa kau tidak menyukaiku, asalkan aku bisa mengandung anakmu saja, aku sudah bahagia." Saat ini dia tidak memakai pencegah kehamilan dengan alasan ingin hamil anak Chiko sebagai kenangan dari pria yang ia cintai. Dia juga tidak mau melakukan hal apapun untuk merebutnya. Hanya dengan begini saja membuat Maria bahagia.


*****


"Mas kita mau kemana?"


"Aku mau mengajak mu ke suatu tempat dimana akan ku perkenalkan kamu ke seseorang yang paling berarti dalam hidupku." Azzam menoleh dengan tangan kiri menggenggam tangan Azzura. Ia tersenyum manis.


"Siapa? Apa orang itu begitu spesial buat kamu?" Azzam yang sedang memangku Azriel di buat penasaran hingga ia juga menoleh menatap penasaran.


Azzura diam, tapi ia penasaran siapa orang itu. "Perempuan atau laki-laki?"


"Kalau perempuan kenapa kalau laki-laki kenapa?"


Azzura melepaskan genggaman tangan Azzam. "Ishh, terserah kamu saja. Mau jawab silahkan, mau enggak juga silahkan, aku memang tidak seharusnya banyak tanya." Azzura memberenggut kesal.


"Gitu aja kok ngambek," balas Azzam terkekeh seraya mengusap lembut kepala Azzura.


"Enggak, aku gak ngambek."

__ADS_1


"Enggak, tapi manyun gitu, gemes jadinya." Azzam gemas, kalau tidak lagi di jalan ia sudah membawa Azzura pada pelukannya. Azzura tidak membalas perkataan Azzam, ia diam saja dengan rasa penasaran Nyang tinggi. Azzam juga tidak menjelaskannya, biar nanti Azzura tahu sendiri.


*****


Azzura mengerutkan keningnya menyadari tempat mereka berhenti. "Loh, kok kota ke pemakaman?"


"Karena aku ingin memperkenalkan mu ke kakeknya Azriel." Azzam menggenggam tangan Azzura, dan mengajaknya ke makan mendiang papanya. Azzura mengikuti kemana langkah Azzam membawanya.


Setibanya di makam bertuliskan ADIGUNA AL- FAUZI, Azzam menaburkan bunga dan ia berdoa khusu bareng Azzura. Sehabis berdoa, Azzam memperkenalkan sang istri.


"Assalamualaikum, Pah. Maaf baru kesini lagi. Azzam minta maaf karena Azzam jarang mengunjungi papa. Pah, sekarang Azzam sudah berkeluarga lagi dan aku ke sini mau memperkenalkan istriku pada papa. Dia Azzura Fatharani Az-Zahra, dia cantik, baik, dan pastinya Azzam nyaman berada di dekatnya," tutur Azzam seraya menatap Azzura.


"Pah, doakan Azzam agar mampu menjadi suami dan ayah yang baik dan bertanggungjawab untuk keluarga Azzam sendiri. Insyaallah, ini adalah pernikahan terakhir untuk Azzam." Tiada lagi keinginan Azzam selain bahagia dengan pernikahannya.


*****


Kediaman Ghina.


Ghina baru saja pulang, ia menunggu Chiko yang tak kunjung pulang juga. "Keman Adia pergi seharian ini? Bisa-bisanya dia tidak ada di rumah dan menelantarkan ku begitu saja." Ghina ngomel sendiri sambil melemparkan tas kerjanya.


Hingga suara pintu terbuka kasar membuat Ghina menoleh. "Chiko, kau darimana saja seharian ini? Kau tahu, kerajaanmu di kantor menumpuk dan harus segera di selesaikan."


"Aku lelah, gak peduli dengan kerjaan itu." Chiko tidak ingin dulu membahas kerjaan, dia lelah bermain dan mencari Azzura. Chiko ingin melewati Ghina, namun langkahnya terhenti ketika Ghina menyadari sesuatu.


"Tunggu!" dia mencekal tangan Chiko dan menyibak kerah kemeja bajunya Chika.

__ADS_1


"Tanda merah?!"


Deg.


__ADS_2