PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 29. Kesedihan Chiko


__ADS_3

"Akhirnya aku bisa pulang juga," gumam Chiko sidah berada di perjalanan pulang. Selepas kerja, dia langsung pulang. Namun, di perjalanan dirinya menyempatkan diri mampir ke toko bunga dan ke toko kue pesanannya.


Dia sudah sangat tidak sabar bertemu Azzura dan makan malam bersama. Setibanya di halaman rumah, Chiko segera turun. Dia tergesa masuk rumah yang ternyata tidak di kunci, tapi keadaan masih gelap gulita.


"Kok gelap? Dimana Azzura?" gumam Chiko sambil mencari saklar lampu.


"Azzura, kamu dimana? Aku pulang?" Chiko menyimpan bunga dan kuenya dulu. Namun, pas lampu menyala, hal yang ia temukan adalah sebuah map, foto, dan cincin yang sengaja Azzura simpan di atas meja dekat saklar lampu.


"Surat, foto, cincin?" Gumam Chiko cepat-cepat mengambil itu semua. Matanya terbelalak saat melihat foto dirinya dan Ghina yang sedang bermesraan di kedai sate, dan foto dia di beberapa tempat sebelum menuju hotel, dan juga foto fotonya ketika tengah tak memakai pakaian yang ada di dalam hotel. Sedangkan Ghina sebagian tubuhnya tertutup selimut, tapi masih jelas jika foto itu menunjukan dia dan wajah Ghina.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin Azzura mengetahui ini semua. Darimana dia tahu skandal ku dan tetangga rumah? Ini tidak mungkin." Chiko menggelengkan kepalanya tidak mempercayai atas apa yang ia temukan di dekat meja.


Matanya kembali beralih menatap sebuah cincin pernikahan yang tersimpan di atas map. Lagi-lagi Chiko di buat kaget.


"Cincin, itu artinya Azzura ..." Chiko tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia mulai menyadari kalau kini azura memutuskan berpisah darinya. Setelah melihat cincin itu, Chiko berpikir Azzura tidak ingin lagi menjalin rumah tangga dengan dia.


Chiko kembali mengambil map, dan matanya terbelalak membaca setiap kata dari isinya. "Su-surat perceraian. Tidak! Azzura tidak mungkin melakukan ini."


Chiko berlari ke kamarnya dan mencari keberadaan Azzura di setiap tempat. "Azzura, kamu dimana? Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Zura. Kamu tidak boleh pergi dariku!" Di saat begini, Chiko panik dan tidak ingin kehilangan istrinya. Namun, disaat dunia menggoda, ia seakan lupa pada istrinya dan terbuai oleh dunia.


"Azzuraaaa!" pekik Chiko tidak bisa menemukannya. Chiko terduduk lesu di pinggiran ranjang sambil menyenderkan punggungnya. Dia menjambak rambutnya merasa bodoh telah melakukan kesalahan.


Lalu, Chiko membuka lipatan kertas.


*Hai, pasti saat ini kamu mencarimu ya. Maaf, aku tidak bisa bersama kamu lagi, Chiko. Di saat kamu mengkhianati ku, di situ aku memutuskan pergi. Mungkin, kalau hanya sebatas perselingkuhan saja aku masih bisa berusaha menerima dan bertahan, tapi jika sudah melakukan hubungan badan, aku tidak bisa. Bukan berarti aku tidak mencintaimu, tapi rasa cinta itu seketika berubah di saat kamu sendiri yang berubah.


Chiko, terima kasih atas waktu empat tahunnya. Dia tahun pacaran, dan dua tahu pernikahan. Banyak suka duka yang kita lewati bersama hingga kamu di berikan kesuksesan di dunia. Namun, aku tidak busa menemanimu lagi di kala kepercayaan ku, cintaku, dan kasih sayang ku kamu nodai dengan pengkhianatan cinta. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa hidup dalam bayangan pengkhianatan cinta mu. Maaf, aku pergi. Selamat berbahagia bersama dia yang kamu jadikan kekasihmu*.

__ADS_1


Deg.


Jantung Chiko seakan berhenti berdebar, ia melupakan jika Azzura bukanlah wanita yang mudah kembali di saat hatinya tersakiti, kepercayaannya ternodai, dan cintanya di sakiti.


"Dia pergi. Bodoh, bodoh, kau bodoh Chiko!!! Aakhhhhh."


*****


"Mah, Azzam mau keluar sebentar. Nanti kalau Azriel bangun minta tolong buatkan susu." Azzam sudah terlihat rapi dan segar.


"Kamu mau kemana, Zam?"


"Hanya mau cari angin saja buat nenangin diri."


"Ajak Thania, ya. Sekalian kalian mendekatkan diri biar lebih akrab."


"Zam, mama mohon. Ini demi kamu dan juga Azriel. Mama lakukan ini demi kebahagiaan kamu. Nurutlah apa kata Mama." Fatimah memelas berharap putranya mau membawa Thania pergi.


Azzam menghela nafas. "Baiklah, terserah Mama saja."


*****


Mau tidak mau Azzam pergi bareng Thania. Di dalam mobil pun keduanya tidak ada yang bersuara. Azzam bingung harus berkata apa, pun dengan Thania yang menunduk malu-malu kucing.


Azzam hanya pergi ke makan ayahnya dan pulang larut malam. Thania setia menemani, tapi wanita itu malah diam di dalam mobil tanpa melakukan ziarah kepada orang tuanya Azam. Saat ini, mereka sedang berada di perjalanan pulang.


"Azzam, apa kamu keberatan?" hingga suara Thania memecahkan keheningan.

__ADS_1


"Keberatan kenapa?"


"Dengan adanya aku di sini."


"Tidak, hanya saja aku merasa tidak nyaman saja." Azzam berkata jujur membuat Thania sedih.


"Sulit sekali mendekati pria ini."


"Hmmm apa kamu bersedia menerima perjodohan ini?"


"Tidak tahu, kita jalani saja dulu." Azzam tidak memberikan jawaban pasti. Ia masih mencintai Ghina, tapi tak di pungkiri dirinya berusaha meluapkan Ghina. "Mungkin dengan adanya Thania di sisiku, aku bisa meluapkan Ghina."


"Den, seperti ada wanita menangis."


"Dimana pak Mamat?" Azzam mencondongkan tubuhnya dan melihat ke depan.


"Itu, Den." Azzam terbelalak melihat orang yang ia kenal.


"Pak, berhenti di dekat wanita itu!"


"Tapi ..."


"Aku mengenalinya, Pak." Dan mang Muhammad pun memberhentikan mobilnya.


Azzam membuka kaca mobil dan bersuara, "Azzura, kamu ngapain di situ?" tanya Azzam sampai membuat azura mendongak dengan mata yang masih berderai air mata.


"Mas Azzam!"

__ADS_1


__ADS_2