
Azzura sudah di rias pengantin seandainya. Awalnya ia heran sebab ini terlalu mendadak. Namun, umi menjelaskan kalau semua keinginan dari orang tuanya mempelai pria. Dan setelah mendengar penjelasan Umi Qulsum, Azzura mengerti.
"Nak, beliau tidak mau berlama-lama karena tidak ingin ada fitnah yang terjadi di antara kalian. Ketika dia membawamu kembali ke kotanya kamu sudah harus menjadi bagian dari keluarganya. Jangan takut dan jangan bimbang, Umi yakin ini adalah jalan terbaik yang Allah tunjukkan untuk kamu dan juga jodoh terbaik yang Allah pilihkan untuk menjadi imammu. Kalau jodoh, pasti akan bertemu dalam situasi apapun dan mungkin ini cara Allah menjodohkan kamu dengan lelaki terbaik menurutnya."
Azzura menghela nafas berat, ia tengah duduk di depan cermin memperhatikan dirinya yang kembali lagi dirias pengantin. Namun kali ini dalam keadaan berbeda. Dulu dia terlalu terbuka dan kini tertutup dengan segala hiasan hena di tangannya. Baru saja tadi pagi dirinya bicara setuju, eh sore hari sudah mau dinikahi.
Sebelum ijab selesai, Azzura tidak diperbolehkan menemui suaminya. Kalau sudah, baru dia datang di tuntun oleh Umi Qulsum dan ibunya Azzam.
Sedangkan di mesjid terdekat, lebih tepatnya dekat dengan rumah umi Qulsum, Azzam sedang mengucapkan ijab qobul di saksikan oleh para santri dan banyak orang lainnya. Malah, anak-anaknya Umi Qulsum juga hadir di sana.
"Saya terima nikah dan kawinnya Azzura Fatharani Az-Zahra binti almarhum El-barak Giorgio dengan maskawin tersebut tunai!!" balas Azzam terdengar lantang dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi?"
"Saaaahhhhh..."
Ucap mereka begitu serentak. Azzam mengerutkan keningnya menyadari sesuatu.
"Azzura? kok nama itu sama dengan Azzura tetanggaku dulu? Ah tidak mungkin itu Azzura. Dia kan beda agama dan juga namanya Azzura saja. Mungkin hanya kebetulan."
Azzam tidak tahu nama kepanjangan Azzura dan ia juga tidak tahu kalau wanita itu sudah sama dengannya.
"Alhamdulillah." Ucapan syukur Fatimah panjatkan kehadirat Allah SWT. Dia bahagia dan terharu menyaksikan putranya menikah dengan wanita yang menurut dia terbaik.
"Selamat ya, Zam. semoga kamu menjadi suami yang bertanggung jawab dan selalu membimbing istri kamu ke jalan yang Allah ridhoi."
"Insyaallah, Mah."
Dan langkah Azzura di perhatikan oleh banyak orang. Dia datang didampingi oleh Umi Qulsum. Azzam juga mendongak menatap seraya memperhatikan wanita yang sudah menjadi istrinya.
Sebelumnya Fatimah sudah menghubungi pihak yang ada di pondok kalau mereka akan datang dan langsung menikahkan Azzura dan Azzam. Itulah sebabnya ketika siang hari sudah sampai di sana, segala sesuatu sudah beres. Dan magrib mereka melaksanakan pernikahan dadakan.
Azzura terus menunduk, Iya belum lihat siapa mempelai prianya. Azzura juga duduk di samping Azzam. Azzam sendiri tiada henti memandang wanita yang terhalang niqob, ia penasaran pada sosok itu dan entah kenapa dirinya merasakan hal yang berbeda. Ada kehangatan sendiri kala menatap mata dia yang tertunduk.
"Sekarang nak Zahra salim sama suaminya!" Zahra pun mengulurkan tangannya, Azzam memberikan tangan dia dan saat itu juga Zahra mengecup punggung tangan pria yang sudah resmi menjadi suaminya. Azzam juga mengecup kening Azzura.
Deg.
Keduanya tertegun dengan perasaan mereka masing-masing. Azzura perlahan menaikkan pandangannya sehingga ia terbelalak mengetahui siapa pria yang sudah menjadi pendamping dia.
"Mas Azzam!"
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri."
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang hadir dalam benak Azzura, mengapa bisa? Dan juga Umi tidak bilang kalau pria itu Azzam, anaknya Bu Fatimah. Azzam sendiri terus menatap mata indah itu.
"Matanya? Matanya seperti tidak asing lagi, tapi siapa?"
Berhubung sudah tiba waktu isya, mereka beribadah bersama setelah . Azzura juga ikutan beribadah. Namun, setelah selesai, dia lebih dulu beranjak ke kamar, tempat yang di sediakan oleh Umi sebagai tempat istirahat pada malam pertama mereka.
Azzura sudah berganti pakaian, dan dia berada di tengah keluarga. "Umi, aku sama Azriel masuk dulu. Kasihan Azriel, terlihat ngantuk."
"Iya, Nak. Silahkan istirahat," kata Umi.
Azzura tersenyum lalu ia beranjak dari sana setelah meminta izin pada semuanya.
"Mi, kenapa Umi menikahkan Azzura pada lelaki yang tidak jelas itu?" kata Ahmad.
"Astaghfirullah, Ahmad. Dia itu lelaki jelas. Jelas imannya, jelas pekerjaannya, jelas sholehnya, dan juga jelas dari keluarga baik-baik."
"Umi tidak tahu aslinya di kayak apa."
"Emangnya kamu tahu dia? Tidak bukan?" Ahmad diam seribu bahasa, dia memang tidak tahu siapa Azzam. Namun, karena rasa tidak sukanya Ahmad pada Azzam menuduh pria itu.
"Azzura, kau buat suamiku terus saja memikirkan kamu. Aku tidak terima itu."
"Hmmm Umi, Nisa ke kamar dulu, ya."
*****
"Akhh, kenapa sih Azzura masih saja mengganggu hubungan ku dengan suamiku? Masih saja suamiku memikirkan Azzura. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus kasih dia pelajaran." Anisa mencari cara untuk mengerjai Azzura, dan ia tersenyum penuh misteri kala dia menemukan ide.
"Azzura kan takut banget ular, ya, ku kasih dia pelajaran." Anisa diam-diam mencari ular mainan untuk membuat Azzura ketakutan. Setelah menemukannya, Anisa mengendap-ngendap ke belakang kamar yang Azzura tempati. Lebih pastinya rumah, tempat dimana Azzura membuka usaha warung.
Fatimah sendiri menginap di rumah Azzura dan lebih dulu ada di sana. Anisa memasukkan ular mainan itu ke kamarnya Azzura lewat jendela kaca yang masih terbuka hanya terhalang tralis saja.
"Aku yakin kamu akan ketakutan, ini hanya sedikit balasan dariku."
*****
"Zahra, Ariel kamu baringkan di kamar mama ya." Fatimah meminta Azzura buat membaringkan Ariel karena ia ingin memberikan waktu buat anak dan mantunya.
"Gak apa-apa tidur bareng aku aja."
"Tidak, Nak. Azriel pasti tidak akan nangis. Ini malam pertama kamu dan Azzam, mama tahu pasti banyak hal yang ingin kamu bicarakan sama Azzam, 'kan?"
Memang benar, banyak hal yang yang ingin Azzura bicarakan mengenai kenapa bisa Azzam bisa menikah dengannya. Bicara sama Umi pun tidak bisa dikarenakan beliau sibuk dan pastinya lelah.
__ADS_1
"Gak apa-apa, nih?"
"Gak apa-apa." Fatimah tersenyum mengangguk.
*****
Azzura sudah masuk dan Azzam baru pulang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Zam kamu langsung masuk saja. Pasti kamu capek belum istirahat dan juga Azriel sudah tidur. Besok kita pulang."
"Iya, Mah, aku masuk dulu."
Di saat sudah berada di kamarnya, Azzura melepaskan cadarnya. Dia berjalan ke arah jendela hendak menutupinya. Namun, setelah menutupnya, Azzura tak sengaja menginjak ular mainan yang Anisa masukkan.
"Apaan ini?" Azzura menunduk dan ia terbelalak. "Akhh... ular!" pekiknya langsung lari pas barengan dengan Azzam masuk dan sudah menutup pintu. Dia yang mendengar teriakan istrinya cepat-cepat menghampiri.
Saking takutnya, Azzura langsung duduk di pangkuan Azzam menaikkan kedua kakinya seraya memeluk leher Azzam.
"Mas ada ular! Aku takut!"
Deg.. deg.. deg..
Jantung Azzam berdebar kencang.
"Ular? Mana ada ular di dalam rumah?"
"Ada, itu di situ ularnya." Azzura menunjuk tempat tadi. Dia masih menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Azzam dengan tubuh gemetar takut.
"Mana?" Azzam memajukan roda kursinya menyusahkan diri sendiri hingga sampai di dekat jendela.
"Ada tidak?"
"Oh, itu hanya ular mainan, kamu lihat deh!" Azzam belum lihat wajah Azzura.
"Bohong."
"Lihat dulu, tidak ada ular. Itu hanya mainan." Azzam memperhatikan ular mainan itu dan Azzura perlahan menjauhkan wajahnya untuk melihatnya.
"Itu beneran ular mainan?" saat itu, Azzam menoleh ke arah wajah Azzura.
"Be... Azzura!"
__ADS_1