PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 47. Masih Lindungi


__ADS_3

Di tengah kecewa yang melanda, Fatimah dan Azzam saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah mendengar penjelasan wanita yang mengaku mertuanya Thania, membuat mereka seketika bersyukur karena Allah masih memberikan mereka perlindungan.


Fatimah kembali teringat ucapan wanita itu yang menjelaskan siapa Thania.


"Dia memang bernama Thania, asal mereka yang sebenarnya dari kita A. Thania dan ibunya terlibat dalam pencurian berencana yang dilakukan kepada putraku. Berawal dari perkenalan dan pernikahan dan mereka memang menunjukkan sikap yang baik. Namun, setelah semuanya telah sesuai rencana mereka. Thania dan ibunya mencuri seluruh harta milik putraku. Kalian tahu, cucuku seumuran dengan cucumu telah meninggal dunia karena kekerasan yang di lakukan Thania dan ibunya. Sedangkan putraku juga tidak bisa terselamatkan karena Thania dan ibunya keji melenyapkan putraku demi menghilangkan jejak dan bukti kriminal yang mereka lakukan. Dari sejak itu, saya mencari tahu tentang Thania dan mencari mereka berdua. Menurut informasi yang didapatkan, Thania dan ibunya merupakan buronan polisi dari kota K. Sekarang mereka melakukan itu kepada kalian dan syukurnya Allah masih melindungi kalian karena kaki berhasil menemukan Thania. Kalau sampai itu terjadi, pasti kalian mengalami hal yang sama."


Fatimah menghelakan nafasnya tak pernah menyangka bakalan mengalami hal seperti ini.


"Mama tidak menyangka kalau Thania dan ibunya seorang penipu. Alhamdulillah Allah masih melindungi kita dari kejahatannya mereka," ujar Fatimah bersyukur atas perlindungan Tuhannya.


"Maka dari itu jangan pernah melihat seseorang dari luarnya saja. Terkadang apa yang kita lihat dan apa yang kita nilai belum tentu baik dan terbaik. Saat ini Allah masih melindungi aku dan putraku dari mereka yang berbuat tidak baik. Aku bersyukur akan hal itu, tapi jika aku sampai menikahinya atas perintah Mama, aku tidak menjamin Azriel baik-baik saja. Malahan Azriel mungkin saja jadi korban dari mereka. Pantas saja Azriel tidak mau dekat Thania dan selalu saja menjerit nangis enggan mendekat."


Fatimah semakin menyesal yang telah memaksakan kehendaknya. Dia menyadari kesalahannya terhadap sang putra dan hampir saja menjerumuskan putra sama kesengsaraan. "Maafkan Mama Azzam, mama sungguh tidak tahu jika mereka itu penipu.


"Maka dari itu tolong jangan jodohkan aku lagi. Saat ini aku tidak mau mencari pendamping dulu, biarlah Allah yang menentukan siapa jodohku. Azzam harap Mama tidak lagi memaksa ku."

__ADS_1


"Iya, iya, Azzam. Mama tidak akan memaksa kamu dan tidak akan menjodohkan kamu lagi."


"Tapi mama tidak janji ketika mama menemukan perempuan yang menurut Mama cocok untukmu dan untuk putramu, mama akan menjadikan dia menantu mama. Namun, kali ini mama akan libatkan Allah dalam memilihnya," batin Fatimah tidak akan seperti kemarin saja. Dia juga akan beristirahat demi kebaikan putranya.


*****


"Itu tidak mungkin terjadi! Kalian semua pastinya pembohong dan penipu. Tidak mungkin rumah ini menjadi azura sedangkan Chiko sendiri yang membelinya. Kalian semua pasti telah mengada-ngada." Ghina masih tidak percaya atas apa yang ia dengar dan atas apa yang ia lihat saat ini yang di mana seluruh barang-barang milik Chiko telah dikeluarkan semuanya.


Dia tidak menerima kenyataan yang membuatnya sok tiada tara. Bagaimana tidak rumah dan kekayaan yang Chiko miliki kini semuanya beralih atas nama Azzura.


"Kami tidak mengada-ngada dan tidak pernah bicara omong kosong seperti yang kau pikirkan. Kalau kau tidak percaya boleh tanyakan kepada cikonya sendiri, perjanjian pranikah apa yang telah Chiko dan Azzura sepakati sebelum mereka menikah?" kali ini suaminya Sheila yang bersuara.


"Chiko, jelaskan padaku! Apa maksud dari mereka ini? Mereka pasti main-main bukan? tidak mungkin rumah ini dan harta benda lainnya milik Azzura?" Ghina menatap Chiko begitu lekat seakan meminta sebuah penjelasan dari pria yang kini sudah menjadi suaminya. Namun, tak ada suara dan pembenaran dari mulut Chiko sendiri.


Ghina kesal sebab tidak ada jawaban, wanita itu mengerakkan pundak Chiko begitu keras. "Chiko jawab!"

__ADS_1


"Apa yang harus aku jawab dan aku jelaskan ketika semuanya memang benar kenyataan? Apa yang kau lihat saat ini dan apa yang kau dengar barusan semuanya nyata. Aku memang melakukan perjanjian pranikah hitam di atas putih, disaksikan beberapa saksi, menandatangani di atas materai, kemudian disahkan oleh negara. Itu semuanya benar!" pekik Chiko mengakui semuanya. Itu memang kesepakatan mereka sebelum menikah. Dan kini kesepakatan itu terjadi di saat yang kepala rumah tangga berkhianat.


Deg.


Ghina sampai terhuyung ke belakang penuh keterkejutan. "Sia-sia aku melakukan ini semua. Nyatanya kini Chiko hanyalah seorang punya apa-apa. Sial, lagi-lagi Azzura menang dariku. Dia pintar sekali mengambil seluruh harta milik Chiko setelah menceraikannya. Kurang ajar!"


"Sudah jelas bukan? Sekarang silahkan kalian pergi dari sini dan cari tempat tinggal yang lain!" pinta Sheila meminta Ghina dan Chiko pergi dari sana.


"Ck, kalian semua keterlaluan!" seru Ghina segera beranjak dari sana.


"Ghina, kau mau kemana?"


"Mau pulang ke rumahku lah, setidaknya aku masih memiliki rumah tidak seperti kamu yang telah menjadi miskin tak punya apa-apa." Ghina menatap sinis dan ia berjalan menuju rumahnya yang memang tidak jauh dari sana.


Pelajaran dari hal ini, pilihan kita belum tentu sebuah pilihan terbaik. Namun, apapun pilihan yang kita ambil, jalanilah dan pertanggungjawabkan lah sampai pilihan ini menjadi jalan tepat kehidupanmu.

__ADS_1


*****



__ADS_2