PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 64.


__ADS_3

Hampir semalaman Azzam terus menggempur istrinya. Sesuai yang di bicarakan tadi kalau Azzam ingin menikmati malam-malam bersama. Keesokan harinya, Azzam berusaha membangunkan sang istri yang kelelahan setelah melayaninya hampir semalaman.


"Azzura, bangun!" Azzam membangunkan sang istri secara perlahan sesekali mengusap pipi wanita yang ada di hadapannya.


"Bangun dulu, Zura! Kita shalat malam berjamaah mumpung masih ada waktu, sebentar lagi mau tahrim." Azzam kembali berusaha membangunkan Azzura di saat belum ada respon dari istrinya.


Azzura merasa tidurnya terganggu, perlahan ia membuka mata dan mengucek-ngucek matanya. Dia menatap pria yang sudah berada di hadapannya. Azzam begitu tampan memakai baju koko dengan peci hitam terpasang di kepala.


Azzura senyum-senyum sendiri melihat lelaki tampan itu sudah menjadi suaminya. "Tampan sekali kamu."


"Bangun dulu! Kita shalat tahajud dulu. Nanti kalau sudah salat subuh kita lanjutkan yang tadi," Azzam menaik nurunkan alisnya tersenyum menggoda.


"Aku aja masih capek dan lelah banget, tubuhku terasa remuk," balas Azzura memberenggut manyun.


Azzam terkekeh, ia tidak mungkin kembali menerkam kalau istrinya sudah terlalu lelah melayani dia dari awal pernikahan. "Aku sudah menyiapkan air hangat supaya tubuhmu lebih relaks. Aku juga tidak akan menyentuhmu dulu sampai waktunya tiba." Tanpa aba-aba, Azzam menggendong tubuh Azzura yang terbalut selimut ala bridal style menuju kamar mandi.


"Mas!" pekiknya terkejut.


"Biar cepat karena waktunya tinggal sedikit lagi." Azzam menurunkan tubuh Azzura. "Atau mau aku mandikan juga?"


"Tidak, tidak, aku bisa sendiri! Sekarang kamu tunggu aku di luar!" Azzura menolak karena ia tahu kalau kembali maju bersama yang ada waktu semakin lama.


"Oke, jangan lama, ya!" Azzam mengecup singkat bibir istrinya dan berlalu pergi meninggalkan Azzura dalam kamar mandi.


Setelah Azzura selesai, keduanya melakukan ibadah malam secara berjamaah, dan dilanjutkan membaca ayat suci Al-Qur'an sambil menunggu adzan subuh berkumandang.


*****


Azzura turun ke bawah ingin memasak. Ketika sampai bawah, Azzura melihat mertuanya yang sedang memilih-milih makanan yang hendak dimasak.


"Mah, ada yang bisa ku bantu?" tanya Azzura


Fatimah menoleh. "Ehh, Mama kira siapa? emang kamu bisa?" tanya Fatimah aku pada kemampuan asura yang bisa memasak.

__ADS_1


"Jangan meragukan ku! Kita lihat saja hasilnya," ucap Azzura bercanda sambil terkekeh.


"Apa kamu mampu memasak semua ini?" tantang Fatimah menunjuk semua makanan yang ada di sana. Masakan mentah yang akan siap mereka pasak.


Azzura tersenyum ramah, dia paling suka jika sudah di suguhkan dengan bahan masakan. Di atas meja sudah ada berbagai macam bahan. Ada ikan tuna, ada tahu, tempe, bahan-bahan sambal, dan ada ayam juga.


"Siapa takut. Mama bantu memotong tahu, dan tempe saja! Biar aku yang memasaknya." Azzura berkata yakin kalau dia mampu memasak semuanya.


"Apa kamu yakin?" tanya Fatimah meyakinkan karena ini pernah mendengar Azzura masak yang belum pernah merasakan masakan Azzura.


"Insyaallah, Mah." Azzura mengangguk. Dia mulai memotong ikan tuna dengan cekatan, kemudian mencucinya sampai bersih. Azzura juga memotong ayam menjadi beberapa bagian. Di lanjutkan merendam tahu, tempe pakai bumbu agar rasanya meresap.


Azzura akan memasak ikan tuna bumbu kuning, ayam panggang kecap, tahu dan tempe goreng serta sambal goreng.


Pertama, Azzura mengolah ikan tuna dulu. kemudian mengolah ayam panggang yang sebelumnya telah di ungkeb sebentar pakai bumbu rahasia restorannya. Dilanjutkan menggoreng tempe, tahu, dan terakhir membuat sambal goreng tomat campur terasi merah yang sebelumnya telah di blender.


Fatimah memperhatikan cara masak Azzura. Dia begitu takjub dan terpesona akan kecekatan dan kelihaian tangan Azzura. Dia pisau dan alat-alat dapur lainnya.


"Kamu pandai sekali memasaknya. Hebat" celetuk Fatimah.


"Pasti dulu mantan suami kamu selalu betah pada masakan mu."


"Tidak juga, dia suka beli di luar. Jarang makan di rumah."


Satu jam telah berlalu, kini semua masakannya telah matang.


Azzura menghelakan nafasnya, dan mengusap peluh yang ada di keningnya pakai tangan. "Akhirnya," kata Azzura lega mampu menyelesaikan masakan.


"Nah, sekarang boleh ibu ratu cicipi," kata Fira terkekeh. "Sebutkan apa saja yang kurang,. Azzura akan memperbaikinya. Maaf kalau masakannya tidak seenak masakan yang lainnya."


Fatimah tersenyum, mata dia berbinar melihat semua masakan Azzura menggugah selera. Dan diapun perlahan mulai mencicipi semuanya. Mata dia melotot. "Sungguh luar biasa enaknya, rasanya seperti masakan bintang lima," kata Fatimah yang terus mengunyah.


"Hmmmm, wangi masakannya membuat lapar," kata Azzam menghampiri dapur sambil memangku putranya yang sudah wangi.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas. Azriel sampai kamu yang urus. Maaf." Azzura menyesal.


"Tidak apa-apa, lagian kamu sedang memasak menemani mama, jadi biar kan azan membantumu mengurus Azriel. Mending sekarang kita makan. Ya." Fatimah mengajak Azzura dan Azzam duduk. Lalu, mereka makan bersama.


*****


"Zam, kami siapkan mulai memimpin perusahaan?" kata Fatimah sudah rapi dengan setelan gamisnya. Pun dengan Azzura yang juga akan ikut dan sekalian akan di kenalkan sebagai istrinya Azzam.


"Insyaallah, Mah. Azzam siap." Azzam yang terlihat rapi dengan balutan jas berwarna hitam terlihat tampan mempesona.


"Mas, jangan lirik-lirik yang lain!" Azzura bersuara, ia takut jika suaminya malah melirik wanita lain. "Apalagi sama mantan istri kamu itu," sambungnya terdengar cemburu.


Azzam tersenyum, dia mengusap wajah Azzura yang tertutup cadar. "Insyaallah tidak akan." Azzam bukan orang yang mudah di rayu dan juga tidak mudah di dekati wanita. Dia tipe yang setia terhadap pasangannya.


"Ya sudah, sekarang kita berangkat, ya."


Dan mereka berangkat bersama.


*****


Kasak-kusuk pembicaraan orang-orang di kantor yang sudah di kumpulkan. Mereka membicarakan bos muda dan istrinya akan datang. Mereka semua akan menyambut kedatangan bos besar ke kantornya, termasuk Ghina dan juga Chiko yang juga sudah berdiri menunggu rombongan bis tiba.


"Perhatian Semuanya! Saya minta kalian tidak membuat keributan dan saya minta jangan berbuat ulah selama bos besar datang. Kedatangan Bu bos ingin memperkenalkan putra tunggalnya pada kita. Saya harap kalian semuanya bisa mengerti, paham!"


"Paham, Pak." jawab mereka serempak.


Hingga rombongan mobil tiba di sana. Ghina yang juga ikut berdiri di antara jejeran para ob celingukan ingin melihat bos besar itu yang mana. Pun dengan Chiko yang juga belum pernah melihat bos muda.


Turunlah Fatimah di bagian kursi depan. Di susul oleh Azzam yang sedang memangku putranya dan juga Azzura ikutan turun.


Kala kaki keluar mobil, Azzura menghela nafas, ia harus bertemu dengan orang-orang di masa lalunya yang membuta dia sakit hati. Azzura memejamkan matanya. "Bismillahirrahmanirrahim."


Azzam merangkul pinggang Azzura dan mereka bertiga berjalan beriringan. Mata Ghina dan Chiko melotot setelah melihat wajah pria yang turun dari mobil.

__ADS_1


Deg.


"Azzam!" ucap keduanya bersamaan membuat Azzam dan Azzura menoleh.


__ADS_2