
Azzura mendengar suara memanggilnya, ia yang sedang menunduk menyeret kopernya mendongak. "Mas Azzam!"
"Kamu mau kemana?" tanya Azzam memperhatikan Azzura yang membawa koper juga, sama seperti dirinya. Namun, ia beristighfar kala melihat lekukan tubuh Azzura yang terlihat jelas sebab wanita itu hanya mengenakan pakaian mini. Rok mini, dan tangtop crop yang hanya menutupi bagian dadanya saja sedangkan bagian perut terlihat begitu saja.
Ciri khas Azzura memang seperti itu, sering mengenakan pakaian terbuka, tapi hatinya sangatlah baik.
"Aku hendak pergi dari sini, Mas. Aku sudah memutuskan berpisah dari Chiko. Mas Azzam sendiri?" Dari wajah Azzura terlihat jelas jika wanita itu terlihat sedih dan terluka, tapi Azzura berusaha tegar dan kuat menghadapinya.
"Aku pun mau pergi. Kami sudah berpisah dan sepertinya aku akan kembali ke rumah orangtuaku." Hanya itu yang saat ini Azzam pikirkan, kembali pulang dan minta maaf kepada kedua orangtuanya. Namun, sebelum kembali ke rumah orangtuanya, Azzam ingin pergi ke suatu tempat dulu untuk menenangkan dirinya.
"Maaf," ucap Azzura begitu lirih. Ia tahu penyebab Azzam berpisah karena Chiko. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi dalam rumahtangga Azzam.
"Tidak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu." Azzam tahu kalau Azzura menyalahkan dirinya sendiri dan merasa gagal, tapi ia juga sadar kalau ini semua salahnya juga yang tidak bisa membahagiakan Ghina dan todak bisa menjaga Ghina dengan baik.
"Hmmm Mas, aku harus pergi, maaf." Azzura tidak ingin berlama-lama di sana dan juga taksi yang di pesan sudah ada.
"Ah iya, silahkan. Aku pamit dulu, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan mu dan semoga kita di pertemukan lagi dalam keadaan yang berbeda." Itu keinginan Azzam dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Aamiin." Azzura tersenyum manis ia sempat melirik ke arah warung.
Mereka berdua di perhatikan oleh ibu-ibu yang ada di warung Bu Nining.
"Kasihan ya mereka berdua jadi korban keegoisan pasangannya. Saya tidak menyangka pria seperti Chiko yang tadinya baik malah tergoda oleh Ghina. Padahal baru tinggal tiga bulan di sini, tapi mudah tergoda."
"Kasihan neng Azzura, dia baik cantik, Solehah, sering menolong, tapi masih saja di permainkan. Pun dengan Azzam yang begitu sempurna sebagai suami, tapi masih saja ada yang kurang. Hanya neng Azzura sering memakai pakaian **** dan nak Azzam duduk di kursi roda, itu saja kekurangannya."
"Saya juga pernah ngalamin hal seperti neng Azzura, tapi Alhamdulillah kami baik-baik saja karena tidak ada hal yang lebih menyakitkan. Mungkin perselingkuhan Chiko dan Ghina sangat keterlaluan sampai mereka memutuskan berpisah." Bu Nining menatap iba dan ikut sedih atas apa yang menimpa mereka berdua.
"Neng Azzura tidak apa-apa?" ucap Bu Nining mewakili.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku mau pamitan, maaf kalau selama Azzura ada di sini punya salah sama kalian." Azzura berkata tulus dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka semua begitu baik padanya dan tidak membedakan dia yang berbeda dengan mereka.
"Neng," lirih Bu Nining yang sedang duduk langsung berdiri memeluk Azzura. Dia tahu kalau wanita itu sedang tidak baik-baik saja. "Semoga Allah memberikan kebahagiaan dimana pun kamu berada. Jangan bersedih, buktikan kalau kamu mampu hidup tanpa dia Kami minta maaf."
Lalu, tiga orang ibu-ibu yang ada di sana ikut memeluk Azzura menguatkan wanita itu. Azzura tidak bisa bohong kalau saat ini dirinya tidaklah baik-baik saja. Hidup seorang diri tanpa keluarga dan sanak saudara membuat Azzura terkadang merasa kesepian. Ia tidak kuasa menahan tangisannya dan malah terisak dalam pelukan para ibu-ibu yang begitu baik padanya.
__ADS_1
Tidak ada kata-kata yang keluar, tidak ada pertanyaan yang terlontarkan, hanya ada Isak tangis dari Azzura dan pelukan hangat dari para tetangga untuk Azzura. Mereka itu sedih mendengar tangisan pilu Azzura, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memberikan support dan kekuatan agar Azzura merasa kalau dia tidak sendiri.
Setelah Azzura mulai baikan, para ibu-ibu melepaskan pelukannya dan mengusap punggung, ada yang mengusap air mata, dan ada yang mengusap kepalanya.
"Yang sabar ya, neng."
"Makasih untuk semuanya."
"Kakak cantik mau kemana?" tanya anak kecil yang sering main dengan Azzura. Azzura dan yang lainnya melirik. Mereka terkejut sudah ada banyak anak kecil ada di sana mengerumuni Azzura.
"Mira, Amir, ..." ucap Azzura menyebut satu-satu para anak-anak.
"Kakak mau pergi? Kenapa? Mira sudah bisa menyebut R loh kakak cantik, kita main yuk."
Azzura tersenyum seraya mengusap air matanya. "Oh iya, pintar sekali. Kakak harus pergi, kalian semua belajar yang rajin, ya."
"Jangan pergi!"
__ADS_1