PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 27. Permintaan


__ADS_3

Erik kaget mendengar berita mengejutkan jika Azzura sudah bercerai. Namun, ia merasa senang sebab ada harapan untuk dia mendekati Azzura.


"Kamu seriusan sudah berpisah dengan Chiko? Kok bisa? Setahuku Chiko itu begitu mencintaimu, tapi kenapa kalian malah berpisah?" Heran, itulah yang Erik pikirkan dan banyak pertanyaan yang singgah di kepalanya. Mengapa bisa? Itu pertanyaannya.


"Aku seriusan, Erik. Aku tidak tahu apa Chiko masih mencintaiku atau tidak, tapi nyatanya dia malah menjalin kasih dengan tetangga rumah."


"Apa! Sulit di percaya." Erik kembali terkejut mengetahui alasan Azzura dan Chiko berpisah. "Ini kesempatan ku untuk mendapatkan Azzura. Chiko, kau begitu bodoh melepaskan mutiara ini. Kurang Azzura apa? Sudah cantik, pintar, baik, sexy juga, tapi kau? Sungguh keterlaluan," batin Erik.


"Hmmm, kamu jangan bersedih ya. Aku tidak akan membahas Chiko lagi. Sekarang kamu mau kemana?" tanya Erik karena ia tahu jika Azzura tidak memiliki siapapun di sana.


"Aku tidak tahu, kayaknya aku mau ke luar kota saja untuk meninggalkan kenangan di sini dan juga supaya Chiko tidak menemukanku. Atau mungkin kembali ke panti asuhan di kota B." Azzura sendiri bingung mau pergi kemana. Ia hanya akan mengikuti kata hatinya.


"Ke kota B, ya." Erik memikirkan sesuatu. "Jangan harap kamu pergi dari ku lagi, Azzura."


"Hmmm bagaimana untuk sementara waktu kamu ikut ke rumah ku dulu. Besok aku antarkan kamu ke kota B, sekarang sudah mau malam. Tidak baik wanita secantik dirimu pergi seorang diri. Kamu mau 'kan?"


"Maaf, aku tidak bisa." Azzura tidak mau merepotkan orang.


"Ayolah, sekali ini saja. Aku janji tidak akan melakukan apapun. Kamu 'kan tahu kalau aku temannya Chiko, pastinya kamu akan aman saat berada di sisiku. Aku tidak ingin kamu pergi sendirian di malah hari ini. Please, sekarang ikut aku dulu, ya." Erik memaksa dan tidak ingin Azzura menolaknya.


Azzura berpikir, ia juga memperhatikan hari yang memang beranjak sore.

__ADS_1


"Udah, kamu menginap saja di rumah ku. Besok aku antarkan kamu ke panti asuhan yang dulu kamu tinggali, sampai sana!" Erik meyakinkan Azzura dan mencekal lengan Azzura seraya menariknya.


"Tapi ..."


"Ini demi kebaikan kamu sendiri, Azzura. Di luaran sana banyak orang jahat dan aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa."


Azzura berpikir bahwa apa yang dikatakan Erik ada benarnya juga. Berhubung ia mengenali Erik, Azzura mau ikut dengannya tanpa ada pikiran apapun mengenai Erik.


*****


"Jadi kamu dan Ghina sudah bercerai?" tanya Fatimah pada putranya. Azzam mengangguk, ia menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi. Azzam juga bilang kalau alasan bercerai mereka karena adanya ketidakcocokan diantara keduanya, tapi Azzam tidak menceritakan jika Ghina berselingkuh. Biarlah itu menjadi aib Ghina dan ia tidak akan memberitahukan aib seseorang kepada orang lain.


"Ya Allah, mama turut sedih atas takdir yang menimpa kamu. Dulu mama sudah bilang jangan menikah dengan wanita itu, tapi kamu kekeh dengan alasan cinta dan Ghina orangnya baik. Sekarang kalian malah berpisah, tapi itu dulu. Saat ini Mama senang kalau kamu tidak lagi bersama wanita yang menurut Mama tidak pantas menjadi istrimu Feeling mama mengatakan dia wanita tidak baik."


"Oh iya, mama sampai lupa mengenalkan Thania. Azzam, dia adalah Thania tetangga baru kita. Dia yang selama ini merawat mama saat sakit." Fatimah memperkenalkan Thania pada Azzam dengan harapan putranya menyukai wanita pilihannya.


Azzam melihat dan tersenyum mengangguk. "Saya Azzam, terima kasih kamu sudah bersedia merawat mama saya. Maaf merepotkan mu."


"Aku Thania, tidak apa-apa, Mas. Aku malah senang bisa merawat Tante Fatimah."


Fatimah tersenyum, "kalau kamu sudah berpisah dengan Ghina, itu artinya kamu harus mau menerima wanita pilihan mama."

__ADS_1


Deg.


Baru saja pulang ke rumah sudah disuruh menerima sebuah berjodoh kuno.


"Mah, tidak secepat itu." Azzam memelas.


"Mama tahu, dan mama akan memberi kamu waktu buat mengenalnya." Lalu, Fatimah melirik Thania. "Mama ingin kamu dan Thania menikah."


Deg.


Lagi-lagi Azzam di buat tercengang. "Menikah dengan Thania?" Fatimah mengangguk, Sedangkan Thania menunduk menyembunyikan wajahnya yang tengah berseri.


"Maaf, Azzam belum siap buat menikah lagi."


"Azzam!"


"Mah!" Azzam menatap mamanya. Fatimah menghelakan nafas.


"Baiklah, kamu tenangkan diri kamu dulu, dua bulan mama kasih kamu waktu untuk mengenal Kania dan setelah itu kamu harus menikah dengannya. Mama yakin kalau Thania ini calon istri yang Solehah. Mama menyukainya."


"Akhirnya, Tante Fatimah mau menjadikanku menantu. Ini yang aku inginkan. Azzam, aku yakin kamu akan menjadi pendampingku."

__ADS_1


Azzam menunduk tidak bisa berkata apa-apa. Baru saja pulang sudah mendapatkan perintah. Dan itu menyangkut kehidupannya.


"Ya Allah, aku harus apa?"


__ADS_2