PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 49.


__ADS_3

Mobil mewah Fatimah memasuki area pesantren di daerah kota B. Dia yang memang sering menjadi donatur pesantren ingin menenangkan diri di sana dan juga sekalian untuk memberikan donasi bagi para anak-anak yang memang tengah menuntun ilmu.


Azzura yang sedang melayani pembeli di warungnya melihat mobil yang berhenti tak jauh darinya. Dia juga memperhatikan orang yang turun. Namun, Azzura memicingkan mata saat melihat wanita yang ia kenal.


"Bukannya itu ibunya mas Azzam? Dia kesini?" gumam Azzura.


"Teh jadi berapa semuanya?" tanya salah satu santri di sana.


"Jadi sepuluh ribu, Teh." Azzura tersenyum di balik cadar terlihat dari matanya yang menyipit.


Dia memiliki warung kecil-kecilan dari hasil penjualan rumah yang lama. Sedangkan rumah baru dan mewah itu akan ia jadikan rumah singgah. Untuk mobil, Azzura tidak mengambilnya dan membiarkan Chiko mengenakannya. Selama tinggal di sana, Azzura juga benar-benar berubah total. Penampilannya menjadi sangat tertutup dan ia juga berniqob.


"Ini teh uangnya. Mari teh, Assalamualaikum."


"Makasih ya, waalaikumsalam." Azzura mengambil uangnya dan menyimpannya.


"Assalamualaikum," ucap Fatimah mendekati warung Azzura.


Wanita itu mendongak, "waalaikumsalam." Tidak ada rasa takut ataupun marah serta tidak suka hinggap ke hari Azzura. Dia terlihat baik-baik saja dan juga terlihat ramah.


"Mau cari apa?" tanya Azzura.


"Mamammam." Azriel, balita sembilan bulan itu mengulurkan tangannya pada Azzura. Entah instingnya kuat atau jiwanya suci, Azriel nampak mengenali Azzura.


Azzura sempat melirik Azriel dan menatapnya. Ada binar rindu dan bahagia bertemu balita itu. Azzura rindu kegiatannya bersama Azriel yang sering main bersama.


"Eh sayang, gak boleh gitu. Maaf ya, cucu saya memang bawel lagi belajar bicara. Oh iya, apa pemilik pesantren ada?"


"Ada, Beliau sedang di dalam tengah mengaji. Mau saya antar?" ujar Azzura menawarkan dirinya.


"Boleh kebetulan sekarang saya datang sendirian." Fatimah tersenyum dan ia tidak mengenali Azzura. Namun, kali ini dimata Fatimah Azzura ini santri sini yang sedang di tugaskan menjaga warung.


"Mari saya antar." Azzura mempersilahkan Fatimah berjalan duluan.


"Siti titip warung dulu, ya sebentar!" Azzura meminta tolong kepada Siti, santri kalong yang sering membantu Azzura di warung.


"Insyaallah, Teh. Siti jaga."


*****


Dari langkah pertama mereka berjalan, Azriel terus merengek mengulurkan tangannya kepada Azzura. Fatimah enggan memberikannya karena ia tidak enak hati.


"Aduh sayang, jangan nangis dong. Oma gak enak sama yang lainnya." Fatimah kebingungan dan Azriel tadinya tidak rewel malah menjadi rewel.

__ADS_1


"Bu, boleh saya menggendongnya? Kasihan anaknya menangis terus. Barangkali kalau saya bantu gendong bisa berhenti." Azzura menawarkan dirinya.


Fatimah nampak ragu karena sebelumnya Azriel juga tidak mau sama Thania. Namun, karena bingung harus berbuat apalagi, Fatimah mencoba membiarkan wanita bercadar itu mengambil Azriel.


"Boleh, tapi saya tidak yakin." Azzura hanya tersenyum saja.


Lalu, Azzura mengulurkan kedua tangannya. "Ayo, sayang. Mau sama Kakak?" Azzura tersenyum di balik cadarnya dan tiba-tiba Azriel langsung menggapai tangan Azzura.


Balita itu langsung menelusup kan wajahnya ke ceruk leher Azzura seraya sesegukan sisa tangis dan memeluk lehernya.


"Jangan nangis ya, ada kakak di sini. Kamu kan anak printer, anak Soleh, dan kebanggaan papa mama."


"Azriel sudah tidak punya mama," kata Fatimah seraya memperhatikan Azzura yang begitu lembut menggendong dan menenangkan Azriel


"Kenapa?"


"Mama dan papanya sudah berpisah, mamanya tidak mau mengurus lagi dengan alasan merepotkan."


Azzura memeluk Azriel. "Kasihan sekali."


"Oh iya, nama kamu siapa?"


"Zahra kebetulan kamu kesini," ucap wanita muda yang hendak mencari Azzura.


"Umi memanggil kamu untuk makan bersama keluarga."


"Oh namanya Zahra, sepertinya Azriel suka sama wanita ini. Buktinya dia begitu anteng dan mau di gendong." Fatimah tidak mengenali Azzura di balik cadar.


"Sekalian mbak, ada yang bertemu dengan umi."


"Ya sudah mari Bu." Dan mereka pun beriringan ke rumahnya umi Qulsum.


*****


"Assalamualaikum," ucap Azzura, Fatimah, dan Maryam bersamaan.


Orang-orang yang sedang berkumpul di ruang tamu menoleh. Ada satu pandang mata terus menatap dalam Azzura, dia adalah Ahmad. Hal itu di sadari oleh Anisa sebagai istrinya.


"Masyallah Fatimah!" Umi langsung berdiri dan dia berjalan menghampiri. Keduanya saling memeluk dan saling cipika cipiki. "Apa kabar Fatimah?" sapa umi.


"Alhamdulillah kabarku baik, Qulsum. Kamu semakin hari semakin bertambah cantik saja." Fatimah melepaskan pelukannya dan ia tersenyum senang bisa bertemu lagi dengan temannya jaman dulu yang sudah menjadi seorang ustadzah pemilik pesantren.


"Ah kau bisa saja. Aku sudah tua, sudah mau punya cucu juga."

__ADS_1


"Benarkah? Selamat ya, anak siapa?"


"Ali, istrinya hamil. Mereka datang kesini mau memberitahukan kehamilannya."


"Alhamdulillah, aku turut senang mendengarnya."


"Kebetulan kamu kesini, kita makan-makan ya. Sekalian syukuran merayakan kehamilan Maryam." Ajak Umi Qulsum.


"Ah aku tidak enak."


"Tidak apa-apa. Anisa, Maryam, kalian tolong siapkan makanannya ya." pinta umi kepada kedua menantunya.


"Baik Umi."


"Umi Zahra mau bantu," seru Zahra.


"Tidak perlu, kamu duduk saja. Sepertinya anak ini nempel banget sama kamu. Umi tidak yakin dia mau lepas dari kamu."


"Tapi Umi ..."


"Zahra!" tegur Umi Qulsum menatap lembut mata Zahra. Dan dia pun mengangguk saja lalu duduk di karpet yang sudah di bentangkan. Pun dengan Fatimah dan Umi Qulsum yang juga ikut duduk.


Azzura fokus pada balita yang ada dipangkuannya. "Azriel mau apa sayang? Mau buah?" Azzura mengambilkan buah jeruk dan menunjukkannya pada Azriel. Balita itu mengambilnya. Namun, Azzura menatap dulu Fatimah.


"Bu apa boleh Azriel makan jeruk?"


"Boleh, tidak apa-apa kok." Pandangan Fatimah terus saja tidak lepas pada Azzura.


"Sepertinya cucuku nyaman pada Zahra."


"Zahra, boleh saya tanya?" ujar Fatimah.


"Boleh Bu, silahkan."


"Apa kamu sudah menikah?" pertanyaan Fatimah sukses membuat mereka yang ada di sana tertegun. Ahmad langsung tersedak.


ukhuk .. ukhuk ..


"Sebelumnya sudah, bu. Namun kali ini belum. Saya janda tanpa anak," balas Azzura berkata jujur dengan statusnya.


"Janda!" Ahmad bersuara.


*****

__ADS_1



__ADS_2