
Suasana haru tampak mewarnai suasana di ruangan itu. Semua yang hadir merasa ikut larut dengan ucapan Joan. Namun, tidak dengan Kinanti. Wanita itu sudsh sering mendengar ucapan kata-kata manis dari mulut Joan, tapi pria itu sering mengingkari janjinya.
Pembawa acara mengatakan jika Aqila akan meminta restu pada kedua orang tuanya. Dari dalam kamar tempat Aqila berada terdengar suara pembawa acara.
Dari layar televisi yang tersedia terlihat Aqila sedang berada di salah satu ruangan, tempat dirinya berhias. Mik telah berada di tangan Aqila.
"Selamat Pagi, Papa, dan Mama. Hari ini izinkan anakmu menyampaikan sedikit kata sebelum pernikahan dimulai," ucap Aqila. Dia berhenti sejenak untuk mengatur napas.
"Papa dan Mama, ananda mengucapkan terima kasih karena telah membesarkan ananda dengan penuh kasih sayang."
Kembali Aqila menjeda ucapannya. Tampak air mata jatuh dari sudut matanya.
"Papa dan mama yang aku sayangi, ananda menghaturkan terima kasih atas segala bimbingan dan kasih sayang yang telah Papa dan Mama berikan kepada ananda sejak dalam kandungan hingga terlahir dan dewasa saat ini."
__ADS_1
Aqila menghapus air mata dipipinya. Di sampingnya duduk Miho. Teman Aqila itu menyodorkan tisu untuk menghapus air matanya. Setelah dapat mengatur napasnya. Aqila kembali melanjutkan ucapan.
"Mama, aku masih ingat dulu waktu aku kecil, saat aku jatuh, Mama juga merasakan sakitnya. Saat terluka dan patah hati, Mama juga ikut merasakan. Kalau aku kenapa-napa, Mama yang panik setengah mati, kalau ku butuh apa-apa Mama selalu sediakan. Aku menyayangi Mama sepenuh hati," ucap Aqila dengan terisak.
"Dan untukmu Papa, aku tau jika papa sangat mencintaiku. Papa selalu menyempatkan waktu di sela kesibukan untuk menghubungiku. Papa selalu bertanya kabarku. Aku tau cintamu tak kalah besarnya dengan Mama. Aku juga sangat mencintaimu, Pa."
Tangisan Aqila akhirnya pecah. Tidak peduli itu akan merusak riasan diwajahnya. Di luar ruangan, tepatnya di tempat para tamu hadir, Papa dan Mama Aqila juga terisak menahan tangis. Setelah kembali bisa menahan tangisnya, Aqila melnajutkan ucapannya.
"Papa dan Mama, izinkan aku menikah dengan pria pilihanku. Aku yakin dengan restu kalian, aku akan dapat mengarungi semuanya. Doakan putrimu ini dapat menjalankan rumah tangga dengan baik, dan dapat menjadi istri yang dibanggakan. Sekali lagi izinkan aku untuk menikahi pria pilihan hatiku. Terima kasih untuk cinta kasih yang Mama dan Papa berikan selama ini. Aku mencintai dan menyayangi kalian berdua," ucap Aqila mengakhiri kata mohon restunya.
Pembawa acara kembali memberikan mik pada Papa Joan yang akan memberikan restu mewakili Mama Kinanti. Wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena menangis.
"Aqila Khaleesy putriku, Mungkin esok, Papa tidak bisa lagi menengok di jendela dan menunggu depan pintu kapan kamu pulang setelah seharian lelah bekerja. Tidak sering lagi kirim pesan Whatsapp menanyakan dimana posisi dan sekadar mengingatkan makan. Papa juga tidak lagi masuk kamarmu, mencium dahi sebelum kamu tidur."
__ADS_1
Papa Joan menghentikan ucapannya. Tampak pria itu menarik napas, menahan agar tidak menangis.
"Papa pasti akan rindu melakukan semua itu lagi. Tapi Papa harus terima kenyataan kamu kini sudah menjadi calon istri. Rasanya, tak percaya saat melihat foto-foto lama beberapa waktu lalu, putri kecil Papa kini telah dewasa."
Papa Joan lagi-lagi menghentikan ucapannya. Tampak Mama Kinanti berdiri, meminta mik. Mungkin wanita itu juga ingin mengatakan sesuatu.
"Untukmu putriku Aqila, dan juga calon menantuku Alden, hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah dalam kehidupan kalian berdua. Hari ini adalah awal mulanya kalian meniti kehidupan baru bersama, menyemai cinta hingga usia senja, menikmati hari-hari bersama, saling melengkapi dan berbagi, menggapai visi yang sama, meraih ridha dan SurgaNya. Semoga cinta kalian abadi selamanya. Selamat menempuh hidup baru putri mama tercinta. Anakku sayang, Papa dan Mama dengan rida dan ikhlas telah memaafkan semua kesalahanmu dan merestui pernikahanmu."
Kinanti menyerahkan mik dan kembali duduk. Tampaknya masih ada yang ingin Joan sampaikan. Pria itu kembali berdiri.
"Sesuai dengan permintaanmu, sebentar lagi Papa akan menikahkan kamu dengan kekasih pilihan hatimu Alden Leon Wesley. Pesan Papa, apa yang telah kami berikan kepadamu, jadikanlah sebagai bekal hidupmu dalam berumah tangga."
Semua makin larut dalam suasana haru. Pembawa acara mengatakan jika tibalah giliran Alden yang akan memohon restu.
__ADS_1
...****************...