PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 67


__ADS_3

Azzam mengerutkan keningnya, "kau mencari Azzura? Untuk apa? Tidak ada lagi yang perlu kau bicarakan dengan dia. Azzura sudah tidak ada lagi urusannya denganmu," balas Azzam ketus.


"Saya tida peduli, Azzura! Aku ingin bertemu denganmu." Chiko menerobos masuk sambil memanggil nama Azzura.


"Hei! kau tidak sopan sekali main masuk ke dalam ruangan saya!" Azzam geram, ia ingin menarik Chiko, tapi Azzura ada disana menatapnya dan berkata, "ada apa kamu mencarimu?" tanya Azzura.


Chiko diam memperhatikan dekat-dekat bola mata wanita itu. Azzura menunduk tidak menatapnya.


"Kamu Azzura Fatharani?"


"Iya, ini aku, memangnya kenapa? Ada urusan apalagi? Saya rasa tidak ada hal penting pagi yang harus di bicarakan."


Azzam langsung berdiri di samping Azzura dan ia merangkul pinggang istrinya. Tatapannya begitu sinis seakan menunjukkan jika wanita yang ada di sampingnya adalah miliknya. Chiko melihat itu, ia juga melihat bagaimana Azzam begitu posesif terhadap wanita bercadar itu.


"Kalau kamu Azzura, Kenapa kamu sampai bisa begini? Siapa yang sudah mempengaruhimu untuk pindah kepercayaan? Apa kamu tidak ingat kalau kita ini sama-sama saling mencintai? Apa segitu kecewanya kamu sampai seperti ini?" Chiko ingin tahu alasannya dan ingin tahu perasaan Azzura saat ini bagaimana.


"Tidak ada yang mempengaruhi diriku, ini murni pilihan hatiku yang paling dalam. Di bilang kecewa, ya, dulu aku memang kecewa padamu. Namun, setelah jalani semuanya aku mengerti dan aku menyadari kalau semua yang terjadi kepadaku ini sudah menjadi keris takdir yang Allah takdirkan untukku. Aku tidak menyesal mengenalmu, aku juga tidak menyesal dengan semua yang terjadi. Dari apa yang ku alami mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, kesetiaan, kasih sayang, dan juga pelajaran hidup. Aku pernah kecewa iya, tapi aku sadar kalau dari kecewa yang ku rasa ternyata ada hal baik yang ku terima. Mungkin salah satunya bisa bertemu dengan pria yang bisa menerima segala kekuranganku."


Chiko menggelengkan kepalanya, ia tidak terima itu. "Tidak, kamu tidak boleh begitu saja pindah keyakinan dan menjalin hubungan dengan dia!" Chiko menunjuk Azzam tidak peduli siapa orang yang sedang berhadapannya. "Ayo kita balikan lagi, Azzura. Ayo kita perbaiki Semuanya dari awal. Aku merasa kehilangan kamu, dan aku tidak bisa lupakan kamu. Aku masih mencintaimu, Azzura." Chiko hendak menggapai tangan Azzura, tapi di tepis oleh Azzam.


"Cinta? Cinta seperti apa yang kau miliki kalau pada akhirnya di belakang berkhianat? Cinta seperti apa yang ingin kau tunjukkan kalau ternyata di belakang bermain kesana kemari? apa itu Yang namanya Cinta sampai harus menghianati wanita yang selalu menemani? Apa itu yang disebut cinta ketika kau merasa jenuh lalu memutuskan bermain dengan siapa saja? Jangan harap kau bisa mendapatkan Azzura lagi. Dia istriku dan tidak akan kubiarkan siapapun mendekatinya!" ujar Azzam terus saja memberi tanya.


"Sekalipun dia istrimu, tapi cintanya hanya untukku!" ujar Chiko meyakini hal itu. Dan perkataan Chik mampu membuat Azzam diam seribu bahasa dengan hati yang diliputi gelisah.


"Apa pernah dia menyatakan cinta padamu? Apa pernah dia bilang sayang padamu? Apa pernah dia mengeluarkan sebuah kata romantis untuk membahagiakan mu?" Chiko menanyakan itu semua dan ia meyakini kalau Azzura belum melakukan hal itu.


Dan Azzam terdiam merenungkan segalanya. Selama ini Azzura belum pernah bilang cinta, dan selama itu pula belum pernah Azzura bilang sayang. Azzam mulai di lema.

__ADS_1


"Apa perlu ungkapan cinta seperti yang kamu ucapkan? Apa perlu kata sayang untuk mengungkapkan semua rasa yang kumiliki? Kalau setiap gerak tubuhku saja mampu menunjukkan rasa cinta dan sayang kepadanya, kenapa harus mengatakan cinta?" ujar Azzura menanyakan itu semuanya. Apa yang ia alami membuatnya tidak butuh kata cinta tapi butuh pembuktian atas cinta yang di milikinya.


"Perlu, semua ungkapan perlu agar mereka tahu kalau aku mencintaimu, Azzura!" kata Chiko.


"Tapi kata cinta dan sayang Saja tidak akan cukup selama di dalamnya tidak ada kejujuran, tidak ada kasih sayang, tidak ada kesetiaan, tidak ada pengertian satu sama lainnya. Apa dengan kata cinta saja mampu membuat segalanya baik-baik saja? Tidak, Chiko, tidak! Bahkan, kamu yang seringkali bilang cinta dan sayang kepadaku mampu berbohong di belakang ku, mampu berkhianat di belakangku, mampu menyembunyikan sesuatu di belakang ku. Kata cinta saja tidak cukup, semuanya juga butuh bukti bukan hanya sekedar kata manis daja dan janji-janji yang kau berikan. Jadi kau tidak perlu tahu apakah aku cinta pada mas Azzam atau tidak asalkan jiwa dan ragaku sudah dia miliki, itu artinya aku memang mencintainya."


Dan jawaban yang diberikan Azzura membuat Azzam tersenyum meyakini bahwa sang istri mulai menyukainya seperti dia yang juga mulai mencintainya.


"Kau dengar, tidak perlu kata cinta melainkan tindakan. Azzura sudah menunjukan cintanya dengan menyerahkan segalanya untukku. Bahkan ..." Azzam sengaja memeluk Azzura dan mengecup pucuk kepalanya. "Kami sudah menyatu dalam segala hal dan saat ini istriku sedang mengandung anakku," sambung Azzam sedikit berbohong demi membuat Chiko bungkam. Azzura mendongak menatap Azzam. Azzam hanya tersenyum saja.


"Brengsek, kau tidak boleh menyentuh Azzura! Dia milikku dan hanya aku yang berhak menyentuhnya!" sentak Chiko ingin memukul Azzam.


Azzam segera menangkis tangan Chiko dan dia menyeret paksa Chiko ke luar ruangannya. "Jangan pernah sekalipun kau mengaku Azzura milikmu karena dia istriku!" lalu, Azzam menutup pintu ruangannya dengan wajah memerah menahan amarah.


"Sialan kau Azzam, kau tidak bisa melakukan ini padaku!" pekik Chiko.


"Diam kalian, ini urusanku dan dia!" sentak Chiko membuat kegaduhan di sana.


Ghina yang ada di sana mengepalkan tangannya. Dengan amarah yang sudah meluap, dia menghampiri Chiko dan menariknya.


"Ikut denganku!"


"Apaan sih! Aku tidak mau denganmu, kita bercerai!"


"Chiko!!" pekik Ghina terbelalak.


"Kau tidak dengar, kota bercerai dan aku akan mengurus semuanya secepatnya!" keributan itu terjadi di sana membuat semua orang menonton.

__ADS_1


Plak!


"Dasar pria kurang ajar! Kau sudah menghamili ku dan seenaknya ingin menceraikanku setelah adanya Azzura?"


"Kau juga kurang ajar meminta balikan kepada Azzam ketika kau sudah punya suami. Kita sama-sama kurang ajar, jadi jangan sok menjadi korban. Saya muak! Muak!" sentak Chiko mendorong kasar tubuh Ghina hingga wanita hamil itu terbentur meja mengakibatkan perutnya punggung dan sakit.


"AW!" Ghina meringis.


"Hei! Kalau mau bertengkar jangan di kantor! Selesaikan semuanya di luar!" seru salah satu karyawan. Chiko mendengus marah, ia pun pergi.


"Chiko kau tidak bisa begini." Ghina mengejar Chiko tidak terima di perlakukan begitu. Kesana kemari tidak di hiraukan membuat Ghina tidak bisa menerimanya.


Keduanya saling mengejar hingga ke jalan raya. Bahkan, keduanya masuk mobil pun terus bertengkar.


"Turun dari mobilku!" sentak Chiko.


"Tidak akan semudah itu kau lapas dariku sebelum kamu memberikan harta gono gini untukku." Ghina kekeh.


Chiko tidak peduli dan ia gelap mata menjalankan mobilnya kencang.


"Hahahaha harta gono gini? Mimpi! Tidak akan ku berikan kau sepeser apa pun. Semuanya hancur, Azzura pergi, hartaku hilang, semuanya musnah gara-gara kau, Ghina. Saya membencimu!" pekik Chiko murka semakin cepat mengemudikan mobilnya.


"Chiko, pelan kan mobilnya!"


Namun, bukannya dipelankan, Chiko malah menambah kecepatannya hingga laju mobil tidak terkendali dan berakibat fatal sebab Chiko menerobos lampu merah dan....


"Chiko awaaas!!!!"

__ADS_1


__ADS_2