
"Mas bisa lepaskan aku tidak? Aku mau mandi, sebentar lagi masuk ashar." Azzura tidak lepas dari pelukannya Azzam. sehabis Dzuhur hingga menjelang ashar, mereka berdua tetap berada di dalam kamar menikmati hari yang indah bersama pasangan halal.
Azzam seakan mendapatkan mainan baru dan ia tidak mau jauh dari Azzura. Azzam sendiri heran, kenapa ia secepat itu nyaman dan merasa tenang di dekat istrinya. Azzam juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini yang sudah jatuh kedalam pesonanya Azzura dan juga jatuh cinta kepadanya. Bisa di bilang secepat itu? Ya, mungkin ini cinta yang Allah berikan untuknya dengan cara yang berbeda. Apalagi Azzura begitu nurut sama suaminya dan mau saja di suruh ini itu. Malahan, bermain di atas ranjang pun, Azzura yang dominan dalam bermain. Itu juga membuat Azzam gila karena ia baru merasakan permainan seperti itu. Karena biasanya, waktu bersama Ghina hanya dia yang sering bergerak. Tapi kali ini, Azzura dengan ikhlas mengikuti permintaannya.
"Sebentar saja, aku masih betah memelukmu." Azzam menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Azzura dan tangannya melingkar di perut sang istri. Mereka masih sama-sama polos tanpa kain baju yang menutupi, hanya selimut saja.
"Aku gak enak sama mama, pasti Azriel juga sudah bangun. Aku harus mengurus dia, Mas. Sebentar lagi juga ashar, kita harus beribadah 'kan?"
Azzam tersenyum tipis, ia merasa senang dan juga bersyukur Azzura memperhatikan putranya. Lalu, dia melepaskan pelukannya dan membiarkan Azzura membersihkan diri.
"Baiklah, aku melepaskanmu. Tapi nanti malam jangan harap kamu bisa lepas dariku lagi."
Azzura menoleh, "kok gitu? Mau ngapain lagi emangnya?"
"Ya seperti yang barusan kita lakukan. Ingat, kamu harus nurut sama aku."
"Ishh, nyebelin. Masih juga terasa perih terus saja menggempur ku." Azzura memanyunkan bibirnya kesal.
"Supaya kamu cepat hamil. Aku ingin punya anak dari kamu dan juga memberikan Azriel adik."
Azzura bangun, ia mengambil handuk kimono yang ada di sana dan mengenakannya. "Masalah hamil, aku tidak terlalu berharap, Mas. Biarlah Allah yang memberikannya. Mau cepat atau lambat, aku ikhlas menerima. Jangan di buru-buru, sedikasihnya saja." Lalu, ia beranjak turun seraya menoleh kebelakang dan tersenyum manis.
Azzam melipatkan kedua tangannya ke bawah kepala dengan tatapan terus tertuju pada Azzura. "Iya, aku tahu. Itulah sebabnya kita harus berusaha keras supaya Allah memberikan kita kepercayaan."
"Dan pastinya sebagai pengikat kita agar lebih kuat lagi."
"Insyaallah, itu tergantung kamu." Azzura menunduk malu dan ia pun beranjak ke kamar mandi.
"Hei! Tergantung aku gimana? Aku tidak mengerti, loh?" Azzam tidak tahu dan tidak bisa menangkap arah perkataan Azzura. Namun, ia malah berpikir jika itu tergantung dirinya yang terus menanam benih di perutnya Azzura.
"Pikirkan saja sendiri!" pekik Azzura dari dalam kamar mandi. Azzam terkekeh, dia juga bangun mendudukkan tubuhnya dan mengambil kimono yang ada di sana. Dia beranjak turun dan ingin mandi di kamarnya sendiri biar lebih cepat karena waktu ashar semakin dekat.
__ADS_1
*****
Fatimah yang ada di ruang tamu melihat Azzam keluar kamar. "Habis berapa ronde, Zam? Lama bener tidak keluar-keluar," celetuknya menggoda sang putra.
"Eh, Mama di sana. Hmmm lumayan lelah lah. Aku mau ke atas dulu, Azriel mana?"
"Dia masih tidur, nanti juga kalau bangun pasti nangis nyariin kamu atau kita."
"Oh." Azzam hanya ber oh ria saja.
"Zam, kalau kamu sudah selesai, Mama mau bicara sama kamu. Ini seriusan."
"Baik, Mah. Azzam mandi dulu." Pria itu sedikit tergesa menaiki anak tangga guna sampai ke kamar miliknya.
"Terlihat sekali Azzam bahagia. Jika ini kebahagiaannya, Mama dukung kamu, Zam. Maafkan Mama yang pernah salah memilih calon istri buatmu." Fatimah menghela nafas berat menyesali hari itu. Hari dimana dia menyerahkan anak dan cucunya kepada wanita yang ternyata gila.
*****
Ceklek...
Saat sedang merapikan sejadahnya, Azzam masuk berjalan kaki sambil mengusap rambutnya yang basah. Azzura menoleh dan ia tertegun menyadari sesuatu.
"Mas," ucapnya dengan tatapan mata bingung, dan kecewa.
Azzam menoleh, "Iya, sayang." Azzam belum menyadari keadaannya sekarang. Saking senangnya sampai lupa pada rencana dia untuk pura-pura tidak bisa jalan dulu.
"Jadi kamu bohongin aku. Jadi kamu sebenarnya bisa berjalan?" ujar Azzura menatap kecewa dan merasa di bohongi. Azzura langsung menunduk dan ia menghela nafas panjang. Jika hal ini saja ada kebohongan, apalagi yang lain. Begitu pikir Azzura.
"Eh, Azzura aku ..." Azzam tertegun, dan ia melangkah mendekati Azzura dan duduk bersila di hadapannya. "Azzura, bukan maksudku untuk ..."
"Tolong imami aku!" Azzura berkata dingin dan ia tidak mau menatap Azzam. Ada rasa kecewa yang bersemayam di hatinya kala ada kebohongan diantara mereka.
__ADS_1
Azzam menunduk mengusap wajahnya secara kasar. Dia mengalah dulu dan dia mengikuti kemauan Azzura. Mereka sama-sama beribadah bareng penuh khusuan dengan Azzam sebagai imam.
Setelah selesai, Azzam mengulurkan tangannya dan Azzura menggapai tangan itu lalu mencium punggung tangan suaminya. Azzam mendekatkan wajahnya mengecup lembut pucuk kepala Azzura yang terbalut mukena.
"Maaf," lirih Azzam sambil menjauhkan wajahnya, tapi tangan terus menggenggam tangan Azzura. Wanita itu diam sambil menunduk.
"Azzura, aku minta maaf sudah tidak jujur padamu."
Azzura mendongak, "Kenapa kamu menyembunyikan kebenaran ini? Apa aku tidak penting sampai kamu menyembunyikannya? Hal ini saja kamu berbohong, bagaimana dengan hal lainnya, Mas?"
"Bukan begitu, ada hal yang membuatku melakukan ini. Hanya ini sesuatu yang aku sembunyikan dari kamu, tidak ada yang lainnya." Azzam membenarkan letak duduknya menjadi menghadap Azzura. Dia menggenggam tangan istrinya dan menatap dalam mata indah Azzura.
"Aku tahu kalau aku salah telah membohongi mu, tapi aku lakukan ini hanya ingin menguji kamu. Dan aku takut orang-orang mendekatiku hanya karena ada hal lain. Aku juga ingin tahu ketulusan kamu terhadap ku, maka dari itu aku menyembunyikan ini. Namun, kamu harus tahu, tidak ada hal yang ku sembunyikan lagi dari kamu. Kamu jangan marah ya, maafkan aku." Ada rasa takut istrinya marah besar mengetahui kebohongan dia.
"Mas, dalam hubungan harus dilandasi kejujuran, keterbukaan, kepercayaan, dan mengerti satu sama lain. Jika ada kebohongan, maka kebohongan lain pasti akan ada. Maka dari itu aku ingin kita jujur satu sama lainnya dan percaya sama pasangan. Aku kecewa kamu menyembunyikan hal ini dariku, tapi sekalipun kamu tidak berjalan aku akan tetap menerima mu karena aku percaya pilihan Allah adalah yang terbaik. Aku menerima pinangan mu setelah melakukan istikharah dan itu artinya kamu memang pilihan untukku. Jadi aku mohon, jangan ada kebohongan lagi."
"Tidak ada, sayang. Tidak ada kebohongan lain." Azzam memeluk Azzura, ia tidak ingin istrinya marah dan ia juga merasa bersalah telah membohongi istrinya. Namun, kali ini Azzam tidak akan pura-pura lagi tidak bisa berjalan.
"Tapi ada satu hal yang aku sembunyikan dari kamu."
"Apa? Kamu bohong lagi?" Azzura kesal dan ingin melepaskan pelukannya, tapi Azzam memeluk erat enggan melepaskan.
"Hmmm gimana ya?"
"Mas," rengek Azzura mendongak kesal. Azzam tersenyum dan mengecup singkat bibir istrinya.
"Kamu tahu perusahan ADIGUNA CORPORINDO?"
Azzura mengerutkan keningnya dan berpikir. "Tahu, itu perusahaan dimana Chiko bekerja. Kenapa emangnya?"
"Itu perusahaan milikku."
__ADS_1
"Apa?!"