
Apa yang dikatakan Azzura tidak di percayai oleh Ghina ataupun Chiko. Mereka tidak begitu percaya meski suaranya Azzura mereka kenali. Namun, penampilan yang Azzura tampilkan saat ini tidak membuat keduanya langsung percaya.
"Hahaha, kau bilang dirimu ini Azzura? Hahaha, halu!" seru Ghina meledek wanita bercadar itu. Dia tidak akan mudah percaya pada orang yang ada di hadapannya, karena ia tahu penampilan Azzura dan agamanya Azzura. "Mimpimu terlalu tinggi, Nona! Kau bukan Azzura, mustahil!" sentak Ghina mendorong tubuh Azzura.
Azzam terbelalak dan ia segera menarik pinggang istrinya dan mendekapnya erat. Matanya nyalang penuh amarah tidak terima istrinya di sakiti.
"Tidak perlu kamu bicara sama orang yang tidak tahu moral ini. Lebih baik kita masuk saja. Pak Harto, saya tidak ingin melihat dia ada di sini!"
"Baik, Pak."
Azzam membawa istrinya masuk ke dalam membiarkan mereka mengurus Ghina. Namun, tidak dengan Fatimah yang masih berada di sana.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat ke pipi Ghina. Ia yang sedari tadi kesal dan marah pada perlakuan Ghina terhadap putranya dan menantunya, ia lampiaskan dengan tamparan keras.
Ghina memekik sakit seraya memegang pipinya. "Kenapa Ibu menampar saya?"
"Seharusnya kau tidak hadir lagi ke kehidupan anak saya! Saya pastikan tidak akan pernah kau mendekati Azzam ataupun Azzura. Ingat baik-baik! Kau, tidak layak menjadi istrinya Azzam dan saya bersyukur Azzam berpisah dengan wanita seperti mu. Sudah berkhianat dengan suami orang dan tanpa tahu malu minta balikan, ck wanita hina tak tahu malu! Kau menghina anak ku yang cacat dan tidak mau mengurus anakmu sendi dengan alasan merepotkan mu. Sekarang kau bilang dia anakmu? Ck, sungguh ibu todak tahu diri. Membuang suami dan anak, setelah tahu kaya minta balikan, tidak akan saya biarkan!" pekik Fatimah lalu menatap semua orang.
Ghina terdiam terus mencerna setiap peristiwa yang terjadi. Benarkan kalau wanita itu Azzura, mantan istrinya Chiko? Tapi, melihat penampilan dia tidak seperti Azzura. Meski Ghina mengenali suara itu, namun ia tidak percaya. Di tambah lontaran kata pedas dari Fatimah mengingatkan dia yang memang berprilaku seperti itu terhadap Azzam dan Azriel. Namun, seandainya dia tahu kalau Azzam anak orang kaya, todak akan Ghina biarkan Azzam pergi.
"Kalian semuanya, dengarkan baik-baik! Saya datang kesini ingin memperkenalkan anak saya sebagai pewaris tunggal ADIGUNA CORPORINDO. Dan wanita yang ada di sampingnya adalah Azzura Fatharani Az-Zahra, istri dari anak saya. Mulai hari ini, kalian semua harus memperlakukan Azzura dengan baik. Mood saya sudah tidak lagi ada, sekarang kalian semuanya bubar! Dan pak Harto, saya tidak ingin ada wanita ini di sini! Pecat dia! Dan barangsiapa yang berbuat ulah, maka saya tidak akan membiarkan mereka berada di kantor saya!" pinta Fatimah tidak ingin lagi ada kekacauan di sana.
Para karyawan merutuk kebodohan Ghina dan mereka menerka kalau wanita itu selingkuh dari suaminya. Mereka semua mulai bubar dengan mulut terus mencibir Ghina. Mereka juga menatap sinis pada Chiko yang hanya diam membiarkan Ghina berbuat ulah.
__ADS_1
"Tidak menyangka kalau ternyata Ghina itu pelakor dan juga tukang selingkuh. Apa dia berselingkuh dengan pak Chiko?"
"Bisa jadi iya, setahuku pak Chiko itu istrinya bernama Azzura, tapi sejak kehadiran Ghina di kantor ini malah bilang dia istrinya."
"Eh, benar juga ya. Apa mungkin Azzura yang di maksud itu istrinya pak bos?"
"Ah gak mungkin, masa Ghina merebut Chiko dan pak Azzam menikahi Azzura?"
"Tapi mungkin juga 'kan? Karena saya dengar istrinya Chiko memang bernama Azzura juga."
"Wah, ini mah berita menghebohkan."
Semua karyawan terus bergosip ria membicarakan keempat nama yang tengah ramai saat ini. Kuping Chiko terasa panas dengan hati yang tersayat sakit. "Benarkah itu Azzura ku? Kenapa dia menjadi seperti itu? Apa benar Azzura menikah dengan Azzam? Aku harus pastikan ini semua!" batin Chiko penasaran para wajah di balik cadar.
*****
"Maaf untuk apa?"
"Atas perlakuan Ghina pada kamu."
Azzura mengerutkan keningnya, ia mendongak memicingkan mata sampai matanya terlihat menyipit. "Kamu meminta maaf padaku atas nama Ghina? Kamu masih menaruh hati padanya sampai segitunya meminta maaf." Azzura tiba-tiba melepaskan pelukannya dan ia ngambek. Sungguh Azzura kesal mendengarnya.
"Bukan begitu maksudku, ya, aku hanya minta maaf saja."
"Terserah kamu saja, Mas. Dengan bicaranya kamu begitu, aku merasa kamu masih menaruh hati pada mantan istrimu yang cantik itu."
__ADS_1
"Apa kamu cemburu?" Azzam justru tersenyum simpul menyangka istrinya dilanda cemburu. Ia senang Azzura menunjukkan rasa cemburunya.
"Emangnya salah kalau aku cemburu pada Ghina? Dia mantan istri kamu, wanita yang kamu CINTAI, dan juga dia ibu dari Azriel. Munafik kalau aku tidak cemburu, Mas. Apalagi kita sudah sejauh ini, saling memiliki dan sudah saling bersentuhan, aku malah semakin takut kamu masih berharap padanya." Azzura menunduk menyembunyikan kegelisahan. Kegagalan dalam rumah tangga membuat ia masih merasakan rasa takut.
Azzam mendekati Azzura, dia melingkarkan tangannya ke perut Azzura dan dagunya berada di atas kepala Azzura. "Dia memangzza mantan Istriku, tapi bukan berarti aku bakalan tergoda lagi kepadanya. Soal permintaan maaf atas Ghina, aku hanya tidak enak saja pada kamu yang datang ke sini langsung mendapatkan perlakuan seperti itu. Ini kantor keluargaku dan aku merasa bersalah pada kamu atas tindakan karyawan ku. Makanya aku minta maaf, tapi atas dasar bos terhadap karyawannya. Hanya itu saja."
Azzam menoleh dan mata mereka saling beradu pandang. "Kamu seriusan?" ujar Azzura.
"Iya, seriusan." Azzam tersenyum manis.
Tok.. tok... tok...
Hingga suara pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. Azzam pun melepaskan pelukannya. "Kamu duduk saja dulu, sayang. Aku akan membukanya." Azzam memanggil Azzura sayang, dan ucapan itu membuat Azzura terenyuh berdebar.
*****
Chiko mondar-mandir tidak tenang sebelum mengetahui apakah dia Azzura atau bukan. Dia begitu penasaran dan jika itu Azzura mengapa bisa sampai seperti itu?
"Aku harus menanyakan ini kepada dia langsung. Aku tidak tenang sebelum tahu dan yakin itu Azzura." Chiko yang tadinya berada di ruangan kerja langsung saja berjalan menuju ruangan yang ditempati direktur utama.
Langkahnya tergesa dan tidak sabar untuk segera melakukan berbagai macam pertanyaan kepada wanita itu.
Tok... tok.. tok...
Chiko mengetuk pintu ruangan Azzam. Dia tidak sabar bertanya pada wanita yang menjadi istrinya Azzam. Sampai pintu itu terbuka. Keduanya saling bertatap mata.
__ADS_1
"Ngapain kau kemari?" tanya Azzam dingin..
"Saya ingin bicara sama dia. Dimana wanita bernama Azzura?'