PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 28. Kamu mau apa?


__ADS_3

Seperti janjinya kepada Azzura, Chiko pulang lebih awal setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingin mengganti waktu yang telah mereka lewati di saat hari ulang tahun Azzura terlewat.


"Ok, semuanya sudah beres. Sekarang tinggal pulang dan mengajak Azzura makan malam. Sayang, aku pulang cepat untuk kamu." Chiko segera membereskan meja kerjanya dan setelah beres keluar dengan tergesa.


Setibanya di luar kantor, Chiko di panggil seseorang. "Pak Chiko, tunggu!"


"Iya pak, ada apa?" tanya Chiko kepada pria yang diyakini sebagai wakil bosnya.


"Hari ini ada meeting dengan klien dari kota A, bapak sebagai memagar di tunjuk untuk ikut dengan saya oleh Bu bos sendiri."


"Saya? Saya kan ..." "Tapi ini kesempatan ku untuk membuktikan bahwa aku sangatlah bisa diandalkan. Apa aku ikut pak Bagas saja? Soal Azzura bisa nanti saja deh."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya bersedia ikut dengan bapak." Chiko pun beralih pikiran. Dia malah mementingkan kepentingan pribadi dan kembali bekerja.


"Chiko mau kemana?" gumam Ghina melihat kepergian Chiko dengan wakil bos. "Mungkin lagi ada kerjaan kayaknya. Pilihanku tidak salah jika Chiko memang pria tepat untukku." Dia tersenyum senang seraya kembali masuk ke kantor di karenakan harus lembur.


*****


"Sekarang kamu istirahat dulu di sini. Aku mau keluar sebentar." Erik menyuruh Azzura masuk ke dalam kamar.


Dia membawa Azzura ke rumahnya. Di dalam sana hanya ada Erik seorang.


"Tapi di sini tidak ada siapapun, kemana bibi?" bibi yang dimaksud Azzura adalah pembantu Erik yang seringkali membersihkan rumahnya.


"Tadi sedang keluar, aku suruh membeli sate. Kamu istirahat saja dulu, aku mau membersihkan diri dulu." Erik beranjak pergi membiarkan Azzura beristirahat di dalam sana.


Azzura tidak banyak kata, ia pun masuk kamar dan duduk di tepi ranjang. Dirinya memperhatikan kamar itu. "Sekarang aku malah tidur di rumah orang asing. Semoga tidak terjadi apa-apa."

__ADS_1


Erik yang melihat Azzura masuk ke dalam kamar tersenyum. "Sekarang kamu ada dalam genggaman ku, Azzura."


Erik pun ke kamarnya. Dia mengambil botol minuman yang ada di lemari, lalu meneguknya dengan amarah yang hinggap di dalam dirinya.


"Chiko, aku sudah mengikhlaskan Azzura untukmu. Tapi kau malah menyia-nyiakan dia. Jangan salahkan aku jika aku merebut dia darimu. Hanya dengan cara ini aku bisa memiliki Azzura."


Dulu, Chiko dan Erik saling berlomba mendapatkan Azzura. Mereka berdua memiliki perasaan yang sama terhadap Azzura. Dia dan Chiko merupakan teman setongkrongan di dunia hiburan, lebih tepatnya dunia malam. Ya, Kalau Chiko masih bisa setia sebelum menikah, tapi Erik seorang pria yang suka jajan di luaran sana.


Erik keluar rumah hendak menemui rekan-rekannya dulu.


*****


Setelah membersihkan diri, Azzura merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan matanya mulai terpejam. Ketika tidur, Azzura paling sering mengenakan hotpan di atas paha dan hanya mengenakan tangtop crop tanpa bra. Dia jarang memakai pakaian tidur kalau bukan saat bermasa Chiko dulu. Akibat ngantuk yang menyerang, Azzura mulai terlelap dalam tidur.


Malam semakin larut, Erik telah kembali dalam keadaan mabuk berat. Pria itu penyuka alkohol dan sering banget berpesta bareng teman-temannya. Tadi dia keluar menghadiri pesta lajang salah satu temannya. Seperti biasanya, Erik akan mabuk.


"Sialan, mereka banyak memberiku minum," gumam Erik seraya berjalan ke kamar. Namun, ia malah nyasar ke kamar yang di tempati Azzura.


Matanya mencoba melihat siapa yang sedang tidur. "Azzura, dia di sini? Sungguh keberuntunganku." Erix malah lupa kejadian tadi siang.


"Ah, aku lupa. Dia kan aku ajak ke sini." Racau Erik seraya mendekati Azzura. Matanya memperhatikan wajah dan tubuh Azzura tanpa selimut.


"Sudah lama sekali aku menginginkan ini, Azzura." Erik duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap wajah Azzura perlahan turun ke bawah.


Azzura merasakan sebuah sentuhan. Perlahan matanya ia buka dan seketika dirinya terkejut melihat Erik hendak melekaukan sesuatu.


"Kamu mau ngapain?" pekik Azzura panik dan ingin mendorong tubuh Erik. Namun, Erik segera mencekal tangan Azzura dan menguncinya ke atas kepala.

__ADS_1


"Ayolah Azzura, jangan sok suci. Melihat penampilan kamu yang seperti ini meyakinkan ku jika kamu pasti wanita yang sering tersentuh."


"Tidak! Aku bukan wanita seperti itu! Lepaskan aku Erik! Kamu mau apa?" pekik Azzura mencoba melepaskan diri dari kungkungan Erik.


Sekalipun dirinya berpakaian terbuka, dia bukan wanita murahan yang mudah mengobral tubuhnya kepada pria. Sekalipun Azzura terlihat nakal, tapi orang pertama yang menyentuhnya adalah Chiko, suaminya.


"Sudah lama sekali aku menyukaimu, tapi kau malah tertarik pada Chiko. Kali ini aku tidak akan melepaskan mu, Azzura." Erik hendak memberikan kecupan. Azzura memberontak. ke lantai.


"Lepaskan aku! Aku mohon!" Azzura memohon dengan air mata sudah mengalir deras. Ia tidak mau dan menolak setiap sentuhan dari Erik.


Sekuat tenaga, Azzura melindungi dirinya dan ia segera menendang perut Erik sampai pria itu tersungkur ke lantai dengan kepada terbentur duluan.


Dug.


Karena akibat pengaruh alkohol, Erik sampai tak sadarkan diri. Azzura segera berlari keluar kamar sambil membawa kopernya. Doa bersusah payah menjauhi rumah itu, rumah yang ia kira akan melindunginya, tapi ternyata malah jadi begini.


Merasa telah jauh dari rumah Erik, Azzura terjatuh ke tanah dan menangis tersedu-sedu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas dan berteriak.


"Akhhhh. Tuhan, kenapa ini terjadi padaku? Apa salahku, Tuhan?"


"Azzura, kamu ngapain di situ?"


Deg.


"Suara itu?"


*****

__ADS_1



__ADS_2