
Melihat Aqila begitu terpukul, Alden lantas memeluknya di depan Joan dan Marni. Membisikkan kata-kata penenang agar Aqila lebih sabar menghadapi semua cobaan yang menimpa gadis itu silih berganti.
"Semuanya akan baik-baik saja."
"Bagaimana bisa Al? Mungkin dikhianati kamu atau Vioan aku bisa menerimanya dengan lapang dada, tapi papa mengkhianati mama adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
Aqila menatap Alden dengan tatapan terluka. Anak mana yang tidak sedih tahu papanya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Pantas saja selama ini semua rencana Viona lancar-lancar saja, ternyata ada andil papanya.
"Sayang, papa bisa jelasin semuanya. Papa tidak bermaksud ...."
"Qila tidak butuh alasan!" Sentak Aqila saat Joan akan menyentuh pundaknya.
"Pantas saja papa begitu peduli dengan kondisi Viona dan peduli pada keluarganya, ternyata karena ini? Ternyata kepedulian papa bukan karena dia sahabat Qila apalagi rekan kerja, melainkan ...."
Aqila tidak sanggup melajutkan kalimatnya. Air mata terus saja berjatuhan tanpa bisa dicegah.
"Maafin Ibu Nak," lirih Marni merasa bersalah karena putrinya baru saja menghancurkan keluarga bahagia Aqila.
"Aku benci papa!" bentak Aqila, membuat Joan terpaku di tempatnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Qila, kenapa kamu menangis Nak? Viona baik-baik saja?" tanya Kinanti, ibu dari Aqila. Wanita paruh baya itu baru saja datang setelah mengurus rumah.
"Mama." Aqila langsung menghambur kepelukan mamanya dan kembali menangis sepuas mungkin. Dia tidak dapat membayangkan sesakit apa hati mamanya setelah tahu kelakuan bejat Joan selama ini. Yang Aqila takutkan, anak yang di kandung Viona adalah darah daging papanya juga.
Pantas saja selama ini Papanya berusaha memisahkan dia dan Alden, ternyata pria paruh baya itu ingin membersihkan diri dari perselingkuhan antara Viona dan dirinya.
Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga jika sudah lelah. Mungkin itulah yang dialami Joan dan Viona yang berusaha menyembunyikan hubungan gelap mereka dengan menjadikan Alden kambing hitam.
"Nyonga Kinanti?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan intensif.
"Iya saya, Dok."
Kinanti mengerutkan keningnya karena merasa tidak punya urusan dengan wanita licik itu. Meski begitu, Kinanti tetap saja menemui Viona karena penasaran.
Aqila ikut masuk keruangan, takut mamanya terkejut setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Bagaimana keadaan kamu Nak?" tanya Kinanti setelah sampai di sisi brangkar Viona.
"Ta-tante."
__ADS_1
Air mata Viona mengalir begitu saja melihat kedatangan Kinanti. Rasa bersalah kian menghantui Viona setelah melihat wanita paruh baya yang tidak pernah membedakan kasih sayangnya antara dia dan Aqila.
"Maafin Viona, harusnya Viona tidak pernah melakukan ini."
"Sebenarnya tante kecewa nak sama kamu. Harusnya kamu tidak melakukan hal sememalukan ini dengan memisahkan Aqila dan Alden."
Viona mengelengkan kepalanya, wanita itu tidak ingin membahas Aqila maupun Alden, melainkan kebenaran yang akan membuat wanita paruh baya itu sangat terpukul.
"Bukan itu tante. Viona minta maaf karena telah melukai perasaan Tante dengan menjalin hubungan dengan Om Joan. Awalnya Viona tidak mau, tapi Om Joan memaksa dan berjanji akan memberikan rumah untuk orang tuaku. Maaf Tante, karena keserakahan aku menghancurkan kepercayaan kalian."
Setelah berusaha menjelaskan dengan kondisi lemahnya, Viona kembali memejamkan mata dan mengatur nafas yang mulai memburu.
"Vi, buka mata kamu!" desak Aqila tidak ingin Viona memejamkan matanya, gadis itu takut Viona akan meninggalkan dirinya.
Wanita itu juga hanya korban dari seseorang karena ketidak beradayaan soal ekonomi.
...****************...
__ADS_1