
Mereka pada memperhatikan Azzam yang datang bersama seorang perempuan. Azzam masih mengikuti peran dia yang dulu, memakai kursi roda saat bertemu dengan banyak orang.
"Nak Azzam kesini juga?" tanya Bu Onih.
"Iya, Bu. Saya ngantar mama saya ke sini." Bu Fatimah mendorong masuk kursi roda anaknya dan mereka bergabung dengan kumpulan orang-orang yang ada di sana.
Sudah banyak para warga dan tamu undangan memasuki area rumah Azzura.
"Jadi ini mamanya?"
"Betul bu, beliau orangtua saya." Azzam tersenyum dan matanya mencari sosok yang ingin ia cari.
"Azzuranya mana? Sudah lama aku tidak melihatnya. Ingin sekali bertemu dengan wanita baik itu."
"Berhubung sudah banyak orang yang datang, dan berhubung acaranya akan di mulai ..."
"Tunggu! Saya baru datang mau kalian tinggalkan? Saya juga ikutan lah," seru Ghina nyelonong masuk dan duduk diantara mereka. Dia yang juga di undang untuk menghadiri acara itu hanya ingin tahu acaranya seperti apa dan ingin mendapatkan uang ampau yang sering di bagikan pemilik rumah setelah habis acara.
Mata Ghina tak sengaja tertuju pada Azzam. Pun dengan Azzam yang juga memandangnya.
"*Tidak ada getaran lagi dalam dadaku saat melihat Ghina. Semudah itu aku melupakannya? Sungguh mukjizat Allah itu ada. Aku yang memang menginginkan menghilangkan rasa itu begitu mudah dan sekarang perasaan ku padanya baik-baik saja," batin Azzam meyakini rasa itu hilang entah kemana.
"Ck, dia datang juga ke sini. Hmmm cukup rapi sih penampilannya, tapi sayang miskin. Entah bagaimana kehidupannya, pasti untuk makan saja susah. Siapa ya yang sudah membantunya? Jadi penasaran*."
Azzura dan yang lainnya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ghina yang membuat mereka begitu merasa heran dan ada juga yang menatapnya tidak suka.
"Sebelum acara di mulai, kami mempersilahkan pemilik rumah untuk berkata sepatah kata dua patah kata!" kata pak ustadz.
Azzura menatap umi Qulsum. "Umi?" ujarnya dan Azzura mengangguk dan terlihat matanya menyipit menandakan jika dia tersenyum.
"Siapa dia? Kenapa matanya seperti tidak asing bagiku?" batin Azzam penasaran.
"Assalamualaikum Semuanya."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Pertama saya ucapkan syukur kepada Allah karena sudah memberikan kesempatan untuk kota saling silaturahmi. Saya mewakili anak saya sebagai pemilik rumah ini, ingin mengesahkan rumah ini menjadi rumah singgah harapan indah. Panti asuhan yang insyaallah akan bermanfaat bagi semuanya. Untuk itu, jikalau kalian menemukan anak-anak kurang beruntung boleh kalian bawa kesini."
Dan banyak sekali wejangan serta pembahasan yang disampaikan oleh Umi Qulsum. Dan resmi sudah rumah itu dijadikan panti asuhan. Banyak orang memuji dan juga mendoakan yang terbaik buat Azzura dan keluarga.
"Ck, gitu aja dibanggakan. Apa sih bagusnya wanita itu sampai di elu kan oleh banyak orang? Rumah ini itu milik Chiko yang di curi oleh Azzura, eh malah dia jual pada orang lain. Itu namanya tidak berkah." Ghina tidak menyukai dan masih tidak rela rumah ini menjadi milik orang lain. Dia menyalahkan Azzura sebagai pencuri dan terus menyumpahi Azzura yang tidak-tidak.
"Bilang saja kau iri karena tidak bisa seperti Azzura kan? Kau yang mencuri suaminya, eh malah bilang Azzura pencuri hartanya." Bu Nining mencebik.
"Tahu nih, Ghina mah orangnya gak berpikir. Dahlah, biarkan saja. Ayo kita ke sebelah sana, kita bergabung dengan Zahra dan yang lainnya."
"Sana pergi! Saya tidak suka bergabung dengan kalian ibu-ibu rempong." Ghina mengusir mereka, tapi matanya memperhatikan Azriel yang sedang ada di pangkuannya Zahra.
"Anakku saja enggan menatapku. Dan kenapa bisa Azzam kenal dengan wanita itu?" bukan Azzam yang kenal, melainkan Fatimah yang selalu berdekatan dengan Zahra. Sedangkan Azzam tidak tahu siapa wanita itu dan ia cuek, namun sesekali sering memperhatikan Azriel dan mamanya.
"Dah ah, bodo amat. Terserah dia." Ghina beranjak pergi, tapi ia tak sengaja menubruk kursi roda Azzam yang memang hendak ke arah Fatimah.
"Ish, kalau jalan lihat-lihat kaki ku sakit tahu," gerutu Ghina mendelik kesal. "Eh, aku lupa, kamu kan tidak bisa jalan. Kasihan."
"Mau kemana? Buru-buru amat? Oh iya, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Ghina berjongkok di hadapan Azzam dengan tatapan mengejek.
"Seperti yang kamu lihat, aku dan Azriel baik-baik saja."
"Oh ya? Masa? Aku tidak yakin kau mampu mengurus dia seorang diri dalam keadaan begini?" Ghina memperhatikan kaki Azzam. "Kau kan tidak bisa jalan, pastinya menyusahkan orang. Oh iya, apa ada orang yang sudah berhasil menggantikan aku? Kalau aku sih sudah, Chiko. Dia seorang manajer, tampan, normal, dan pastinya apa yang ku mau di belikan. Tidak kayak kamu."
"Terus aku harus bilang selamat gitu? Aku tidak peduli! Toh itu urusan kamu dan pastinya kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun. Untuk orang yang berhasil mencuri hatiku setelah kamu, dia ada, spesial dan pastinya beruntung mendapatkan ku. Minggir!" Azzam membelokkan kursinya.
"Cacat saja belagu. Wanita mana yang mau sama pria cacat dan miskin seperti mu? Mustahil."
"Tidak ada yang mustahil selama Allah menghendaki," balas Azzam kembali melanjutkannya.
"Zam, kita pulang ya." Fatimah menghampiri dan ia menatap tidak suka pada Ghina. Dia sempat mendengar Ghina menghina putranya.
__ADS_1
"Aku bersyukur azzam telah pisah dengan wanita seperti itu."
"Sudah selesai acaranya?"
"Sudah. Kita pulang, mama tidak suka kamu dihina oleh mantan istri kamu."
Ghina yang sudah melangkah jauh sempat mendengar Fatimah bilang mama. "Mama? Paling juga mama bohongan." Setahu Ghina, Azzam tidak punya orangtua karena pada saat menikahinya tidak ada orangtua yang mendampingi.
*****
Waktu semakin terus berjalan, Azzura menjalankan hari-harinya di pesantren dan sesekali mampir ke panti asuhan. Fatimah yang juga sudah mengenal Azzura semakin dekat dengan wanita itu dan sering berkunjung ke pondok.
Sudah lima bulan telah berlalu, dan keadaan Ghina semakin sering banyak cekcok dengan Chiko. Ditambah kehamilan Ghina yang membesar membuatnya bertambah gemuk.
"Aku tidak suka melihatmu. Kau itu sekarang jadi jelek, Ghina. Tubuhmu jadi bengkak seperti gajah," ucap Chiko menatap tidak suka.
"Aku begini karena sedang mengandung anak kamu, Chiko. Seharusnya kau bersyukur karena ada wanita yang mau mengandung anakmu dan itu aku. Malah bilang kayak gajah."
"Lihat bentuk badanmu, kau tidak indah lagi. Sekarang kau itu gendut, Ghina. Gendut!" pekik Chiko seraya beranjak pergi.
"Aku tidak gendut!" Ghina menggeram kesal.
*****
Kediaman Azzam
"Zam, kamu sudah tujuh bulan sendiri. Azriel juga sudah satu tahun lebih dua bulan, Mama ingin kamu menikah. Apalagi Azriel butuh sosok seorang ibu."
Azzam menggema nafas. "Azzam belum menemukan yang cocok, mah."
"Mama sudah menemukannya."
"Maksud Mama?"
__ADS_1
"Zahra."