PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 46. Sebuah Kenyataan part 2


__ADS_3

Dua Minggu yang lalu, saat Ghina ketahuan hamil, Ghina dan Chiko melakukan pertunangan dulu dan juga pra nikah sebelum dinikahkan. Selama itu pula, baik Ghina dan Chiko ditanya oleh berbagai macam Pertanyaan seperti adanya keterikatan dengan wanita atau pria yang belum selesai, dan masih banyak lagi pertanyaan yang ditanyakan.


Namun, satu hal yang Chiko dan Ghina tutupi yaitu mengenai kehamilan Ghina dari pendeta agar mereka tidak kena hukum pengakuan dosa perzinahan. Chiko melakukan itu karena tidak mau di keluarkan. Dia yang sudah seringkali Zina, Ghina yang juga sering melakukannya, merasa malu sekaligus tidak ingin kehamilan Ghina tersebar luas.


Dan kini, serangkaian acara pernikahan Ghina dan Chiko telah diselenggarakan seadanya dan disaksikan oleh beberapa warga yang menjadi saksi pernikahan mereka di salah satu gereja terdekat di sekitar sana.


Kini status Ghina dan Chiko telah resmi menjadi suami istri, dan Ghina yang menginginkan pernikahan ini tersenyum bahagia karena mimpinya memiliki suami kaya dan rumah megah sudah terwujud.


"Akhirnya Aku menikah juga dengan Chiko. Selamat tinggal Azzura, ini posisimu sebagai istri Chiko telah tergantikan olehku. Dan kini rumah itu juga sebentar lagi akan ku tempati dan akulah nyonya Chiko."


"Sialan, Kenapa semua orang begitu ikut campur mengenai urusanku? kalau tidak ada orang-orang kampung menyaksikan semuanya, aku tidak mungkin menikahi Ghina. Seandainya mereka tidak mengancamku kepada polisi, mungkin ini tidak akan terjadi. Sekarang aku harus bilang apa pada azura jika dia kembali lagi ke rumah?"


Chiko meyakini kalau Azzura akan kembali kepadanya karena ia merasa Azzura tidak mungkin bisa hidup tanpa dia, dan Azzura juga tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya.


"Nah, sekarang kalian sudah menikah dan tentunya tidak akan ada lagi perzinahan terjadi di antara kalian. Suka ataupun tidak kalian harus menerima satu sama lain dan membesarkan bayi yang tengah Ghina kandung," kata Pak RT.


"Tentu aku sangat suka dan tidak pernah menyesali pernikahan ini. Dan itu artinya kalian tidak akan lagi menghinaku Karena sekarang aku sudah menjadi Nyonya Chiko, pemilik rumah termewah di kompleks kita," kata Ghina begitu sombong dan angkuh seraya menatap sinis ibu-ibu serta bapak-bapak tetangganya.


"Ck, baru saja menikah dengan pria hasil curian saja sudah bangga. Bangga itu ketika kita mendapatkan suami atas pilihan Allah, bukan hasil curian," kata Bu Onih.


"Betul itu, kali ini kamu boleh bangga atas pencapaian yang kamu gapai, tapi suatu Hari nanti semua yang kamu miliki akan hilang dalam seketika karena kamu mendapatkannya dengan cara licik dan tidak biasa," sambung Bu Nining.

__ADS_1


"Sudahlah, daripada kita terus di sini dan malah menjadi darah tinggi, mending kita pulang," ajak ibu RT yang juga kesal pada Ghina dan Chiko.


"Iya, ayo kita pulang."


"Pulang sana! Aku dan Chiko mau bulan madu dulu," kata Ghina seraya merangkul lengan Chiko.


"Bulan madu apaan? Tidak akan ada yang namanya bulan madu atau malam-malam lainnya karena sampai kapanpun aku tidak ingin lagi bersenggama denganmu." Chiko keluar dari tempat itu dan Ghina menyusulnya.


"Tidak apa-apa, yang pasti aku akan tetap berusaha memuaskan mu."


*****


Para tetangga sudah mulai memasuki perkampungan dan hendak melewati rumah Chiko. Namun, kebetulan sebelum memasuki perumahan mereka, rumah yang Chiko tinggali kebetulan berada di awal jalan masuk sehingga mereka bisa melihat kegiatan yang terjadi.


"Iya ini aneh sekali. Kita turun dan lihat yang terjadi, yuk." Yang namanya warga pasti pada penasaran akan sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Mereka berbondong-bondong mendekati rumah Chiko.


Ghina dan Chiko juga sudah sampai di depan rumah mereka. Namun, mereka dikagetkan oleh kejadian itu.


"Keluarkan semua barang-barangnya dan pastikan tidak akan ada lagi barang Chiko di rumah ini!" ujar seorang wanita yang menjadi pengacara Ghina. Dia adalah Sheila beserta suaminya yang juga ikut terjun membantu Azzura.


"Baik, Bu." Balas beberapa orang.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Siapa yang berani mengeluarkan seluruh barang-barang milikku dari dalam rumah?" ujar Chiko tidak terima dan ia menghadang para orang yang hendak masuk.


"Kalian siapa hah? Berani sekali melakukan tindakan tanpa izin kami. Mau kami laporkan ke polisi?" sentak Ghina bertolak pinggang masih mengenakan gaun pengantin.


"Maaf, tapi kami sudah mendapatkan izin dari pemilik rumah ini untuk mengeluarkan barang-barang milik kalian! Tidak akan ada yang bisa melarang kami karena ini murni perintah dari klien kami. Kalau kalian mau lapor polisi pun silakan, sebab kami sudah mendiskusikan semua ini dengan polisi," tutur Sheila membuat orang-orang yang ada di sana saling berbisik penasaran Apa yang terjadi?


"Tinggu dulu, pemilik rumah? Apa kalian tidak tahu kalau aku lah pemilik rumahnya? Rumah ini atas namaku dan aku yang berhak atas rumah ini bukan orang lain," kata Chiko.


"Tapi di surat perjanjian pranikah, seluruh harta bersama yang Anda miliki dengan saudari Azzura, akan berpindah tangan menjadi milik Azzura semuanya jika nanti Anda ketahuan selingkuh dan berkhianat. Azzura mengajukan pranikah itu beserta surat perceraian bukan? Apa Anda lupa itu, tuan Chiko?" kata Sheila mengingatkan Chiko pada perjanjian hitam di atas putih yang sudah di sahkan oleh negara.


Deg.


"Tu-tunggu! Ini rumah jadi milik Azzura?" kata Ghina tergugu tidak percaya mendengar kenyataannya.


Sheila memberikan surat-surat dan menunjukannya kepada Chiko. Chiko terhenyak penuh keterkejutan, dia lupa pada perjanjian ini.


"Ini tidak mungkin!" gumam Ghina.


"Kasihan sekali, sudah mencuri suami orang dan ternyata hartanya kini milik Azzura," bisik tetangga.


"Itulah karma seorang perebut suami orang. Bukannya untung malah buntung."

__ADS_1


"Astaghfirullah!" ucap mereka bersamaan.


__ADS_2