PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 101. Pendekatan Dengan Miho


__ADS_3

Tidak diduga selama tiga hari di Villa untuk pemotretan berlalu begitu saja menciptakan kenangan-kenangan indah antara Aqila dan Alden.


Bukan hanya kedua calon pengantin yang menciptakan kenangan indah dipuncak, tapi Miho dan Randi juga sempat menciptakan sesuatu yang tidak akan dilupakan seumur hidupnya.


Kenangan memalukan tapi begitu membekas di hati Randi sampai saat ini. Karena memikirkan hal tersebut, Randi sampai tidak bisa tidur padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam.


"Aaakkkhhhh sial, kenapa aku harus jatuh cinta hanya dalam hitungan hari sih? Mana ceweknya jutek banget lagi." Randi mulai mengerutu sendiri karena tidak berdaya dengan hatinya yang tiba-tiba terpikat oleh gadis seperti Miho.


Pria itu mengulum senyum saat teringat kejadian di Villa. Dimana Miho salah masuk kamar dan dia baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sangat pendek.


Wajah memerah Miho sungguh mengemaskan di mata Randi saat itu. Mungkin bisa dibilang itu adalah momen terindah yang Randi dapatkan, terlebih saat Miho mengomel tanpa henti.


"Ah sepertinya aku harus lebih mendekatkan diri lagi," gumam Randi sebelum memejamkan matanya, mencoba untuk tidur meski terasa sangat sulit.


***

__ADS_1


Pagi harinya, Randi begitu cepat bangun hanya untuk mengurus keperluan pernikahan bosnya. Anehnya pria itu terlihat sangat bersemangat padahal bukan dia yang menikah.


"Belanja sesuatu untuk kebutuhan rumah baru Tuan Al dan Nona Qila. Bukan hal yang sulit," gumam Randi sambil mengemudikan mobilnya membelah jalan raya yang masih sengang.


Pria itu sengaja tidak sarapan di rumahnya, karena berencana mampir ke sebuah warung makan untuk menikmati masakan seorang gadis yang berhasil memikat hatinya.


Randi mengucapkan salam sebelum memasuki warung sedehana milik ibu Miho. Pria itu adalah pelanggan pertama karena datang terlalu pagi.


"Eh nak Randi, cari Miho atau mau sarapan?" sapa ibu Miho sangat ramah, berbeda dengan Miho yang memasang wajah juteknya.


Bukannya tersinggung, Randi malah tersenyum menanggapi omelan Miho di pagi hari. Ternyata memang benar, cinta bisa membuat seseorang buta akan kenyataan. Contohnya Randi, mendapat omelan malah menganggap sapaan pagi yang manis.


"Jangan didengarkan Mihonya, dia memang agak ketus sama orang tapi hatinya baik kok Nak. Miho seperti itu cuma mau ngetes sesabar apa pria yang ingin mendekatinya," ujar ibu Miho. Setelah memberi patuh, wanita paruh baya itu segera menyusul Miho ke dapur.


Mengambil alih sesuatu di tangan Miho agar putrinya berhenti bekerja.

__ADS_1


"Keluarlah Nak dan temui Randi. Mama yakin dia datang bukan hanya sekedar sarapan, tapi ingin bertemu sama kamu. Tidak ada pria dengan jabatan tinggi sepertinya mau makan di warung pinggir jalan seperti ini."


Miho menghela nafas panjang, karena tidak ingin membatah, akhirnya gadis itu menemui Randi yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Jabatan tinggi apaan? Dia hanya asisten dari calon suami Qila," cibir Miho tentu saja tidak akan didengar oleh Randi karena suaranya yang sangat kecil.


"Duduklah, aku ingin bicara," ucap Randi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.


"Kenapa?"


"Nona Qila menyuruh aku untuk pergi denganmu memilih perebotan rumah barunya. Tidak percaya?" Randi memperlihatkan chatnya dengan Aqila.


Sebenarnya banyak pesan yang Randi hapus dan menyisakan poin penting saja. Chat paling atas berisi permintaan tolong agar Aqila mengatakan sesuatu sesuai keinginannya.


Entah apa yang terjadi jika Alden mengetahui kalau calon istrinya diperintah oleh asistennya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2