PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 72. Menceritakan Pada Mama


__ADS_3

Alden mandi dengan tergesa. Memilih pakaian santai karena dirinya hanya pergi ke rumah sakit hari ini. Perusahaan telah diserahkan pada Randi.


Orang kepercayaannya yang sengaja Randi tempatkan di rumah sakit mengabarkan jika tadi Viona sempat sadarkan diri walau hanya sekejap. Setelah itu kembali pingsan.


Alden menghubungi Aqila sebelum menuju rumah gadis itu. Dia pastikan dulu kekasihnya telah bangun dan berpakaian rapi saat datang menjemput.


Aqila makan siang sedikit sebelum ke rumah sakit kembali. Gadis itu makan ditemani Mamanya.


"Sayang, kamu sudah baikan dengan Alden?" tanya Mama Aqila hati-hati.


Aqila menghentikan suapannya. Memandangi Mamanya dengan wajah sendu. Mungkin tidak ada salahnya dia mengatakan semuanya. Bukankah Viona juga telah tahu sandiwara mereka.


"Maafkan aku, Ma. Bukannya aku tidak mau jujur, tapi ada satu hal yang membuat aku terpaksa berbohong dengan mama," ucap Aqila.


"Apa kamu sadar dengan keputusan kamu ini, Nak? Bukankah Viona dan Alden akan menikah. Kenapa kamu membuat luka untuk diri sendiri."


"Ma, sebenarnya Alden bukan ayah biologis dari bayi dalam kandungannya Viona," ujar Dea lagi.

__ADS_1


Dahi Mama Aqila tampak berkerut. Tidak mengerti apa yang anaknya katakan. Bukankah hasil DNA positif.


"Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu,Nak. Papa kamu pernah mengatakan jika hasil DNA bayi Viona positif anaknya Alden. Bukankah mereka akan segera menikah? Kenapa kamu masih saja mau berhubungan dengan Alden?" tanya Mama.


"Papa tahu dari mana, Ma?" tanya Aqila heran.


"Mungkin dari Viona."


Kali ini dahi Aqila yang berkerut. Apa Papa dan Viona begitu dekatnya sehingga mengatakan semua yang terjadi dalam hidupnya dengan Papa, ucap Aqila dalam hatinya.


"Ma, sebenarnya anak yang di kandung Viona bukan darah daging Alden."


Aqila lalu mengatakan semua yang dilakukan Viona. Gadis itu juga mengatakan jika kecelakaan terjadi setelah Viona mendengar jika Alden telah mengetahui kebohongannya.


Saat ini Alden masih mencari tahu siapa orang yang membantu Viona. Siapa juga bapak dari anak yang dikandungnya. Mama Aqila mendengar dengan seksama. Tidak percaya jika sahabat anaknya itu bisa melakukan kebohongan besar seperti itu.


"Jika mama tahu, anak yang dikandungnya bukan anak Alden, dan dia sengaja berbohong untuk memisahkan kamu, pasti mama tidak akan membantu penguburan bayi itu," ujar mama Aqila sedikit emosi.

__ADS_1


"Bayi itu tidak bersalah, Ma. Tidak ada salahnya mama dan papa membantu penguburannya."


Saat mereka sedang mengobrol, datang bibi mengatakan jika ada Alden menjemput Aqila. Gadis itu pamit dengan ibu untuk menemui Alden.


Aqila meminta kekasihnya itu masuk. Dia mengatakan jika ibu telah tahu mengenai kebenaran tentang Viona dan hubungan mereka. Alden masuk dan pamit dengan mama.


"Ingat Alden, jadikan semua ini sebagai pelajaran. Jangan pernah mau meneguk minuman keras lagi. Mabuk itu tidak ada manfaatnya," ucap Mama menasihati.


Setelah mengobrol sebentar Alden dan Aqila pamit ke rumah sakit. Mama sebenarnya kurang setuju anaknya masih saja baik dan mau menolong Viona, tapi mendengar alasan Aqila menolong agar tahu dalang dibalik semua ini, mama akhirnya setuju.


Dengan kecepatan sedang Alden mengendarai mobil menuju rumah sakit. Setengah jam perjalanan, sampailah mereka di halaman rumah sakit.


Alden dan Aqila berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruang ICU tempat Viona di rawat.


Sampai di ruang tunggu dekat ruang ICU, langkah kaki Aqila terhenti. Pemandangan yang dia lihat sangat aneh. Papanya berada di rumah sakit, duduk berdampingan dengan ibu dan adik Viona. Mereka tampak sangat akrab.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2