
Sesuai rencana semalam, Azzura sudah bersiap untuk pergi dari rumah itu setelah mengurus suaminya, makanan, pakaian, dan juga membersihkan seluruh isi rumah.
Chiko yang melihat Azzura sedang mengepel lantai tersenyum, tapi dalam hati merasa bersalah sudah melupakan hari jadinya Azzura. "Ini yang aku suka dari Azzura, sekalipun marah dan kecewa, dia tidak pernah sampai kabur dari rumah dan selalu sibuk dalam mengerjakan tugas seorang istri. Azzura, aku minta maaf karena sudah melupakan hari ulangtahun mu, hari ini aku janji akan pulang cepat dan akan memberimu kejutan. Tunggu aku pulang, kita perbaiki semuanya."
Chiko berjalan mendekati Azzura dan ia tiba-tiba memeluk tubuh Azzura dari belakang. Azzura tertegun, tapi ia tidak memberontak kala Chiko memeluknya begitu erat.
"Maaf aku melupakan hari lahir mu. Sore nanti kita akan jalan-jalan dan mengganti waktu yang terlewat."
"Tidak perlu kamu ganti waktu yang sudah hilang dan terlewat, karena saat kamu kembali aku sudah tidak ingin berada di sisi kamu." Azzura hanya berbicara dari dalam hati. Ia tidak akan bilang apa-apa pada Chiko dan hanya akan mengirimkan surat cerai saja. Itupun ketika Chiko tidak ada.
Chiko melepaskan pelukannya dan membawa Azzura berhadapan dengannya. "Apa kamu memaafkan ku?"
Azzura mendongak dan tersenyum manis, "iya, aku memaafkanmu."
"Makasih sayang, kamu memang pengertian." Chiko hendak mengecup bibir Azzura, tapi Azzura menoleh dan hanya kena pada pipinya saja.
"Aku mau lanjut kerja lagi. Kamu hati-hati di jalan dan jangan lupa makan. Aku juga sudah menyiapkan bekal untukmu, semoga kamu suka dan mau memakannya." Di saat hatinya masih terluka, Azzura masih memperlakukan Chiko baik dan ia tidak akan memperlihatkan rencananya.
"Hmmm baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi maafkan aku, Azzura." Chiko menyesal atas sikapnya yang lupa pada istrinya sendiri. Azzura hanya tersenyum, lalu kembali bekerja lagi menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri.
*****
__ADS_1
Kediaman Azzam.
Pun dengan Azzam yang sudah menyiapkan segalanya mulai dari mengemasi barang-barang yang akan di bawa. Hanya pakaian dan pakaianya Azriel.
Ghina masih ada di sana dan ia melihat Azzam sedang berusaha mendorong koper kecil dan tas besar ke dekat taksi yang sudah ada di depan rumah Azzam.
"Aku tunggu surat cerai kita secepatnya!" Lalu, Ghina beranjak pergi dan ia meninggalkan Azzam pergi bekerja.
Azzam hanya memperhatikannya. "Secepatnya, hari ini juga surat itu akan tiba." Lalu, Azzam menghubungi seseorang.
"Tolong segera urus dan segera kirimkan ke alamat xxx!"
Setelah menghubungi seseorang, Azzam hendak masuk ke dalam taksi di bantu oleh sopir taksi. Pas sudah duduk di dalam, ibu-ibu yang melihatnya segera menyapa dan menghampiri.
"Tidak apa-apa, hanya ingin menenangkan diri saja."
"Pasti bertengkar, ya. Sudah saya duga kalau perselingkuhan Chiko dan Ghina ketahuan pasangannya. Pasti Pak Azzam sudah bercerai dengan Ghina."
Azzam terdiam sebentar. "Ibu tahu darimana?"
"Bu Cici melihat mereka berdua di kedai sate pas malam Minggu yang lalu. Neng Azzura juga tahu masalah itu. Tapi saya bersyukur kalau Pak Azzam pisah sama Ghina, biar tidak makan ati."
__ADS_1
"Jadi Azzura sudah tahu lebih dulu, tapi dia diam saja dan tidak bicara apa-apa padaku? Sungguh kuat sekali hatinya, wanita tegar."
"Kalau gitu saya pamit dulu, ya Bu. Mohon maaf kalau saya punya salah, dan titip salam buat pak RT dan para tetangga." Azzam pun pamitan pergi setelah Bu Onih mengangguk.
"Hati-hati ya, pak. Semoga dapat jodoh terbaik dan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari Ghina."
"Aamiin aamiin yarobbal'alamiin."
*****
Kediaman Chiko.
Azzura sudah menyimpan surat cerai di atas meja tamu agar Chiko melihat langsung surat itu. Dia membayar mahal dan juga atas bantuan rekannya mampu selesai dalam waktu singkat.
Azzura memperhatikan rumah baru yang sudah beralih menjadi miliknya. "Aku akan pergi dari hidupmu, Chiko. Maaf, aku tidak bisa bersama lagi dengan kamu setelah apa yang terjadi." Lalu, Azzura menyimpan cincin pernikahan, bukti-bukti perselingkuhan Chiko, dan juga secarik kertas perceraian yang sudah di sahkan oleh negara. Secepat itu? Karena Azzura meminta bantuan dan dengan bantuan uang ia bisa mengurus segalanya.
Lalu, Azzura menyeret kopernya keluar dari rumah mewah itu. "Untuk sementara, aku akan membiarkan kamu tinggal di sini, tapi nanti aku akan mengambil setiap harta yang telah menjadi milikku, kamu sendiri yang berkhianat. Maaf Chiko, aku mengambil semua harta yang kamu miliki." Karena sesuai isi pra nikah, maka Azzura mengalihkan setiap nama yang awalnya milik Chiko menjadi atas nama dirinya.
Lalu, Azzura keluar gerbang. Dan kebetulan Azzam yang ada di dalam taksi melewati rumah Azzura melihat Azzura yang juga sama-sama membawa koper.
"Pak berhenti sebentar!" pinta Azzam pada sopir taksinya. Lalu, Azzam membuka kaca mobil dan memanggil Azzura.
__ADS_1
"Azzura." Wanita yang tadinya menunduk mendongak.
"Mas Azzam!"