PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 71. Ibu Viona


__ADS_3

Ibunya Viona tampak terkejut mendengar ucapan dari Aqila. Anaknya Viona tidak pernah mengatakan jika dirinya telah menikah apa lagi sedang hamil.


Viona jarang pulang ke rumah. Dia tinggal di kontrakan dekat perusahaan milik orang tua Aqila. Wanita itu bekerja di kantor milik Papa Aqila.


Jikapun dia pulang, itu cuma sebentar. Hanya melepaskan rasa kangen. Ibu Marni tidak pernah menuntut anaknya harus sering pulang, karena berpikir anaknya pasti sibuk bekerja.


Aqila mengajak ibu Marni duduk. Dia tidak tahu harus memulai dari mana, mengatakan tentang kehamilan Viona.


"Bu, aku juga tidak tahu kapan Viona menikah. Aku juga tidak tahu apakah dia menikah atau hamil di luar nikah. Tapi aku mohon, ibu jangan masalahkan ini dulu. Yang terpenting saat ini, kita berdoa untuk kesembuhan Viona. Cerita sebenarnya, bisa ibu tanyakan saat dia telah sadar. "


Ibu Marni tampaknya masih syok menerima kenyataan yang dia dengar dan alami saat ini. Viona yang mengalami kecelakaan dan juga sekaligus kehamilannya.


Saat ini Viona masih belum sadar. Keadaannya masih kritis. Aqila yang lelah dan mengantuk karena sudah malam, akhirnya tertidur di pundak Alden. Sedangkan ibu Marni tertidur di ruang tunggu keluarga pasien ruang ICU. Karena lelah dan mengantuk Alden juga tertidur dengan posisi duduk.


***

__ADS_1


Pagi harinya, Aqila terbangun dalam pelukan Alden. Dilihatnya wajah lelah dari pria itu. Melihat keadaan yang masih sepi, gadis itu mengecup pipi kekasihnya. Pria yang selalu ada untuknya dan tidak pernah menolak apapun yang dia inginkan.


Alden terbangun merasakan kecupan basah dari bibir Aqila. Pria itu tersenyum pada gadisnya.


"Kita pulang sebentar ya. Kamu harus ganti pakaian dan istirahat. Ibunya Viona bisa mengganti menjaganya," ucap Alden.


"Aku takut saat kita pulang, Viona sadar."


"Jika dia sadar itu lebih baik. Kamu juga bisa mengobrol setelah berganti pakaian. Lihatlah, kamu tampak sangat kusut."


Alden mengantar Aqila dan setelah itu kembali ke rumah. Baru masuk ke rumah, Randi telah menyambutnya.


"Kenapa kau pagi-pagi ada di sini, bukannya di kantor. Apa kau mau aku pecat!" ucap Alden dengan nada ketus.


Randi hanya tersenyum menanggapi ucapan bosnya yang ketus. Pria itu tahu bagaimana sifat aslinya Alden. Dia hanya bercanda.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyerahkan ponsel Viona yang tertinggal di kafe kemarin."


Randi mengambil ponsel itu saat Viona berlari dari kafe. Pria itu ternyata mengikuti Viona saat tahu wanita itu mengekor mobil Alden. Randi takut Viona melakukan sesuatu.


Alden mengambil. ponsel yang diberikan Randi. Memandangi benda pipih itu lalu Alden mengantonginya.


" Apa Tuan tidak ingin mengetahui apa isi dari ponselnya Viona. Pasti di sana ada rahasia yang selama ini kita butuhkan," ucap Randi.


"Jika nanti aku membutuhkannya, aku akan membuka. Saat ini aku mau istirahat satu jam saja. Bangunkan aku. Jangan lupa. Jika kau tidak membangunkan aku, kau tahu akibatnya," ancam Alden lagi.


Alden berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya yang terasa remuk karena tidur dengan posisi duduk sambil memeluk Aqila.


"Aku harap wanita itu tidak meninggal sebelum mengatakan kebenarannya," gumam Alden dengan diri sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2