PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 91. Miho


__ADS_3

Sepeninggalan Alden ke kantor, Aqila segera mandi dan jalan-jalan di sekitar rumahnya. Toh hari ini gadis itu tidak mempunyai kegiatan apapun. Mengikuti Alden kemana-kamana juga bukanlah pilihan yang tepat. Bukan takut Alden risih tapi ke lebih mengerti saja kehadirannya hanya akan menghambat semua pekerjaan kekasihnya.


Usai mandi dan terasa sangat segar, Aqila mendudukkan diri di ayun-ayunan yang terdapat di rumahnya. Ayunan yang sering kali dia dan ayahnya gunakan jika sedang menghabiskan waktu berdua saja, tapi kini terasa sangat berbeda. Mereka seperti orang asing yang dipaksa tinggal bersama.


"Ya ampun aku hampir lupa sesuatu." Aqila menepuk keningnya ketika teringat sesuatu. Langsung saja gadis itu mengambil ponselnya lalu menghubungi teman yang selama ini sering menjadi tempat curhatnya meski jauh di negara orang.


"Qila apa kau tahu ini tengah malam hm?"


Aqila tertawa tanpa dosa melihat wajah bantal Miho yang seperti enggan untuk bangun. Miho tampak cemberut.


"Aku tahu Miho, tapi aku baru ingatnya sekarang."


"Mau ngomong apa?"


"Aku bakal nikah sama Alden, kuharap kau bisa hadir di pernikahanku. Bukan cuma dipernikahan sih, tapi menemani setiap prosesnya."


Aqila bercerita penuh senyuman, meski tidak terlalu akrab seperti Viona. Gadis itu tidak akan lupa peran Miho dalam hubungannya dengan Alden. Kalau saja bukan nasehat-nasehat Miho mungkin pikiran Aqila belum terbuka juga sampai sekarang.


"Mau ya?" Bujuk Aqila.


"Mau banget Qila, tapi aku belum gajian. Tahu sendiri biaya ke Indonesia berapa."

__ADS_1


"Tenang semua ongkosnya aku yang tanggung, kamu tinggal mengiyakan saja."


"Serius?" Mata Miho berbinar di seberang telpon. Sudah lama gadis itu ingin pulang ke tanah kelahirannya, hanya saja biaya selalu menjadi penghalang.


Alih-alih menggunakan uang untuk pulang. Selama ini Miho lebih memilih mengirimkannya pada ibunya yang lebih membutuhkan.


"Sejak kapan aku pernah berbohong padamu, hm? Besok mau ya? Aku akan menyuruh orang menyiapkan keberangkatanmu."


"Mau banget, makasih Qila. Kamu memang teman terbaik yang aku punya."


"Sama-sama."


***


Randi dengan setia berdiri di samping Alden yang sedang memperhatikan beberapa biodata desainer terkenal untuk mereka rekrut ke perusahaan cabang mereka. Atensi pria itu teralihkan pada benda pipihnya yang tiba-tiba berdering.


"Ck, sudah saya katakan jika sedang penting seperti ini diamkan ponselmu ...!" omel Alden menatap jengah Randi yang kini memegang ponselnya.


"Nona Qila, Tuan."


Alis Alden saling bertaut mendengar nama Aqila disebut. Dan apa ini? Kenapa kekasihnya malah menghubungi Randi alih-alih menghubunginya? Sungguh sekarang Alden dilanda rasa cemburu.

__ADS_1


"Angkat dan keraskan volumenya!"


"Baik Tuan."


Langsung saja Randi menjawab panggilan dari Aqila, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ada yang bisa saja bantu, Nona?" tanya Randi tapi tatapannya tertuju pada Alden yang sejak tadi melayangkan tatapan tajamnya.


Ingin rasanya Randi melempar pria pecemburu itu kedanau kalau saja mempunyai keberanian lebih. Padahal bukan maunya, Qila yang menghubungi duluan.


"Iya aku sangat membutuhkan bantuanmu Randi. Temanku akan berkunjung ke sini dari Korea, apa kau bisa mengurus tentang kepulangannya?"


Alden menganggukkan kepalanya seolah memberi kode agar Randi menyetujui permintaan kekasihnya. Dia bisa menebak siapa yang Aqila maksud.


"Bisa, Nona."


"Terimakasih Randi, aku akan kirim kontaknya. Kau bisa bicara sendiri tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan."


Aqila memutuskan sambungan telpon begitu saja, membuat Alden dengan sigap mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2