PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 92. Cemburu


__ADS_3

"Baru juga aku mau telpon." Senyuman Aqila mengembang ketika melihat siapa yang baru saja menelponnya. Gadis itu lantas menjawab panggilan sang kekasih.


"Pagi menjelang siang calon suami."


"Telponan sama siapa tadi?" tanya Alden padahal jelas-jelas pria itu tahu bahkan mendengar semua yang dikatakan Aqila pada Alden.


Memang dasarnya penyakit cemburu susah dihilangkan, terlebih jika sudah mencintai terlalu dalam.


"Aku baru saja telponan sama Randi, Al. Aku minta tolong buat bantu Miho ke indonesia dalam waktu dekat biar aku ada temannya. Kenapa? Kamu telpon aku tadi?"


"Aku cuma nanya Sayang. Jangan lupa makan siang ya, sampai jumpa nanti malam."


Aqila mengangguk sebagai respon. Gadis itu tersipu malu mendengar kecupan di seberang telpon, Alden benar-benar tahu bagaimana membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


Bosan duduk sendirian di ayunan tanpa dia sadari sejak tadi sang ayah memperhatikan dari lantai dua. Aqila segera masuk ke rumah untuk membantu mamanya menyiapkan sesuatu untuk makan malam nanti.


Makan malam istimewa sebab Alden akan datang untuk melamar sekaligus membicarakan tentang pernikahan.

__ADS_1


"Darimana?" tanya Kinanti setelah Aqila sampai di dapur.


"Habis telponan sama Al, Ma. Mama masak apa buat makan malam nanti? Aku mau bantu sekalian belajar biar lebih ahli lagi masak." Aqila tersipu malu mengatakan hal tersebut pada mamanya, sementara Kinanti hanya bisa tersenyum.


Melihat putrinya begitu bahagia membicarakan pernikahan, adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Kinanti sendiri.


***


"Apa tidak ada lagi yang Tuan butuhkan? Saya bisa pergi sekarang?" tanya Randi ketika tatapan Alden masih tertuju padanya. Padahal masalah Aqila dan dirinya telah selesai beberapa menit yang lalu.


Sungguh Randi ingin berteriak secara langsung pada Aqila agar tidak menghubunginya lagi. Lihatlah, dia sudah seperti ingin dimakan hidup-hidup oleh Alden.


"Randi sialan!" teriak Alden tepat setelah pintu tertutup rapat.


Memang Alden sudah memastikan semua dan Aqila tidak berbohong. Hanya saja pria itu masih tidak rela Aqila menelpon Randi untuk meminta bantuan padahal dia siap siaga kapanpun kekasihnya butuh.


"Bodoh amat Al, hati Aqila hanya milikku. Apalagi sebentar lagi kalian akan menikah."

__ADS_1


Pria itu bangkit dari duduknya untuk menghadiri pertemuan bersama desainer satu persatu untuk memastikan kualitas dan potensi kerja mereka dalam merancang sebuah busana.


Entah untuk gaun pernikahan, pakaian santai sampai pakaian tradisional untuk dipasarkan diluar negeri sekaligus memperkenalkan budaya indonesia pada orang asing.


***


"Halo, dengan Nona Miho?" tanya Randi setelah sambungan telpon terhubung.


Pria itu berada di ruangannya sendiri dan sedang mengerjakan perintah dari Aqila. Randi sejak tadi sudah mengirim beberapa pesan, tapi tidak dibalas oleh Miho, itulah mengapa dia nekat menelpon untuk meminta kelengkapan data.


"Benar dengan saya."


"Saya Randi asisten Tuan Alden. Saya diperintahkan Nona Aqila untuk mengurus nona sampai dengan selamat ke negara ini. Mohon kerjasamanya."


"Salam kenal kak, aku Miho temannya Qila. Senang kenalan dengan kakak dan maaf mengabaikan pesannya sejak tadi. Saya akan segera memgirim data-data yang kakak minta," sahut Miho sangat sopan, membuat Randi semakin penasaran akan sosok bernama Miho.


"Dari fotonya cantik, semoga tidak menyebalkan. Hidupku sudah cukup sulit menangani orang menyebalkan seperti Tuan Alden, jangan ditambah lagi," batin Randi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2