PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 21. Pertengkaran


__ADS_3

Ghina baru saja tiba di rumahnya. Ia tersenyum melihat barang belanjaan yang ia bawa dari hasil memalak Chiko. Bukan dia yang meminta, tapi Chiko yang memberikan secara cuma-cuma. Chiko memberikan uang sebesar lima juta dan Ghina membelanjakan uang itu pada pakaian aneka macam benda yang ingin ia beli.


Setibanya di depan rumah, Ghina mengerutkan keningnya kala ia hendak membuka pintu dalam keadaan terkunci.


"Mas, buka pintunya! Aku pulang!" Ghina mengetuk-ketuk pintu berharap Azzam membukanya. Namun, sudah beberapa kali dia bersuara dan mencoba membukanya, pintu masih tidak di buka juga. Ia pikir Azzam ada di rumah.


"Kemana mas Azzam? Tidak biasanya dia tidak menyahuti ucapan ku?" Ghina mengintip jendela kaca, keadaan di dalam begitu sepi tanpa ada pergerakan dan suara seseorang. Dia juga melirik jam di pergelangan tangannya dan menunjukkan waktu pukul sebelas malam.


"Tidak biasanya dia gini." Ghina duduk di kursi yang ada di teras depan berharap Azzam membuka pintu. "Mas Azzam!" pekik Ghina sedikit kesal dan memukul pintu.


Dia menunggu, tapi dirinya tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan. "Mas Azzam bersama Azzura, kok bisa?" gumam Ghina dalam hati tat kala melihat suaminya sendiri jalan bersama orang lain. Hatinya mendadak panas tidak menyukai hal itu.


Ghina memperhatikan pergerakan Azzam dan Azzura sampai Azzam masuk melewati Pagai rumah. Barulah dia berdiri dan bertanya.


"Mas, kamu habis dari mana dengan Azzura?" tanya Ghina mengagetkan Azzam yang sedang mencoba mendorong kursi rodanya.


"Ghina!" Azzam terperanjat kaget. "Untung saja aku tidak langsung berdiri dari kursi. Jadi Ghina tidak tahu kalau aku sudah bisa berjalan lagi." Yang Azzam pikirkan hanya tidak ingin di ketahui kesembuhannya. Dia ingin melihat bagaimana Ghina bersikap dan ingin tahu cara wanita itu memperlakukannya.

__ADS_1


"Kamu habis darimana dengan istrinya Chiko? Ini malam dan kamu baru pulang membawa Azriel juga? Apa kalian ada hubungan di belakangku?" cerca Ghina ingin tahu kemana mereka pergi dan habis ngapain.


Azzam meneruskan perjalanan kursinya melewati Ghina begitu saja. Ghina tidak terima dan segera menarik kursi roda yang Azzam duduki sampai kursi itu berhenti bergerak.


"Aku tanya kamu habis dari mana, Mas? Telingamu tuli? Udah tidak bisa jalan telinga pun ikut tuli, ya?"


Azzam menatap Ghina dengan tatapan tak biasa. Terlihat dingin dan menusuk. "Apa peduli mu? Mau aku darimana pun kamu tidak perlu tahu. Toh, kamu juga pergi dan baru pulang 'kan? Sekarang aku tanya sama kamu, habis dari mana dan pergi dengan siapa jam segini baru pulang?"


Azzam membalikkan perkataan Ghina seakan ia mengingatkan jika Ghina juga pergi dengan orang lain.


"Cukup Ghina! Kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi. Kamu semakin hari semakin berubah dan malah berkhianat. Pulang malam, pergi malam, datang membawa barang-barang, apa namanya kalau kamu mulai berubah dan melakukan tindakan hina."


"Apa maksudmu, Mas? Kamu bilang aku hina dan menuduhku sebagai wanita pembohong dan wanita murahan?" Ghina tersulut emosi karena ia bingung harus berkata apa lagi di saat Azzam mulai mencurigai tindakannya.


"Aku tidak bilang kalau kamu pembohong dan murahan, tapi jika kamu bilang seperti itu, itu artinya kamu memang murahan dan pembohong besar!" pekik Azzam sambil membuka kunci pintu rumah dan masuk seraya memangku Azriel.


"Mas, kamu bilang apa? Aku tidak mengerti?" Ghina seakan mendadak bodoh dan tidak ingin mengakui kesalahannya.

__ADS_1


Azzam menoleh menatap tajam. "Kamu berselingkuh di belakang ku dan itu artinya kamu menginginkan perpisahan diantara kita. Jadi, kamu pilih saja pria yang kamu jadikan tempat perlindungan dan pasangan barumu dan mulai hari ini kita bercerai. Kamu, Ghina Naysila bukan lagi istriku dan aku talak kamu dengan talak tiga! Haram bagiku untuk menyentuhmu dan sekarang kita bukan lagi suami istri!" suara lantang Azzam begitu menggema mengagetkan Ghina yang diam mematung tanpa suara.


Deg.


Tidak ada keraguan dalam diri Azzam kala mengucapkan kata perpisahan yang seharusnya ia lakukan sejak tadi siang. Tidak ada kata menyesal ataupun keberatan di saat Azzam mengucap kata talak tiga. Seketika, hati Azzam mendadak plong saat sudah mengeluarkan kata keramat itu. Ini keputusannya, ini keyakinannya setelah mempertimbangkan segalanya, dan ini hal terbaik untuk mereka berdua. Pantang bagi Azzam bertahan dalam mahligai rumah tangga penuh kebohongan, pengkhianatan, dan perzinahan yang di lakukan istrinya.


"M-mas, kamu!" Ghina tidak percaya kalau suaminya sudah berani berkata talak.


"Kenapa? Kamu tidak terima? Aku tidak ingin melihat kamu lagi, rasanya aku jijik membayangkan wanita yang sudah menjadi istriku bermesraan dengan pria lain. Aku tidak sanggup untuk memaafkan segala kesalahanmu, Ghina."


"Tapi, Mas. Aku tidak se ..."


"Tidak selingkuh? Lalu itu tanda apa di lehermu? Tanda cat? Tanda merah di gigit semut? Aku tidak bodoh dalam hal itu. Aku meyakini adanya perselingkuhan dan aku tidak ingin terus menerus berada satu atap dengan wanita pezina seperti mu."


"Kamu pikir aku mau hidup terus bersama pria cacat seperti mu? Kamu pikir aku bahagia bersama suami yang hanya bisa menyusahkan ku? Aku juga capek. Syukurlah kalau kamu menceraikanku, itu artinya aku tidak perlu lagi mengurusi pria cacat dan menyusahkan sepertimu!" balas Ghina mengeluarkan segala yang ia rasa.


"Ghina, kamu!"

__ADS_1


__ADS_2