
Tidak terasa hari pernikahan Alden dan Aqila telah diambang pintu. Tepatnya besok pagi Alden akan mengucapkan ijab kabul.
Mama Kinanti sedang duduk bersama Papa Joan. Aqila hanya mengintip dari lantai. Dia tidak ingin mendengar apa yang kedua orang tuanya bicarakan. Qila takut sedih jika ternyata hanya mendengar perdebatan mereka.
Bagi seorang anak, seburuk apapun kelakuan ayahnya, dia tetaplah ayahnya. Tidak akan bisa diganti.
"Aku ingin setelah pernikahan Aqila kamu pergi dari rumah ini. Kita telah sah bercerai baik secara agama dan negara. Jika aku tidak mengusirnya dengan paksa karena aku masih menjaga perasaan Aqila. Dia pasti akan sedih melihat pertengkaran kita."
"Baiklah, Kinanti. Aku tahu semua ini salahku. Tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan. Semua hancur karena kesalahanku sendiri. Aku mohon maaf karena tidak bisa menjadi suami yang baik dan juga ayah yang membanggakan anakku. Tapi percayalah Kinanti, kamu dan Aqila tetap bertahta dihatiku. Kalian berdua tetap ratu dihati ini."
Setelah cukup lama berbincang berdua, akhirnya Mama dan papa menuju kamar mereka masing-masing. Aqila juga masuk kekamarnya.
__ADS_1
"Tuhan, mungkin ini yang terbaik bagi aku dan mama. Aku terima semua takdir darimu dengan ikhlas. Lancarkan semua acaraku besok," ucap Aqila sebelum tidur.
***
Di tengah sebuah gedung telah duduk berhadapan seorang pria tampan bernama Alden Leon Wesley dan pria paruh baya bernama Joan. Didampingi keluarga inti.
Pembawa acara telah memulainya dengan meminta seseorang melantunkan ayat suci Al-quran. Setelah itu acara dilanjutkan dengan kata sambutan atau sepatah kata dari Joan sebagai orang tua.
Joan memegang mic dengan gemetar. Sebenarnya dia tak sanggup bicara karena rasa harunya melepaskan putri kesayangan. Joan menarik napasnya sebelum bicara.
Bahagia dan terharu karena putri kesayangannya akan menikah. Sedih karena, setelah ini mungkin dia akan jarang bertemu putrinya. Joan ingin kembali ke desa. Entah kapan dia bertemu keluarganya lagi. Karena untuk datang lagi pasti akan malu.
__ADS_1
"Alden Leon Wesley, saya mungkin memang bukan ayah terbaik, tapi saya selalu berusaha menjadi yang terbaik buat putriku. Untuk itu saya ingin kamu mendengar sedikit curahan hati saya," ucap Joan. Dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Alden ketahuilah, saya pria pertama yang memeluk putri saya Aqila Khaleesy, bukan kamu. Saya adalah orang pertama yang menciumnya, bukan kamu. Saya orang pertama yang mencintainya, bukan kamu," ucapnya sambil terlihat menyeka air mata.
"Tapi saya harap kamu adalah orang yang bisa bersama Aqila selamanya. Jika suatu hari kamu tidak mencintainya lagi, jangan katakan itu kepadanya. Sebagai gantinya, katakan kepada saya. Saya akan datang dan membawanya pulang," ucap Joan lagi dengan menyeka air matanya.
"Jika suatu saat dia berbuat salah beritahu saya, biar saya yang nasehatin. Sampai detik ini saya tak pernah sekalipun memarahinya. Saya tak rela jika ada pria yang memarahi putri kesayangan saya ini." Joan kembali menyeka air matanya.
"Akhirnya saat yang dinanti tiba juga, tapi ditakuti oleh seorang ayah dan ibu. Perasaan bercampur baur antara senang dan sedih. Bimbang dan kasihan saat melepaskan genggaman pada anak perempuan yang digendong sejak kecil lalu diserahkan pada seorang pria yang sebentar lagi dipanggil suami." Suara Joan makin hilang karena tangisannya.
"Saya selalu mengharapkan putri kami dijaga dengan baik sama seperti kami menjaga dia. Melindungi martabat, aurat dan akidahnya. Saya titipkan putriku padamu. Tolong jaga putriku, bahagiakan dirinya. Doaku, semoga keluarga yang akan kamu bina dengan putriku kekal dan bahagia selamanya."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Joan duduk. Tampak air mata jatuh membasahi pipinya.
...****************...