
Randi berjalan mendekati Miho dan wanita paruh baya itu. Berdiri tepat dibelakang gadis itu. Ibu itu memandangi Randi dengan mata menyipit. Berusaha mengenali.
Ibu Miho melepaskan pelukan mereka. Tersenyum pada pria itu. Miho yang melihat ibunya tersenyum, membalikkan badan. Melihat Randi yang tersenyum simpul.
"Siapa laki-laki yang bersamamu ini? Apakah calon menantu ibu?" tanya Ibu Miho masih dengan tersenyum.
Mendengar pertanyaan ibunya, Miho tampak kaget. Dipandangi Randi dengan cemberut. Bagaimana mungkin pria itu masih tetap berdiri dengan tersenyum saat ibunya mengira mereka sepasang kekasih.
"Bukan, Bu. Aku dan Randi baru kenalan. Kebetulan dia teman dari temanku," jawab Miho dengan gugup.
Randi lalu maju dan menyalami ibu Miho dengan menyebut namanya. Wanita paruh baya itu tidak berhenti tersenyum melihat kesopanan pria itu.
"Ajak temanmu masuk. Apa kalian sudah makan?" tanya Ibu Miho.
"Belum, Bu. Aku lapar banget." Miho memeluk lengan ibunya. Randi mengikuti dari belakang.
Ibu Miho mempersilakan Randi duduk di salah satu meja. Warung makan itu sangat sederhana. Namun, tampak bersih dan cukup ramai.
Ternyata warung makan ini milik ibu Miho. Ibunya membuat dengan uang kiriman Miho. Biasanya Ibu Miho bekerja di salah satu rumah makan sebagai juru masak.
__ADS_1
Ingin merubah nasib, Miho merantau. Semua sisa gajinya dikirim buat ibu. Di korea gadis itu menghemat semua pengeluarannya. Uang yang dikirim, dibuat ibunya untuk modal membangun warung rumah makan sederhana.
Ibu meminta karyawannya untuk menyediakan semua menu ke meja yang berada dekat Miho dan Randi. Setelah semua menu tersedia, ibu mempersilakan keduanya makan. Ibu juga ikut makan bersama.
Miho mengatakan pada ibunya, Randi yang menolong semua kepengurusan dokumen buat kembali. Dan biaya buat kembali ke Indonesia ditanggung temannya Aqila.
"Terima kasih Nak Randi, karena telah mau direpotkan Miho," ucap Ibu tulus.
"Aku cuma menjalankan perintah, Bu. Aku bekerja dengan calon suami sahabatnya Miho," jelas Randi.
Miho lalu mengatakan jika Aqila itu kenalannya di Korea. Apartemen yang dia tempati saat ini juga gratis karena Aqila yang telah membayar.
"Baik banget Aqila itu. Ibu ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih."
Mereka bertiga menyantap hidangan dengan lahap. Tanpa sadar Randi telah menambah nasi hingga dua kali. Miho tersenyum melihat pria itu yang tanpa malu menyantap semua yang dia suka.
Menyadari ada yang menatap dirinya, Randi mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Miho.
"Maaf, Bu. Masakannya enak banget. Aku tambah beberapa kali nih," ucap Randi dengan suara pelan karena malu.
__ADS_1
"Tidak apa Nak Randi. Ibu bahkan senang melihatnya," ujar Ibu.
"Apa Ibu yang memasak semua ini?" tanya Randi.
"Iya, paling nanti dibantu yang lain."
Ibu Miho mempekerjakan 4 orang di warungnya. Dua orang membantu dia masak di dapur. Dua orang buat melayani.
Setelah makan siang, Randi membantu Miho mengeluarkan semua barangnya yang berada di bagasi mobil. Pria itu membantu mengangkat ke rumah Miho yang berada di samping warung.
Randi pamit setelah dengan ibu Miho setelah membantunya. Ibu Miho tampaknya sangat menyukai Randi. Pria itu sangat sopan.
"Terima kasih Nak Randi. Seringlah main ke sini," ucap Ibu saat Randi pamit pulang.
"Kalau Miho-nya tidak keberatan, Bu," ujar Randi.
Miho langsung memelototi Randi mendengar ucapan pria itu. Asisten Alden itu hanya tersenyum.
Randi masuk ke mobil dan menjalankan dengan kecepatan sedang. Tampak senyum selalu tersungging dari bibirnya.
__ADS_1
"Semoga saja Miho belum memiliki kekasih. Ibunya juga sangat baik," ucap Randi pada diri sendiri.
...****************...