PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 80. Jangan Buang Air Matamu


__ADS_3

Kinanti menghampiri putrinya yang duduk di lantai dengan air mata terus saja mengalir. Rasa benci wanita itu pada suaminya semakin besar melihat bagaimana terlukanya Aqila saat ini.


"Bangun Sayang, jangan buang-buang air matamu hanya karena masalah mama dan papa!" bujuk Kinanti membimbing putrinya agar segera berdiri, terlebih lantai sangat dingin. Entah karena angin malam, ataupun Ac.


"Mama?"


"Mama baik-baik saja selama kamu tidak bersedih." Kinanti tersenyum meski hatinya terasa sakit karena perbuatan pria yang dia percayai selama ini.


Wanita paruh baya itu memeluk putrinya dan membimbing ke kamar, hal itu membuat Joan menatap nanar kepergian dua perempuan yang dulunya sangat menyayangi dirinya.


"Aku memang bodoh karena menyakiti kalian berdua. Harusnya aku tidak tergoda pada wanita diluar sana, terlebih kamu selalu memenuhi semua keinginan aku," lirih Joan penuh penyesal.


Namun, penyesalannya sudah terlambat dan tidak berguna lagi, sebab tidak ada yang ingin menerimanya. Entah itu istri sendiri atau putrinya.


***

__ADS_1


Mungkin sebutan tidak tahu malu adalah hal yang patut menjadi julukan untuk Joan saat ini. Meski Kinanti telah terang-terangan mengatakan akan mengajukan surat perceraian ke pengadilan, Joan tetap saja tinggal dirumah mewah meski tidak diajak bicara oleh siapapun seperti saat ini.


Sarapan bersama sedang terjadi di meja makan, Kinanti segaja mengundang Alden untuk ikut serta.


"Mau ini juga?" Tawar Aqila menunjuk udang krispi kesukaan Joan.


Alden melirik pria paruh baya itu yang tampak bergeming sambil menyantap sarapannya. Pria itu mengangguk karena memang pada dasarnya Alden juga menyukainya udang krispi.


"Boleh."


"Ambil yang banyak Nak, tante punya banyak stok kok. Apalagi sekarang nggak bakal ada yang makan. Pokoknya kamu harus sering-sering ke rumah nemenin Aqila ya," celetuk Kinanti terus memberikan udang kepiring Alden.


Pria itu mulai menyantap sarapannya dan sesekali melirik Aqila yang matanya terlihat sembab, mungkin habis menangis karena hari ini mereka bertiga akan ke pengadilan untuk mengurus perceraian.


"Setelah dari pengadilan mungkin tante mau mampir keperusahaan Al. Mulai besok tante akan kembali memasuki dunia bisnis, sayang kalau perusahaan sebesar itu dipengang oleh orang asing," ucap Kinanti sekalian menyindir Joan, tetapi yang disindir tampak acuh.

__ADS_1


"Tante butuh bantuan?"


"Nanti kalau Tante butuh pasti telpon kamu. Ah iya, kapan rencananya kalian akan menikah?"


Alden dan Aqila sontak saling tatap, tidak menyangka dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kinanti. Keduanya untuk sekarang berjanji tidak akan membicarakan tentang pernikahan sebab tidak ingin bahagia diatas penderitaan mamanya.


"Mungkin masih lama Tante, Aqila juga katanya masih belum terlalu siap."


"Jangan ditunda-tunda niat baiknya Nak. Harus dibicarakan dari sekarang, takutnya malah ada halangan lagi seperti yang sudah-sudah."


"Aku sudah selesai," ucap Joan tiba-tiba.


Namun, tidak ada satupun yang menyahut di meja makan. Aqila diam saja, sementara Alden sibuk berbicara dengan Kinanti yang berubah menjadi wanita cerewet, padahal sebelumnya sangat pendiam dan ikut arus keputusan dari sang suami.


Akan tetapi kali ini Kinanti mengambil langkah besar tentang pernikahan putri mereka tanpa meminta persetujuan Joan lebih dulu. Toh Kinanti tidak membutuhkan Joan lagi. Ada tidaknya pria itu dalam hidupnya, tidak akan ada yang berubah. Rasa kecewa tetap bersarang di dalam hati.

__ADS_1


Entah bagaimana respon Aqila saat tahu kalau ini bukan pertama kalinya Joan selingkuh.


...****************...


__ADS_2